Aku Keturunan Dewi Makan?

Aku Keturunan Dewi Makan?
Bab 35 : Pelarian


__ADS_3

Malam itu, ketika purnama baru melebarkan sayapnya, Hans masuk melalui jendela. Baru saja kakinya menginjak lantai, matanya terbuka lebar karena terkejut.


"Nona Retia?"


Hans meragu, hanya ada sepasang sepatu tanpa badan di sana. Berlarian ke sana kemari dan menyusun buku-buku di atas kasur kemudian menutupnya menggunakan selimut, seolah-olah ada yang tidur di atasnya.


"Tunggu sebentar!"


Suara teriakan itu terdengar seperti suara Retia. Tidak, itu benar-benar suara Retia. Hans kini menjadi yakin, sepatu yang sejak tadi berlarian ke sana kemari adalah Retia, meskipun tidak tahu mengapa dia menjadi tak terlihat.


Laci meja terbuka, sebuah kain hijau dilemparkan oleh Retia kepada Hans.


"Kamu juga pakai itu," perintahnya.

__ADS_1


Hans mengedarkan pandangannya, memperhatikan tiap detail kecil di kain hijau tipis yang memiliki satu bintang biru yang terukir simbol-simbol sihir kuno di atasnya. Hans yakin bahwa apapun benda ini, pembuatnya pastilah Khan.


"Apa ini?" tanya Hans.


Retia terdiam sejenak, "Kain apa itu? Entahlah aku juga tidak tahu," jawabnya. Retia tak sengaja menemukannya di dalam gudang tua sewaktu mencari bahan baku sabun yang kehabisan stok, dan secara tak sengaja menemukan kegunaannya sewaktu menekan bintang biru yang tersulam.


"Apa... kita akan melakukan hal buruk?"


Hans kembali bertanya, tetapi Retia tidak menanggapi. Hans tak punya pilihan lain selain mengenakan kain hijau itu seperti yang Retia mau.


"Ba-bawa aku ke bawah, gendong aku," katanya malu. Meski dia tidak terlihat, Retia tetap menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan.


Hans menghela napas, merunduk di depan Retia dan menggendong tubuh gadis yang ringan itu. Hans merasa sedang menggendong hantu yang tidak terlihat, begitu juga dengan Retia, dia merasa digendong oleh hantu keluar dari kota Kansas dengan kecepatan yang tak kalah dari sebuah mobil.

__ADS_1


Mereka berdua lolos dengan mudah melewati benteng kota dan para penjaganya yang mengantuk. Jalur yang ditempuh oleh Retia dan Hans adalah jalur sungai, itu jalan terbaik untuk tidak tersesat. Sebelumnya, Hans sudah membuat perahu secara diam-diam seperti apa yang diminta oleh Retia, mereka menaiki itu untuk kembali ke kota Sorrow.


Perasaan senang membodohi para penjaga membuat keduanya tidak siaga. Saat perahu mereka melewati dahan pohon yang merangkul sungai, mereka tidak menyadari kehadiran sepatu kulit yang menggantung di udara tanpa badan.


Sepatu itu milik Marthin, yang ditugaskan untuk melaporkan jika saja ada penduduk atau pekerja yang mencoba melarikan diri. Marthin menggunakan kain hijau yang sama untuk kamuflase, dan segera pergi untuk melaporkan situasi kepada Ron yang saat ini menjadi pemimpin sementara Kansas.


"Tuan Ron, apa perlu Saya kejar mereka?" tanya Marthin di kantor balaikota Kansas tempat Ron mengurus dokumen-dokumen dan laporan keuangan yang masuk.


Ron terdiam sebentar, memainkan janggutnya sembari menatap ke luar jendela ke arah hutan tempat Retia dan Hans melarikan diri.


"Tidak, kita tidak akan mampu menghentikan mereka karena ada Hans. Untuk saat ini kita hanya bisa mengirim prajurit untuk melacak dan memprediksi arah tujuan mereka. Aku akan mengirim surat tersegel kepada Tuan Khan, sisanya mohon bantuannya," kata Ron.


"Baik!"

__ADS_1


Marthin pergi ke barak dan memulai rapat militer pertama resimen ksatria Kansas.


__ADS_2