Aku Keturunan Dewi Makan?

Aku Keturunan Dewi Makan?
Bab 5 : Keturunan Dewi Makan?


__ADS_3

"...dan satu-satunya jalan keluar dari dunia itu adalah dengan menjadi Ratu Memasak. Jadi ..."


Melihat tulisan itu Retia menjadi teringat dengan tulisan di atas altar, di sana juga tertulis hal serupa, "Jadilah Ratu Memasak, apa maksudnya?" batin Retia bertanya-tanya.


Tidak ada pilihan lain. Retia keluar dari ruangan tersebut dengan membawa buku resep masakan kuno itu dan frying pan yang baru, karena yang lama sudah penyok dipukulkan ke kepala Hans.


Hans masih ada di tempat itu, masih mengikat Tyranwing seperti pertama kali mereka bertemu. Sama seperti sebelumnya juga, Hans nampak terkejut ketika Retia keluar dari ruangan rahasia.


"Kamu! tadi kamu bilang aku 'Keturunan Dewi Makan'. Apa itu Dewi Makan?" Retia berteriak memanggil Hans menyadarkannya dari keterkejutan, kemudian bertanya padanya.


"Anda tidak tahu? Anda bukan Keturunan Dewi Makan?" Hans balik bertanya.


"Siapa itu Dewi Makan?!" tanya Retia, membentak sambil mengancam Hans dengan penggorengan, lagi.


"Dewi Makan, ya... Dewi Makan. Anda menanyakan pertanyaan yang aneh, bukankah harusnya sesama Dewi lebih tahu tentang itu dari pada Saya?"


Retia terdiam sejenak, dia tidak tahu mengapa Hans terus-menerus menyangkanya sebagai Dewi, padahal dia tidak melakukan sesuatu yang spesial selain memukul kepalanya dengan frying pan. "Apa hanya para Dewa yang boleh memukul kepala?" batin Retia.


Jika dibiarkan seperti ini, kesalah pahaman akan terus berlanjut, karena itu Retia berpikir untuk berpura-pura menjadi seorang Dewi saja, dengan begitu tingkat bahaya yang menghampirinya juga akan mengecil. Sangat bagus jika Retia dapat dilayani bagai seorang Ratu di dunia dongeng. Selain disembah tentunya.


"Tentu saja aku tahu, Aku hanya bertanya karena ingin mengetahui bagaimana orang di dunia ini mengenal Dewi Makan kami tercinta." Retia berbohong, jika dirinya adalah keturunan Dewi Makan, akan sangat bagus untuk menaikan derajat Dewi Makan agar keistimewaan itu juga terturun padanya.


"Ah, jadi begitu. Kalau begitu... akan Saya tuntun jalannya. Namun, sebelum itu, bisakah Saya menyelesaikan mengikat ini dulu?" tanya Hans yang mulai melepas ranselnya.

__ADS_1


"Ya, cepatlah." Retia memberi perintah.


Hans tanpa menjawab segera menyelesaikan ikatannya. Membuka ransel kemudian mulai memasukkan Tyranwing dari arah kepalanya. Menakjubkan, ransel kecil itu dapat memuat Tyranwing yang besarnya puluhan kali lipat lebih besar. Retia mendapatkan harapan tinggi, bahwa di dunia aneh ini terdapat semacam sihir dan jika ada sihir hewan fantasi seperti Unicorn dan Pegasus pasti ada.


Retia tak sabar untuk melihat hewan cantik itu dengan kedua matanya sendiri dan jika beruntung mungkin ia bisa mengendarainya. Terdengar seperti impian kosong jika di Bumi, tetapi di sini... sepertinya apapun bisa terjadi, kan?


"Bolehkah Saya tahu, bagaimana harusnya Saya memanggil Anda?" tanya Hans yang sudah siap untuk berangkat.


"Retia, tolong panggil aku, Nona Retia," jawab Retia. Dadanya membusung, walaupun tipis tetap saja itu membusung.


"Baik, No-na Re-tia, benar? Kalau begitu, akan Saya ceritakan tentang kisah Dewi Makan sambil berjalan."


"Ke mana?"


"Kuil Dewi Makan."


Sekitar enam puluh enam tahun yang lalu, seorang Dewi turun ke sebuah Desa kecil bernama Glagash. Dewi itu sangat menyukai makan dan memasak, karena itu orang-orang mulai memanggilnya sebagai Dewi Makan. Dikatakan bahwa makanan apapun yang dibuat dan dimakan oleh Dewi Makan maka rasanya akan sangat luar biasa.


Dewi Makan disebut merupakan sosok yang sangat baik, dia membagikan resepnya kepada orang-orang tanpa mengambil apapun sebagai balasan. Kebaikannya itulah yang membuat banyak orang takjub dan jatuh hati. Salah satunya adalah Raja terdahulu, Maleon Ragnald. Dia sangat tergila-gila dengan Dewi Makan.


Namun, belum genap satu tahun sejak kedatangannya ke dunia ini, Dewi Makan tiba-tiba menghilang. Dewi Makan muncul dari udara hampa dan kemudian menghilang kembali menjadi udara.


Banyak orang-orang yang mulai mencari keberadaan Dewi Makan, tetapi tidak satupun dari mereka yang menemukannya. Salah seorang warga Desa Glagash menuduh Raja Maleon Ragnald mengurung Dewi Makan setelah pernyataan cintanya ditolak, begitu juga dengan sebaliknya. Warga Desa Glagash dituduh telah meracuni pikiran Dewi Makan sehingga sang Dewi kembali ke Alam Dewa oleh para Bangsawan pendukung Raja Maleon Ragnald.

__ADS_1


Ke dua kubu saling memanas hingga sang Raja memberi Perintah dengan bersumpah kepada Jiwa Raja-Raja terdahulu. Isi perintah itu adalah untuk mengisolasi warga Desa Glagash dan menutup semua aksesnya ke kota-kota.


Warga Desa Glagash tidak terima, khususnya mereka yang fanatik terhadap Dewi Makan, seratus dari mereka diam-diam menyelinap dan berhasil membunuh seluruh keturunan Raja kecuali Pangeran ke dua, Matiger Ragnald, yang waktu itu sedang tidak di Istana. Walaupun pada akhirnya seratus orang tersebut juga mati ditangan para Penjaga. Raja Maleon tetap tidak terima dengan apa yang terjadi. Beliau kemudian menurunkan sumpah dan mengutuk Desa Glagash dengan mengorbankan nyawanya sendiri.


Lalu sekarang, Desa Glagash sudah tidak ada lagi, berganti nama menjadi wilayah terlarang atau wilayah terkutuk. Yang lebih dikenal dengan nama Area Reona. Diambil dari nama sang Dewi Makan, yaitu Reona Anggraini.


•••


Mendengar cerita Hans, Retia menjadi yakin kalau Hans tidak gila dan benar adanya kalau dirinya adalah Keturunan Dewi Makan, karena sang Nenek bernama Reona Anggraini. Namun, Retia masih sangat penasaran kenapa Hans bisa mengenalinya dan mengapa ekspresi Hans menatapnya dengan jijik ketika mereka baru bertemu, bahkan sekarang Hans masih menghindari menatap dirinya langsung.


Retia sangat-sangat penasaran.


Kelinci bertanduk, Ular kecil bersayap, Rusa dengan bunga di tanduknya, ada banyak sekali Hewan tidak biasa sepanjang perjalanan. Retia terus mengamati dengan rasa kagum, juga penyesalan karena tidak dapat mengabadikan makhluk-makhluk itu ke dalam gambar.


Hans berdiri di atas tebing batu, kemudian berkata, "Ini dia, Desa Glagash yang terkutuk."


Retia berjalan menaiki tebing batu, berdiri berdampingan dengan Hans, tepat di bawah mereka, terdapat sebuah Desa yang semua bangunannya hancur dan terbengkalai. Namun, ada satu bangunan yang masih berdiri megah, di depan bangunan itu terdapat sebuah batu hitam yang sangat besar dan juga ratusan kuburan.


"Anda melihat bangunan yang masih bagus di sana? Itu adalah Kuil Dewi Makan. Sedangkan kuburan yang mengelilingi Kuil adalah kuburan para pengikut Dewi Makan." Hans kembali menjelaskan.


"Kalau begitu, mari kita turun," ajak Hans, tetapi Retia merasa ada yang tidak beres dengan cara berpikir Hans. Entah Hans memang orang yang berani atau memang tidak punya pikiran, dan untuk memastikan itu, Retia bertanya pada Hans, "Apa tidak masalah kita ke sana? Bukannya tadi kamu bilang Desa itu dikutuk?"


"Ah, Anda benar. Sayangnya kutukan itu tidak berlaku untuk para Dewa-Dewi. Jadi, tidak ada yang perlu ditakutkan."

__ADS_1


"Bagaimana kamu yakin akan hal itu? Apa ada Dewa atau Dewi lain yang pernah ke mari?" tanya Retia serius. Jika benar ada Dewa atau Dewi lain yang pernah ke sini, itu berarti ada orang dari Bumi selain dirinya.


••••••••


__ADS_2