Aku Keturunan Dewi Makan?

Aku Keturunan Dewi Makan?
Bab 6 : Rahasia Para Dewa


__ADS_3

"Bagaimana kamu yakin akan hal itu? Apa ada Dewa atau Dewi lain yang pernah kemari?" tanya Retia serius. Jika benar ada Dewa atau Dewi lain yang pernah ke sini, itu berarti ada orang dari Bumi selain dirinya.


Entah itu berarti baik atau buruk. Namun, jika ada orang lain, situasi ke depannya sepertinya akan sangat rumit.


"Tidak, hanya Dewi Makan yang datang dalam seratus tahun terakhir," jawab Hans santai.


Retia sedikit merasa lega. Sejujurnya ada sedikit rasa takut ketika mendengar ada orang lain dari Bumi yang ada di sini. Dilihat dari bangunan yang ada di Desa Glagash, Retia dapat memastikan kalau tempat ini jauh lebih mundur dari Bumi. Jika ada orang lain selain dirinya di dunia ini dan orang itu memanfaatkan pengetahuan dari Bumi untuk mendapatkan kekuasaan, Retia mungkin dalam bahaya karena berpotensi melakukan hal yang sama.


"Kalau begitu, bagaimana kamu bisa tahu kalau para Dewi tidak bisa terkena kutukan?" Retia kembali bertanya.


"Anda suka menanyakan pertanyaan yang aneh, ya? Bukankah Anda saat ini tidak terkena kutukan? Kutukan yang dirapalkan oleh Raja terdahulu itu meliputi satu daerah penuh, itu juga alasan bukan cuma Desa Glagash yang diisolasi," jawab Hans.


Langkah Hans dan Retia mulai miring, kini mereka telah menuruni bukit.


"Kutukan macam apa itu?" Retia kembali bertanya. Takut kutukan itu berada di bagian tubuhnya yang tak terlihat atau bahkan kutukan itu hanya berjalan lambat padanya.


"Racun Magis, itu dapat membuat mutasi fisik dan gangguan fisik pada tubuh Makhluk Hidup. Anda melihat sendiri bukan? Hewan-hewan di tempat ini semuanya memiliki kesamaan."


"Mereka mempunyai cangkang di salah satu bagian dari tubuh mereka?"


"Tepat sekali. Cangkang itu adalah salah satu bentuk dari mutasi fisik yang paling banyak terjadi, sisanya tubuh mereka digerogoti oleh bunga parasit dan yang lain menumbuhkan tanduk dan sayap kecil di bagian-bagian tubuh tertentu."


"Jadi itu sebabnya Hewan-hewan di sini sangat aneh, apa di luar wilayah Reona ini, Hewan-hewannya masih normal?" batin Retia, tetapi tetap memilih untuk menyimpan rapat-rapat pertanyaannya. Tidak ada orang yang menyukai spoiler di dunia ini.


Retia ingin bertanya lebih jauh lagi kepada Hans tentang kutukan itu, tetapi ketika melihat tangan Hans yang berbalut cangkang baja, Retia mengundurkan niatnya dan memilih diam walau harus merasa canggung.


•••


Desa Glagash benar-benar telah mati. Macam kota runtuh yang bahkan tidak layak untuk ditinggali. Tumbuhan dan kuburan berserakan di sana sini. Mengerikan, sepi mencekam. Tidak ada seorang pun selain Hans dan Retia. Keduanya terus berjalan lurus mengikuti jalur jalan bata, walau kadang harus memutar ketika menemui suatu makam di tengah jalan. Entah orang gila mana yang menguburkan jen*zah di sana.


Retia sedikit terganggu dan merasa takut. Pikirannya mulai aneh, ilusi mempermainkan persepsi psikologinya. Kadang Retia membalikan pandangannya ke belakang karena merasa sedang diawasi, kadang pula ia terkejut mendengar suara hatinya sendiri.


Akhirnya mereka sampai ke Kuil Dewi Makan. Tidak ada yang spesial di luar Kuil tersebut, tetapi di dalamnya cukup unik karena daripada Kuil pemujaan, tempat itu lebih seperti sebuah restoran atau warung makan dengan banyak meja dan bangku yang dijejerkan saling berhadap-hadapan.


"Apa ini... bukannya kamu bilang tempat ini Kuil? Kenapa dalamnya terlihat seperti restoran?" tanya Retia.


"Karena tempat ini dulunya memang Restoran milik Dewi Makan, lalu setelah namanya terkenal, tempat ini berubah menjadi tempat Dewi Makan mengajarkan cara memasak dan resepnya kepada orang-orang."

__ADS_1


Hans mengambil satu gulungan perkamen acak yang ada di rak, kemudian memberikannya pada Retia.


[ Perkamen : Perkamen adalah material tulis yang terbuat dari kulit binatang. ]


"Apa ini?" tanya Retia.


"Itu salah satu buku resep Dewi Makan, cobalah membacanya."


Retia membuka lembaran perkamen tersebut, tetapi tidak ada apapun yang tertulis di sana.


"Semua resep dan ilmu yang diajarkan oleh Dewi Makan ikut menghilang bersamanya, baik itu yang tertulis di perkamen atau yang sudah dihafal di luar kepala. Semuanya menghilang bersama dengan udara. Sayang sekali, tidak ada yang tahu rasa masakannya selain mereka yang sudah berumur."


Mendengar penjelasan Hans, Retia menjadi teringat dengan buku-buku di ruangan rahasia. Selain yang ada di gudang, di sana juga terdapat rak-rak buku kuno yang sebelumnya dihamburkan oleh Retia. Jika resep Dewi Makan telah menghilang, itu artinya buku resep kuno yang ada di tangannya ini adalah salah satu resep makanan ajaib buatan Dewi Makan yang menghilang tersebut.


"Hans, bisakah kamu mengantarkan aku kembali ke tempat pertama kita bertemu?" tanya Retia. Niatnya lurus ingin menguasai pengetahuan Dewi Makan tentang masak memasak, tujuan yang jauh dari kata murni, tetapi tidak ada juga yang bisa menentangnya.


"Tentu, tetapi apa yang ingin Anda lakukan di sana?" Hans menyetujuinya, tetapi cukup tertarik dengan tujuan Retia kembali ke sana. Mungkin sedikit merasa takut karena berpikir sekali lagi Dewi Makan akan menghilang dari dunia ini.


"Ada yang perlu aku ambil di tempat itu, mungkin kamu akan suka~"


•••••••


Retia dan Hans kembali ke tempat pertama kali mereka bertemu. Menaiki bukit, menyusuri hutan, beristirahat, dan memakan perbekalan daging kering milik Hans. Sampai akhirnya mereka tiba ke tujuan.


Retia segera masuk ke dalam sementara Hans bersiap untuk mendirikan tenda, karena hari mulai menyentuh titik gelapnya.


Hans mengambil sebuah cincin dengan batu berwarna merah sebagai matanya. Melihat sekitar, mencari tempat yang cocok. Begitu lokasinya telah ditentukan, Hans mengusap batu merah di cincin itu yang kemudian memancarkan cahaya memukau.


Satu persatu bagian tenda mulai keluar, mulai dari besi penopang, tali pengikat, dan kulit binatang yang membentang, semuanya keluar dari dalam batu cincin. Retia pasti menyesal karena tak dapat melihat pemandangan ajaib itu. Semua bagian kemudian bersatu padu dan membangun tenda dengan kecepatan yang luar biasa. Sungguh teknologi praktis yang jauh lebih hebat daripada Bumi Modern.


Retia kemudian keluar dengan satu kantong kain penuh catatan memasak sang nenek. Wajahnya tak bisa menahan senyum, kantong kain tersandar di punggungnya dari bahu. Sekarang Retia lebih terlihat seperti Goblin Pencuri daripada seorang Dewi.


"Apa yang Anda bawa?" Hans bertanya.


"Oh, ini? Ini beberapa resep dari Dewi Makan, anda mau melihatnya?"


Retia sepertinya terlalu bersemangat hingga tidak bisa berpikir ke depan atau mungkin telah mabuk oleh kata 'Dewi Makan'. Jika Hans memiliki niat buruk, mungkin saja semua buku itu dicuri olehnya.

__ADS_1


"Tadinya Saya ragu kepada Anda, tetapi sekarang sudah tidak lagi."


Hans mendekat kepada Retia, membuat gadis itu memundurkan langkah, tetapi terpaksa terhenti karena batang pohon.


"Hah? Apa maksudmu?" tanya Retia yang sekarang mulai ketakutan karena Hans yang tadinya terlihat menghindari untuk berdekatan dengannya kini mendekat hingga aroma tubuhnya bisa tercium oleh Retia.


Buku resep kuno terhunus mencoba mengancam Hans untuk tidak melewati batas.


"Nona Retia, sepertinya Anda tidak tahu banyak tentang dunia ini, kan?" tanya Hans.


"Eh? A-aku tahu, kok!"


Mendengar jawaban Retia, Hans tersenyum. Tangannya bergerak dan menggenggam tangan Retia yang memegang buku resep kuno. Tembus, lengan Hans menembus buku resep itu begitu saja.


"Apa? Bagaimana bisa?" Retia kebingungan mengira-ngira apa yang dilakukan Hans termasuk semacam sihir, tetapi pertanyaan selanjutnya adalah, "Untuk apa Hans melakukan itu?"


"Lihat? Anda bahkan tidak tahu kalau benda dari Alam Dewa tidak bisa disentuh dan dilihat oleh Manusi—


"Apa!? tapi bukannya kamu tadi bisa aku pukul?!" potong Retia yang tidak percaya dengan ucapan Hans. Jelas sekali Retia pernah memukul kepala Hans yang bahkan bukti benjolan itu masih ada sampai sekarang.


Hans yang kesal penjelasannya dipotong, memukul kepala Retia hingga tertunduk.


"Anda harusnya mendengarkan sampai habis jika punya banyak pertanyaan. Alasan kenapa Anda bisa memukul Saya waktu itu adalah karena senjata dari Alam Dewa hanya bisa digunakan oleh Dewa. Manusia biasa seperti Saya hanya bisa merasakan dampaknya itupun jika Anda berniat untuk membuat kami merasakan, tetapi tidak dengan melihat. Bahkan sewaktu Dewi Makan dahulu, tidak ada siapapun yang pernah melihat pisau miliknya."


Retia terdiam sejenak dan berpikir, "Bukankah itu artinya aku tidak perlu takut buku-buku ini akan dicuri?" Sekarang dia menjadi lebih senang daripada sebelumnya.


"Ini, pakai untuk sementara," kata Hans sembari memberikan pakaian tunik dari wol yang berwarna kuning pucat.


Melihat itu Retia merasa tidak nyaman. Mengapa dirinya harus memakai pakaian yang terlihat kasar dan tidak sedap dipandang itu, bukankah lebih baik memakai apa yang ia kenakan sekarang?


"Tidak, aku nyaman seperti ini," tolak Retia.


"Perlukah saya mengulanginya sekali lagi? Semua benda yang berasal dari alam Dewa tidak bisa disentuh dan dilihat oleh manusia biasa, itu juga berlaku untuk pakaian di tubuh Anda."


"EEHH!!!??"


••••••••

__ADS_1


__ADS_2