Aku Keturunan Dewi Makan?

Aku Keturunan Dewi Makan?
Bab 30 : Permintaan Retia


__ADS_3

"Karena itulah sabun ditemukan. Walaupun Kuman Jahat semakin kuat, tetap saja mereka masih membutuhkan benda yang kotor untuk menempel. Karena itu, yang perlu kita lakukan adalah membersihkan semua kotoran dan noda di telapak tangan, khususnya yang tidak bisa dihilangkan dengan air saja. Maka sabun adalah jawabannya. Dengan cara membasuh tangan Anda menggunakan sabun sebelum dan sesudah makan, Anda bisa memastikan bahwa semua Kuman Jahat di tangan Anda sudah mati bersama dengan kotoran tempat mereka menempel."


Semua bangsawan terdiam, entah karena bingung dengan penjelasan Retia atau tidak tahu apa yang harus dibantahkan.


"Dengan cara mengamalkan kebiasaan tersebut, jumlah orang yang terkena kutukan dan penyakit akan berkurang secara drastis. Dampaknya akan membuat sumber daya manusia menjadi stabil." Retia menarik napas dalam, kemudian melanjutkan penjelasannya.


"Namun, Kebersihan diri saja tidak cukup. Sebagai makhluk sosial, manusia sewajarnya bekerja di luar ruangan, oleh sebab itulah kebersihan lingkungan juga harus ditingkatkan demi meningkatkan tingkat kelangsungan hidup."


"Jadi sama seperti sabun, bisnis yang kamu tawarkan ini juga mempunyai dampak positif yang tinggi juga bagi kelangsungan hidup? Tolong jangan berbelit-belit, Kami tahu bahwa kamu gugup. Namun, ringkaslah, Kami di sini bukan orang yang senggang." Duke Phalsas menyela, di-ikuti oleh anggukan kepala semua bangsawan di sekitarnya.


"Dikabulkan, Retia Anggraini, sebagai pemilik kuasa atas tanah yang engkau pijak, Aku perintahkan engkau meringkas semua ini menjadi lebih jelas dan singkat." Kaisar berdiri, mengetukkan tongkatnya ke lantai kemudian duduk kembali.


Retia pucat, suara tak keluar dari mulutnya. Khan yang menyadari hal itu langsung mengambil alih dengan maju satu langkah.


"Menurut Anda, apa yang menjadi pembeda besar antara lingkungan yang dihuni bangsawan dan yang dihuni oleh rakyat biasa?" Khan bertanya kepada Duke Phalsas.


"Keamanan dan kebersihan?" Duke Phalsas menjawab.


"Tepat, lalu apa yang paling mempengaruhi kebersihan lingkungan keduanya berbeda?" Khan beralih menanyai Count Pilgub.


"Pertanyaan macam apa itu? Jelas karena kediaman bangsawan memiliki pekerja khusus untuk membersihkan kotoran dan sampah, sedangkan yang satunya tidak ada," jawabnya jengkel.


Khan menghadap ke arah Kaisar kembali dan melanjutkan penjelasannya.


"Lalu apa yang ingin Nona Retia tawarkan adalah untuk meningkatkan kebersihan lingkungan secara menyeluruh. Nona Retia ingin menawarkan kepada Anda tentang revolusi toilet dan kamar mandi. Yang Saya jamin akan meningkatkan kebersihan dan mengurangi Kuman Jahat secara menyeluruh."


"Seperti yang diharapkan dari Khan, padahal dia hanya pernah mendengar dan melihatnya satu kali, tetapi pemahamannya tidak seperti itu." Retia menatap haru punggung Khan yang lebar. Retia masih bingung dengan Khan yang misterius, secara dia adalah seorang Mata-mata, tetapi juga seorang Tuan Tanah yang dipanggil sebagai Pahlawan.


Belum lagi soal Hans yang memanggilnya dengan nama panggilan, Kosong Dua Satu, Retia mau tak mau curiga, dan secara sadar tak sadar tertarik dengan kisah hidup Khan dan apa hubungannya dengan Hans.

__ADS_1


"Seperti yang Nona Retia tadi ceritakan, Kuman dari Dewa Jahat menempel di kotoran untuk bertahan hidup dan cara melawannya adalah dengan membakar pakaian orang yang terkena kutukan atau sakit, bisa juga merebusnya. Kita mungkin bisa merawat orang yang terkena kutukan dengan melakukan upacara penyucian, juga merawat orang yang sakit dengan ramuan-ramuan herbal..."


"...Namun, jika penyebab tidak bisa kita hilangkan, setidaknya kita bisa meminimalisir kehadiran Kuman Jahat ini dengan cara meningkatkan kebersihan diri, mandi, mencuci tangan, mencuci pakaian, dan meningkatkan kebersihan lingkungan, inilah yang sedang Nona Retia tawarkan."


"Baik, Kami mengerti tentang apa yang kamu bawa dan tujuannya. Jadi, sekarang mari membahas tentang bisnis itu, berapa banyak yang engkau inginkan?" Kaisar bertanya.


"Jika diperbolehkan, Saya ingin menggabungkan hadiah dari prestasi Saya dengan biaya penyerahan bisnis revolusi kebersihan lingkungan." Khan meminta.


"Akan Kami dengarkan terlebih dahulu permintaanmu," kata Kaisar.


"Baik, pertama, Saya menginginkan kerjasama bisnis antara Kansas dan Kekaisaran Sahara," pinta Khan.


"Kamu!? Mata-mata sepertimu bicara apa?" Count Pilgub berdiri, marah dan sejak awal merasa dihina.


"Berhenti!" Kaisar menghentikan untuk yang kedua kalinya. Wajah pria tua bau tanah itu memerah, membuat semua emosi bangsawan yang menegang menjadi ciut.


"Ta-tapi, Yang Mulia?"


"Urgh.."


"Tuan Khan, kerja sama macam apa yang sebenarnya Anda katakan?" Lelaki yang nampak masih muda mengangkat tangannya, bertanya kepada Khan. Pria muda itu adalah Baron Gorgeous, usianya saat ini baru delapan belas tahun.


Meski hanya seorang Baron, Khan terlihat menyukainya. Tidak, tidak. Bukan sebagai pasangan, itu menjijikan, oke? Khan menyukai Gorgeous karena usianya yang masih muda dan pilihannya untuk tetap diam ketika perdebatan pengambil alihan bisnis terjadi. Padahal wilayah miliknya cukup luas dan berada di tempat yang strategis untuk menjadi kota perdagangan. Mungkin satu-satunya masalah adalah tanahnya yang tidak subur. Meski begitu untuk membangun bengkel-bengkel sabun, Wilayah ini tetap menjadi wilayah terbaik jika Khan terpaksa merelakan bisnis sabun tersebut. Itu juga yang seharusnya terjadi jika saja Retia tidak menawarkan proposal baru.


"Kerja sama mengenai distribusi sabun ke wilayah kerajaan lain di sekeliling wilayah kekaisaran dan di dalam tembok kekaisaran itu sendiri. Saya mengharapkan untuk para penguasa dari perbatasan wilayah, bersedia bekerjasama dengan Saya mengenai bisnis ini. Selengkapnya akan Saya tentukan jadwal pertemuan dan penguasa wilayah yang bersangkutan akan Saya kirimkan undangan."


"Kami anggap permintaan pertamamu ditujukan pada penguasa yang kamu pilih nanti, sekarang apa permintaan kedua?" Kaisar kembali bertanya.


"Baik, permintaan kedua adalah material, Saya ingin kekaisaran Sahara mengimpor material yang Kansas butuhkan, secara langsung tanpa melalui jalur Kota Samoedra."

__ADS_1


"Bagaimana menurutmu, Count Pilgub, sebagai penguasa wilayah pelabuhan yang bersangkutan, bagaimana menurutmu?"


"Saya menolak, kerja sama antara Saya dengan penguasa kota Samoedra sudah berjalan begitu lama, Saya tidak bisa melakukan hal itu karena beresiko merusak ikatan serikat dagang dunia." Count Pilgub menyeringai, sorot matanya melengkung dan menghina. Namun, Khan masih tetap tenang.


"Kalau begitu, permintaan keduamu ditolak. Apakah masih ada permintaan lain?" tanya Kaisar kembali.


..."Nona Retia, sekarang giliran Anda."...


Khan bergumam, memberitahu Retia bahwa ini saat baginya untuk mengatakan keinginannya.


"Jika di-izinkan Saya ingin menukar proposal revolusi kebersihan lingkungan dengan pemberian gelar kepada Saya." Retia meminta.


"Pemberian gelar? Apa Anda menginginkan gelar kebangsawanan? Kami tidak bisa mengabulkan itu terkecuali Anda menjadi rakyat Kekaisaran terlebih dahulu."


"Tidak, tidak. Maksud Saya adalah, Saya ingin Kekaisaran Sahara mengakui Saya sebagai Dewi Kebersihan Dunia. Hanya itu keinginan Saya," sangkal Retia dengan ekspresi wajah yang serius.


"Heh?" Kaisar nampak terkejut dan bingung. Raut wajahnya yang membiru membuat Retia merasa tertekan. Khan di sampingnya pun menutup wajahnya dengan satu tangan. Sangat memalukan.


..."Itu sedikit...."...


..."Permintaan macam apa itu?"...


..."Perempuan itu haus perhatian, ya?"...


..."Aku menjadi ragu, ide jenius itu keluar dari mulut gadis semacam ini."...


..."Jangan-jangan, dia selir mata-mata pengkhianat itu lagi?"...


..."Hoh, apa yang kamu katakan benar juga."...

__ADS_1


"Dasar sekelompok bajingan," umpat Retia di dalam hati.


__ADS_2