Aku Keturunan Dewi Makan?

Aku Keturunan Dewi Makan?
Bab 23 : Grand Master


__ADS_3

Sejumlah gelombang energi yang sangat besar melesat dari tinju Hans. Balok-balok es ikan terbang beterbangan terhempas. Serangan itu kena telak ke kepala Leviathan hingga menghancurkan wajahnya. Leviathan perlahan terjatuh dan tenggelam ke dalam air.


Hans kehilangan keseimbangannya, tetapi masih punya tekad untuk kembali berdiri. Sejujurnya tangannya sangat sakit sekarang, asap bahkan mengepul dari tangannya yang menghitam.


"Hah... akhirnya berakhir ju— Huh!?"


Tak terduga, Leviathan kembali bangkit dengan wajahnya yang remuk tak lagi punya bentuk. Leviathan yang tak lagi bisa melihat, mulai mengamuk. Menyerang dengah kemampuan acak. Gelombang tinggi, serangan hawa dingin, dan juga sihir-sihir es yang beterbangan. Leviathan menggila.


"Uargh!!"


Hans terhempas, sebagian tubuhnya mulai membeku, tak terkecuali Jordan dan Retia yang juga terluka akibat duri-duri es yang melayang menggores kulit.


"Apa-apaan itu? Padahal kepalanya sudah hancur, kenapa masih bisa hidup?" Jordan berusaha naik kembali ke atas pohon, sangat khawatir dengan keadaan istri dan anak-anaknya.


"Itu... Apa mungkin struktur kepalanya sama seperti ayam?"


Retia teringat tentang kisah Mike si ayam ajaib. Seekor ayam yang masih bisa hidup selama 18 bulan setelah kepalanya dipenggal.


Namun, Retia berharap ini cuman kasus serupa seperti ular yang hanya bertahan hidup selama beberapa menit saja. Sangat tidak berharap seperti kecoa yang bisa bertahan hingga seminggu dan sangat-sangat tidak berharap seperti salamender yang bisa menumbuhkan tubuhnya kembali.


Hans mencoba untuk bangun, tetapi tubuhnya sudah mencapai batas. Mungkin ini disebabkan oleh teknik terlarang yang masternya minta untuk tidak gunakan.


"Urgh, Tuan Putri, maafkan ak—


Di atas kepala Leviathan yang remuk. Bayangan seorang pria dengan pedangnya yang bersinar keemasan terlihat bagaikan sosok malaikat penyelamat di mata Hans. Karena setelah itu dia jatuh pingsan.


"Teknik Tempa Raja Dwarves: Pembongkaran!"


Pria itu menebaskan pedangnya layaknya sebuah palu. Tubuh Leviathan mulai remuk, satu persatu sisik keras di tubuhnya terlepas dan berhamburan ke sana kemari. Tubuhnya dibongkar dengan sempurna.


Melihat pria itu, Chord berlari dengan kedua tangan terentang, air matanya mengalir deras, bahagia tidak menjadi seorang pembunuh.


"Hua! Tuan, Saya sangat senang sekal— Ah!"

__ADS_1


Dahi Chord disentil oleh Khan hingga terdorong jatuh dan tergelincir akibat tanah yang membeku.


"Ini semua gara-gara ramuan bodohmu itu, jika saja aku tidak mengalirkan energi sihir dengan benar, aku sudah mati sialan, tapi yah... terima kasih untuk itu, sekarang aku menerobos ke tingkatan sihir yang lebih tinggi, juga punya material yang luar biasa di sana, hahaha. Tidak ada yang mati, kan?"


..."Ini berita yang sangat bagus untukku, sekarang aku tidak perlu takut lagi dengan guardian atau apalah itu. Sekarang aku tingkat enam, seorang Grand Master ahli pedang sihir pertama di dunia? Keke," batin Khan, sangat-sangat senang....


"Bisa-bisanya tertawa, padahal tadi hampir mati." Retia menggerutu.


"Hahaha, ngomong-ngomong, tolong rawat aku juga, ya." Khan ambruk, pingsan tak sadarkan diri.


"Tuan, Khan!"


...•••...


"Nona Chord, Saya datang membawakan makanan," kata Jordan. Kedua tangannya penuh dengan nampan berisi piring makanan yang berisi ikan terbang goreng buatan Retia.


"Ah, letakkan saja di samping lilin," ujar Chord.


Di hadapan mereka, terdapat Khan yang masih terlelap dalam pingsannya. Perban membalut tubuh kekar Khan dengan sempurna. Pakaian yang ia kenakan sedikit terbuka, dupa herbal menghiasai gerbong kereta yang mereka tempati.


"Ya... masih belum." Chord sangat khawatir, entah hukuman apa yang ia terima jika Khan sadar. Dengan merawatnya Chord merasa sedikit lebih tenang, setidaknya ia merasa telah bertanggung jawab.


"Apa tidak apa-apa membiarkannya seperti itu?" Jordan kembali bertanya. Luka cedera yang dialami Hans jauh lebih parah daripada Khan, tetapi Hans dapat bangun kurang dari satu jam setelah Leviathan ditumbangkan, sementara Khan masih belum ada tanda-tanda akan sadar.


"Tentu tidak, walaupun Tuan Khan seorang ahli pedang, dia juga seorang penyihir tingkat atas yang baru saja menerobos. Ada kemungkinan tinggi tubuhnya tidak dapat beradaptasi dengan energi sihir yang lebih besar hingga mengakibatkan kesadarannya terjebak."


Chord sangat khawatir. Jumlah penyihir sedikit di dunia ini bukan karena mereka langka, tetapi karena kebanyakan dari mereka terbunuh ketika menerobos tingkatan. Jantung meledak adalah yang paling banyak terjadi pada penyihir muda.


"Sudah berapa jam sejak beliau seperti itu?" Jordan kembali bertanya. Matahari sudah cukup lama terbenam dan bulan menggantung di angkasa menggantikannya.


"Sudah hampir delapan jam, jika beliau tidak sadar juga setelah sepuluh jam, kita harus kembali ke Sorrow secepat yang kita bisa untuk meminta penyihir membangunkannya secara paks—


"Tidak," potong Khan. Pria itu bangun sambil memegangi kepalanya yang pusing. "Tidak perlu melakukan hal itu, terimakasih sudah menjaga tubuhku dengan baik," sambungnya.

__ADS_1


"Tu-Tuan Khan! Anda sudah sadar!" Chord sangat gembira, tanpa sadar kembali mencoba untuk memeluk Khan. Namun, lagi-lagi gagal dengan cara yang sama.


"Ya, seperti yang kamu lihat."


Chord memegangi dahinya yang sudah dua kali menerima sentilan, kemudian bertanya, "Bagaimana perasaan Anda? Apa ada bagian tubuh yang tidak enak?"


"Tidak ada yang spesial, hanya saja perutku...


"Apakah perut Anda sakit? Atau keracunan? Saya akan mencarikan penawarnya sege—


"Lapar," potong Khan lagi.


"Eh?"


"Perutku lapar—sangat lapar."


"Ekhem, itu... di samping lilin ada ikan goreng, silahkan Anda nikmati."


...•••...


"Jordan, apa ada yang terjadi selama aku pingsan? Aku tidak bisa merasakan kehadiran Ron dan si brengsek Hans di luar sana," tanya Khan setelah selesai menyantap ikan terbang goreng.


"Ya, tuan. Ada banyak yang terjadi sejauh ini. Pertama, Marthin dan rombongannya, termasuk tuan Ron yang mengungsikan diri mereka ke hutan, semuanya menghilang. Sedangkan tuan Hans dan beberapa pria lainnya mulai mencari mereka sekitar tiga jam yang lalu."


"Begitu, lalu yang kedua?" Khan terlihat masih cukup tenang, Ron dan Marthin keduanya harusnya cukup kuat untuk melawan monster-monster di dalam hutan. Kemungkinan besar keterlambatan mereka karena tersesat, tetapi karena Hans sudah mencari mereka Khan tak perlu banyak berpikir. Khan bisa tenang karena Hans harusnya hapal semua rute hutan di seluruh wilayah kerajaan ini, sama seperti dirinya.


"Semua kuda terbang yang kita bawa sepertinya mengalami trauma yang kuat ketika berhadapan dengan Leviathan. Lalu yang terakhir, ini soal Nona Retia."


Khan terdiam sejenak. Kemudian merapalkan sebuah sihir kuno yang ia pelajari sewaktu menjadi agen tentara kekaisaran.


"Penghalang suara sudah aku pasang. Katakan, apa yang kamu temukan soal Retia?" tanya Khan. Tatapan matanya sinis dan gelap. Penuh rasa curiga terlebih setelah memakan hidangan cakar beruang buatan Retia.


"Itu...

__ADS_1


...•••...


__ADS_2