Aku Keturunan Dewi Makan?

Aku Keturunan Dewi Makan?
Bab 3 : Rumah Tua Itu...


__ADS_3

Satu persatu kardus mulai dibuka oleh Retia menggunakan cutter, mengeluarkan harta benda yang dia miliki. Barang-barang Retia kebanyakan hanyalah buku resep makanan, beberapa lainnya Novel-Novel fiksi yang hanya ia baca ketika sedang kehilangan Mood belajar memasak.


Rumah tua yang diberikan neneknya, cukup layak ditinggali walaupun ada banyak hal yang harus diperbaiki di sana sini. Keramik yang kusam— berlumut, masih bisa ditutupi dengan karpet atau ambal. Tembok yang retak bisa ditutupi dengan poster, lemari, atau kalender.


Kamar mandinya cukup bagus, dengan toilet jongkok dan aliran air bersih dari sumur belakang rumah.


Retia memakai masker dan sarung tangan yang ia ambil dari dalam kardus. Menyeret sapu, juga kantung plastik hitam.


Tante Zoana bilang kalau ia sudah sedikit membersihkan, tetapi sepertinya hanya ruangan depan dan kamar mandi. Sementara dapur dan ruangan lainnya tidak disentuh sama sekali. Yah, semua keluarganya memang selalu sibuk dengan dunianya sendiri. Masih untung Tante dan adiknya mau mengorbankan waktu yang berharga demi Retia.


Retia mula-mula membersihkan kamar yang paling dekat dengan dapur untuk dijadikan kamar tidur. Kemudian membersihkan dapur, dan dua ruangan lainnya yang kosong.


Hari sudah mulai sore, Retia lelah, tetapi ruangan yang perlu ia bersihkan masih tersisa satu. Ruangan itu adalah gudang, di dalamnya terdapat barang-barang lama seperti sepeda ontel dan televisi tabung. Selain itu ada banyak tuangan kue dan peralatan masak lainnya seperti kompor minyak.


Karena terlalu banyak, Retia merasa kalau bersih-bersihnya harus dilanjutkan besok saja dan lebih baik menyiapkan kamarnya untuk tidur malam hari nanti. Namun, melihat begitu banyaknya peralatan memasak dan buku-buku tentang makanan membangkitkan kembali semangat Retia yang pucat. Ada banyak piala bertuliskan nama sang Nenek, dan semuanya adalah kontes masak-memasak.


Retia teringat akan pesan dari tantenya sebelumnya, tentang sebuah buku yang Neneknya hadiahkan untuk menghiburnya. Retia pergi kembali ke ruangan depan, mengambil buku di atas lemari kayu, kemudian kembali masuk ke dalam gudang.


Sampul buku itu terlihat sudah sangat tua dan kumal. Sementara dihalaman belakangnya tertera foto sebuah ruangan. Foto itulah yang menarik perhatian Retia untuk kembali ke gudang.


Retia membandingkan foto dengan salah satu sudut dari gudang. Lalu akhirnya menemukan sudut pengambilan gambar yang sesuai, tetapi tetap terasa berbeda. Setelah membandingkannya berulang-ulang, Retia akhirnya sadar kalau di lukisan yang berada di foto terlihat memiliki kotak merah di ujungnya, tetapi yang berada di ruangan tersebut tidak ada.

__ADS_1


Retia mendekati lukisan, dan menemukan bahwa ujung lukisan itu mempunyai engsel dan terpotong bentuk kotak dengan irisan yang sangat tipis sehingga hanya terlihat ketika berhadapan langsung.


Celah irisan dicongkel oleh Retia hingga bisa ditarik. Sekarang terlihat sama persis seperti yang di foto. Kotak merah itu berisi semacam tuas kecil di dalamnya. Lalu tanpa banyak berpikir, Retia langsung menarik tuas itu dengan kuat.


Tak!


Suara keras terdengar dari balik lukisan. Mirip seperti suara pintu terkunci yang dibuka, hanya saja lebih keras. Retia yang penasaran, mencoba melepas lukisan tersebut, tetapi malah menemukan sebuah ruangan lain di baliknya.


Takut, Retia mengambil salah satu frying pan yang menggantung di gudang, mengangkatnya di atas bahu kemudian mengambil posisi siaga. Perlahan ia mulai melangkahkan kaki masuk, memutar pandangannya ke kiri dan kanan, jika saja ternyata Neneknya memelihara seekor Vampire atau makhluk kekar berbulu, Retia bisa langsung memukulnya dengan frying pan. Retia sepertinya masih terbayang dengan novel-novel fiksi yang tadi.


Cukup lucu melihat gadis pendek dengan lengan dan kaki yang kurus mencoba melindungi dirinya sendiri, terlebih dari alam bawah sadarnya sendiri.


Ruangan itu sangat luas, pikiran negatif sudah mulai muncul di benak Retia. "Bukankah ini sudah terlalu luas untuk Rumah ukuran medium satu lantai?" pikirnya.


Retia sampai di ujung ruangan. Terdapat semacam altar yang menghadap sebuah pintu, di atasnya terdapat lilin-lilin yang telah padam dan yang paling membuat keringat dingin mengalir adalah tengkorak besar milik semacam kadal. Sementara di atas pintu terdapat sebuah tulisan merah yang menyala di ruangan yang cukup gelap.


"Jadilah Ratu Memasak?" bacanya.


Baru saja Retia menyelesaikan kalimatnya, ruangan itu tiba-tiba bergetar, pedang dan tombak berjatuhan ke lantai. Retia terpikir kalau ini gempa bumi ringan, walaupun tetap merasa aneh mengingat dia tinggal di Kalimantan.


Gempa berhenti, lilin terpercik api. Menyala dengan Sinarnya yang kemerahan. Retia mundur menyentuh tembok. Gempa adalah sesuatu yang alami, tetapi lilin yang menyala sendiri jelas tidak begitu. Satu-satunya penjelasan yang bisa Retia pikirkan adalah kuasa supranatural. Lagipula di rumah tua seperti ini rasanya belum lengkap tanpa penampakan Hantu atau gangguan poltergeist.

__ADS_1


Retia memberanikan dirinya untuk mendekati altar kembali. Cahaya di lilin itu agak aneh, tidak membakar, nampak melayang. Berwarna semerah darah dan berbau seperti kemangi yang dibakar.


Benar saja, cahaya itu bukanlah api, melainkan sejenis Orb hidup yang punya pemikiran sendiri. Bola-bola kecil itu melayang ketika Retia mencoba menyentuhnya. Daripada takut, Retia lebih kagum dan tak bisa mempercayai apa yang sedang ia lihat, "Menakjubkan," pikirnya.


Orb mulai berpencar, berhamburan menuju sudut-sudut ruangan. Kemudian bergerak kembali ke tengah untuk saling berbenturan. Bola-bola itu menyatu membentuk Bola yang lebih besar dan semakin membesar. Suara detakan terdengar jelas di telinga Retia, bola itu sebentar lagi meledak.


Retia menutup wajahnya dengan frying pan, sedetik kemudian bola besar itu meledak— membutakan pandangan. Tak sampai di sana, gempa mulai terjadi kembali, suara dentuman dan benturan membuat Retia siaga dan merasa dirinya dalam bahaya. Namun, suara rintihan dan raungan Hewan Buas, membuat Retia tak bisa berkata apapun lagi, tubuhnya membeku kaku. Suara itu sangat keras, mengingatkan Retia dengan Monster bernama Godzilla. Lebih mengerikan lagi, suara itu tepat berada di sampingnya— tepat berada di belakang pintu altar.


Suara-suara itu terus bergema hingga belasan menit kemudian dan berhenti setelah rintihan panjang terdengar sangat keras, menembus telinga tertutup tangan.


Retia yang bisa menggerakkan tubuhnya kembali, segera berlari menuju pintu lukisan, tetapi pintu itu telah menghilang. Takut, resah, dan gelisah. Semuanya menyatu dalam ekspresinya.


Satu-satunya pilihan Retia adalah membuka pintu di depan Altar. Jika tetap bertahan di sini yang menantinya hanyalah mati kelaparan. Sudah cukup baginya menderita hal-hal konyol karena terus berdiam diri.


Retia membuka pintu itu dengan keras, lengannya siap memukul apapun yang mencoba mendekatinya. Namun, apa yang ia lihat bukanlah ruangan lain atau kebun tebu yang mengelilingi rumahnya. Melainkan hamparan rumput hijau yang tumbuh di antara pepohonan berkulit kasar dan seorang Pria tampan yang mengikat tali temali ke seekor kadal bersayap.


Retia memutar kepalanya, langit yang membiru terang, rerumputan yang hangus terbakar, dan pria tampan yang kini menatap balik ke arahnya dengan ekspresi jijik.


"Apa yang telah terjadi...."


▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎••▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎••▪︎▪︎▪︎▪︎

__ADS_1


__ADS_2