Aku Keturunan Dewi Makan?

Aku Keturunan Dewi Makan?
Bab 9 : Sistem Dewi Makan


__ADS_3

"Ada apa sih dengan Pembantu di dunia ini!"


Kesal Retia, dia masih ingat betul bagaimana para Maid itu menelanjanginya dan memandikannya dengan paksa. Retia kemudian di pasangkan korset ketat, rok terusan dan juga gaun klasik polos. Setidaknya Retia tidak lagi hanya memakai tunik.


Retia pergi ke dapur dengan perut yang keroncongan dan buku resep kuno. Namun, sesampainya di dapur, tidak ada siapapun di tempat itu. Pandangan Retia berputar, hampir semua perlengkapan memasak di sini tidak terlihat seperti perlengkapan memasak abad pertengahan.


Semuanya terlihat modern. Bagian kitchen set yang lengkap, dengan pemanggang, wastafel, dan juga kulkas. Berbagai jenis pisau dan bermacam-macam spatula tergantung di samping rak bumbu. Sungguh bertabrakan dengan bagian rumah lain yang masih terlihat seperti perlengkapan abad pertengahan.


Retia membuka kulkas, hanya ada kentang dan kentang saja di dalamnya. Retia mengambil kentang kemudian meletakkannya ke atas talenan dan bersiap mengupasnya.


Buku resep milik kuno yang ia letakkan di samping talenan tiba-tiba saja melayang. Membuat Retia terkejut dan terjatuh tanpa jeritan.


"Apa?! Kenapa hal-hal aneh terus-menerus terjadi akhir-akhir ini!" batin Retia menjerit dan sudah muak dengan situasi tidak normal.


Buku yang melayang perlahan terbuka, hurup-hurup aneh mulai keluar dari lembaran buku dan berkumpul membentuk sebuah Orb merah menyala, persis seperti yang Retia lihat kemarin di ruangan rahasia.


Orb merah itu kemudian berdetak dan melesat masuk ke dalam kepala Retia, dia meledak dan membuat Retia kehilangan kesadaran.


...•••...


"Urgh... kepalaku."


Retia tersentak bangun dan langsung meraba kepalanya. Retia ingat betul bagaimana bola cahaya itu menusuk kepalanya.


"Anda tidak apa-apa, Nona?"


Pertanyaan itu berasal dari Sylvi dan Mary, dua Maid muda yang tadi menyeret Retia ke kamar mandi. Mereka berdua langsung membantu membangunkan Retia dan mengelus-elus punggungnya.


"Ti-tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya kaget melihat dapur yang sangat bagus ini," kata Retia meracau. Namun, wajahnya yang pucat tak bisa berbohong.


"Hm? apa yang Anda katakan? Bukankah di Kekaisaran dapurnya juga seperti ini?" tanya Sylvi bingung.


"Peralatan memasak ini dari Kekaisaran?" Retia balik bertanya.


"Eh? Memangnya datang darimana Anda, sampai-sampai tidak tahu tentang Legenda Dewi Makan. Dapur yang lengkap ini satu-satunya warisan yang ditinggalkan oleh Dewi Makan untuk kerajaan ini," jawab Mary.


"Begitu, ya."


Retia menghembuskan napas lega, sempat terlintas di pikirannya kalau Kitchen Set ini buatan orang selain dirinya yang juga berpindah. Syukurlah itu buatan sang Nenek.


"Ngomong-ngomong, kenapa kalian mengira aku berasal dari Kekaisaran?" tanya Retia.

__ADS_1


Mary dan Sylvi saling pandang, kemudian sama-sama menunjuk ke arah rambut Retia.


"Rambut?" tanya Retia lagi dan dijawab oleh anggukan oleh Sylvi dan Mary.


"Benar juga, sejak masuk ke kota, aku tidak melihat satu orang pun dengan rambut hitam, dunia ini unik juga, ya?" batin Retia.


"Oh benar, apa tadi Anda ingin memasak kentang?" tanya Mary. Wajah gadis kecil itu sangat polos, membuat Retia berpikir kalau Hans seorang pedo— Begitu juga dengan Sylvi, ke duanya terlihat baru berumur belasan tahun.


"Ah, benar. Aku hendak mengupas kentang itu tadi. Ngomong-ngomong apa di sini tidak ada Koki?" tanya Retia.


"Tidak, tidak ada. Tuan Hans selalu makan diluar. Jadi, tidak ada koki di sini. Tuan Hans juga tidak pilih-pilih makan, karena itu biasanya Tuan Rold yang memasak," kata Sylvi menjelaskan.


Retia kembali memusatkan perhatiannya pada kentang, kentang dan pisau yang tadi Retia letakkan masih diam tak bergerak. Sialnya, buku resep kuno itu juga masih melayang. Namun, kali ini Retia berusaha untuk menenangkan dirinya dan menganggap buku terbang itu sudah hal yang biasa. Walaupun sangat-sangatlah sulit.


"Tenang, Retia, tenang. Nanti juga hilang sendiri."


Retia mengambil pengupas kulit yang tak sengaja ia lihat saat terjatuh tadi. Dengan tangan gemetar Retia mulai mengupas kulit kentang. Buku resep itu kembali terbuka, membuat Retia hampir menangis.


"Jangan lagi, dong!" teriaknya di dalam hati.


Sama seperti sebelumnya, untaian hurup aneh mulai keluar dari dalam buku, tetapi bedanya kali ini tidak membentuk Orb melainkan sebuah hologram berbentuk papan. Retia kenal betul itu karena setiap hari melihat iklan Virtual Reality di billboard-billboard pinggir jalan.


Di papan tersebut tertulis, [ Memproses Informasi Pengguna Baru... ]


Layar hologram itu berkedip dan memunculkan kalimat baru.


[ Kecocokan pengguna di dapat ]


[ Jalan menjadi Ratu Memasak dimulai! ]


[ Quest: Hidangkan Kentang kepada dua Maid muda telah ditambahkan. Hadiah Quest tergantung tingkat kepuasan target ]


[ Hadiah Pengguna baru telah didapatkan. Apakah Penguna ingin membukanya? ]


"Apa? apa maksudnya itu?" gumam Retia bertanya-tanya. Namun, karena rasa ketertarikannya lebih kuat dari rasa taku, Reti mencoba meladeni layar hologram tersebut, "Ya!" kata Retia. Layar kemudian kembali berkedip, memunculkan hologram baru yang lebih berwarna dan berlapis-lapis.


[ Kotak Hadiah Pengguna Baru dibuka: ]


[ Mendapatkan kemampuan: Mata Dewi Makan> Informasi bahan masakan akan terlihat di mata Pengguna ]


[ Mendapatkan kemampuan: Lidah Dewi Makan> Setiap masakan yang di makan oleh Pengguna rasanya akan menjadi dua kali lebih nikmat ]

__ADS_1


[ Mendapatkan kemampuan: Pengetahuan Dewi Makan> Semua resep yang tercatat dalam ingatan dan buku resep milik Pengguna akan diproses menjadi bentuk panduan ]


"Kemampuan? Bagaimana cara menggunakannya?"


Retia mencoba menyentuh hologram, tetapi tidak bisa.


"Wah, tanganku tembus."


Retia masih terdiam menatap udara, membuat Mary dan Sylvi menjadi bingung sekaligus takut. Hati mereka menjerit ingin bertanya, tetapi selalu diurungkan karena Retia yang mulai berbicara sendiri. "Apa Nona ini kerasukan Hantu?" pikir mereka.


"Apa harus disebut? kalau begitu, Mata Dewi Makan."


"Tidak ada yang terjadi... apa karena sudah terlalu tua benda ajaib ini menjadi rusak?"


Lelah, Retia memilih mengabaikannya untuk saat ini. Melanjutkan mengambil pisau untuk mulai mengiris kentang yang sudah dikupas. Saat pisaunya menyentuh tubuh kentang, layar hologram berkedip kembali dan memunculkan sebuah pertanyaan.


[ Apa yang ingin Anda masak? ]


"Hm?"


Retia sudah berhenti kaget dengan hal itu. Retia tanpa banyak pikir langsung menyebutkan apa yang ingin ia buat.


"French Friest."


[ Mencari informasi resep... ]


[ Resep ditemukan ]


[ Panduan memasak French Friest telah siap, mulai memasak! ]


"Oh!?"


Layar hologram kecil muncul di kentang yang hendak Retia potong, di sana terdapat petunjuk garis pemotongan dan juga informasi sederhana tentang kentang itu. Retia menggosok-gosok matanya, tetapi benda itu tidak hilang juga.


[Kentang]


Rank: D


Kesegaran: 88%


Berat: 506 gram.

__ADS_1


Retia pergi ke rak bumbu, mengambil dua toples secara acak untuk sekedar memastikan bahwa layar tersebut bukan berasal dari ilusi di kepalanya yang sepertinya mulai sakit jiwa karena terus-terusan disajikan hal-hal absurd.


__ADS_2