
"Apa ada alasan kita harus istirahat dari siang sampai berkemah di sini? Bukankah lebih baik meneruskan perjalanan?" Retia bertanya pada Chord di sampingnya.
Chord adalah gadis berambut merah keriting sebahu dengan mata berwarna biru. Setiap kali Retia memandangnya, Retia menjadi teringat dengan animasi tentang kisah abad pertengahan di Eropa.
"Itu bisa saja, tetapi beberapa kuda bersayap mungkin akan mati. Yah, ini semua terjadi berkat sihir penguatan yang ditanamkan tuan tanah ke kuda-kuda itu. Kudanya memang menjadi bersemangat, tidak mudah lelah, dan kecepatannya meningkat drastis, tetapi di sisi lain, mental mereka akan terganggu, karena itulah kita butuh istirahat, lagipula kita sudah lebih dari setengah perjalanan. Sungguh sihir penguatan yang luar biasa, perjalanan yang harusnya ditempuh selama tiga hari dipangkas dengan mudahnya." Chord menjelaskan, tangannya masih sibuk mencatat beberapa hal yang Retia sendiri tidak mengerti apa maksudnya.
Berpikir kalau dirinya mengganggu, Retia pergi berkeliling sambil menikmati udara segar tanpa polusi, rasanya sungguh luar biasa. Khan sepertinya memerintahkan beberapa orang untuk mengumpulkan kayu bakar, beberapa orang lainnya merawat kuda-kuda langka itu dengan baik. Di sisi lain, Marthin melakukan sesi latihan bersama dengan beberapa orang pria yang luang.
Ketika melihat Hans yang bersandar santai di sebuah pohon, Retia mendatanginya.
"Bagaimana lukamu? Sudah baikan?" tanya Retia. Sebelumnya Retia meminta Chord untuk mengecek tangan Hans dengan harapan, ada ramuan yang bisa mampu mempercepat penyembuhan lukanya.
"Sudah tidak terasa sakit lagi, terimakasih untuk Nona Chordne, dia memberiku beberapa botol ramuan," jawab Khan sambil menggoyangkan botol ramuan berisi cairan hijau kental yang nampak menjijikan.
"Baguslah." Retia senang, Hans pun ikut tersenyum.
Sejujurnya Hans merasa sangat khawatir dengan Retia. Bagaimanapun, fakta bahwa Retia adalah keturunan Dewi Makan tidak cukup untuk membuatnya aman di dunia ini. Jika identitas itu terungkap maka akan banyak orang yang mencoba untuk memanfaatkan kemampuan dan pengetahuan dari alam Dewa. Hans benar-benar tidak ingin tragedi di masa lalu terulang kembali.
"Nona Retia, apa Anda tidak mencoba mempelajari seni beladiri untuk melindungi diri Anda sendiri?" tanya Hans.
"Mengapa?" Retia balik bertanya. Retia merasa itu hanya akan membuatnya repot.
"Kansas adalah wilayah ujung timur yang berbahaya, Saya rasa Anda harus mempelajari beberapa seni beladiri, khususnya untuk memanfaatkan senjata Ilahi yang Anda miliki," jelas Hans, untuk alasan tertentu, Hans tidak bisa mengatakan alasan yang sesungguhnya kepada Retia.
"Aku tidak mau itu, kamu pikir aku tidak tahu? Semua orang yang dipindahkan ke dunia lain, jika dia mulai memperkuat diri, hal-hal mengerikan akan terus berdatangan menghampiri. Cukup Khan yang membuatku susah tidur, oke?" Retia membatin.
"Aku rasa, Aku tidak membutuhkannya."
"Tidak membutuhkannya?"
__ADS_1
"Iya, bukankah kamu ikut ke Kansas karena khawatir denganku dan ingin menjadi pelindungku?" Retia sedikit menggoda. Sudah lupa bahwa Hans pernah melihat seluruh bagian tubuhnya.
"Ah.. Anda benar, aku akan melindungi Anda."
Retia dan Hans mulai tertawa setelah saling pandang. Mereka berdua menyadari apa yang barusan mereka katakan sangat aneh.
"Apa yang membuat kalian tertawa senang begitu?" tanya Khan yang tiba-tiba muncul. Mengartikan bahwa semua persiapan berkemah telah selesai dan yang menunggu berikutnya adalah persiapan makan malam.
"Oh, apa kalian sekarang sadar, betapa lucunya orang yang hanya punya delapan jari?" lanjut Khan, kembali mengejek Hans. Tuan Tanah ini sepertinya ketagihan mengolok-olok orang lain.
"Ah, sial." Hans yang kesal tanpa sadar melepaskan tinjunya ke arah Khan, tetapi masih bisa dihindari dengan sempurna olehnya.
"Hey, dasar bodoh. Kalau kena itu aku bisa mati. Cih, bisa-bisanya ada orang jahat di dalam kelompok ini. Aku pasti dikutuk karena menjadikan jari 'seseorang' sebagai umpan monster."
"Orang jahat di tempat ini bukannya kamu, ya?" batin Retia.
"Cih!"
"Hey, Hans. Mau ke mana kamu?" tanya Retia.
"Saya harus berlatih untuk menjadi lebih kuat, tolong jangan ganggu Saya," katanya.
"Dasar orang gila, seberapa besar dia mau bertambah kuat? Apa dia ingin menghancurkan dunia dengan tinjunya itu?" Khan menggerutu dan Retia hanya bisa tertawa palsu menanggapinya.
"Hahaha."
...•••...
Seekor ikan aneh mengerikan tiba-tiba saja melayang keluar dari sungai. Ikan itu memiliki kulit seperti buaya dengan empat kaki pendek berselaput di sisi kiri dan kanannya. Gigi-giginya yang nampak seperti ikan piranha menancap di paha kiri Hans, sedikit saja ke atas maka Hans akan kehilangan masa depannya.
__ADS_1
"Uah!!" Hans berteriak, Khan tertawa terbahak-bahak.
"Wahahaha, bisa-bisanya diserang ikan terbang, haha—
Bayangan gelap yang menutupi cahaya matahari membuat hinaan Khan terhenti. Di langit, puluhan ikan terbang terlihat ganas dan haus darah menyerbu.
"Oh, sial!" Khan menghunuskan pedangnya yang masih tersimpan dalam sarung, sementara Hans melemparkan ikan itu kembali ke dalam sungai, tanpa memberinya luka.
"Nona Retia, lari!!" Hans berteriak.
Retia tidak tahu mengapa semua orang panik dan berlari terhambur. Ikan-ikan itu cuma melompat dari sungai ke darat, tetapi kembali lagi ke air setelah terjatuh. Hans terlihat sangat kesusahan, bahkan dia tidak memberikan perlawanan sama sekali. Orang yang dengan mudah membunuh beruang besar, terlihat begitu menderita melawan sekumpulan ikan seukuran bayi baru lahir.
Retia berhenti berlari, mengayunkan tangannya yang menggenggam frying pan dan berniat memukul ikan terbang, tetapi Hans langsung mencegahnya dengan memasang badan. Bukan hanya gigi ikan yang merobek tangan kirinya, punggungnya juga dibuat sakit oleh Retia.
"Saya bilang lari, kan!" katanya menggeram keras. Hans menggendong Retia dan berlari ke belakang pohon besar, itu cukup jauh dari pinggiran sungai.
"Apa? Memangnya kenapa bukankah itu cuman ikan?" Retia akhirnya bertanya. Hans masih melirik ke belakang, tidak ada lagi orang di sana selain Khan. Semuanya sudah lari masuk ke dalam hutan bersama dengan Marthin.
"Namanya, ikan Gulia, tetapi kami lebih mengenalnya dengan sebutan: ikan terbang pembunuh manusia. Sisiknya dari baja, ada layar di setiap siripnya. Ikan Gulia tidak boleh mengalami kerusakan yang mengakibatkan cedera, jika tidak, ikan itu akan merasa terancam dan meledakkan racun di dalam tubuhnya. Satu ikan tidak masalah, tetapi jika itu gerombolan, racunnya akan membentuk menjadi pandemi. Satu untuk semua, satu terancam, semua meledak." Hans menjelaskan.
"Tunggu? Lalu bagaimana cara mengatasinya?" Retia kembali bertanya.
"Saat ini hanya ada satu."
"Apa itu?"
"Sihir Samudra."
"Sihir Samudra? Khan? Namun, kenapa dia hanya berdiri di sana sambil melemparkan ikannya kembali ke sungai?"
__ADS_1
"Itu mungkin karena dia kehabisan kuasa sihir. Umumnya sihir penguatan hanya bisa digunakan pada satu entitas dalam satu waktu, tetapi Khan melakukan itu pada banyak kuda dalam sekali waktu, dan itu berjalan hingga setengah hari. Seharusnya dia tidak punya sihir lagi sekarang."