Aku Keturunan Dewi Makan?

Aku Keturunan Dewi Makan?
Bab 28 : Istana Kekaisaran


__ADS_3

"Lewat sini, Tuan." Seorang Maid cantik dengan anggunnya memandu Khan dan Retia menyusuri bangunan istana. Retia tak bisa berhenti ternganga dan kesulitan mengontrol debaran jantungnya yang begitu kencang. Tidak hanya melihat istana layaknya di negeri dongeng, sekarang dirinya memasukinya dan akan bertemu dengan sang pemilik.


Khan dan Retia diarahkan ke sebuah lorong besar di tengah Istana, setelah sampai di lorong tersebut, Maid itu berhenti dan menepi, kemudian berkata, "Semoga hari-hari baik selalu bersama Anda."


"Ya, kerja bagus." Khan menjawab dan terus melangkah maju menyusuri lorong yang ujungnya terdapat sebuah pintu besar yang dijaga oleh dua ksatria berzirah lengkap.


"Berhenti sebentar." Khan menghentikan langkahnya, tepat sebelum mereka berdua menginjak karpet merah yang berbeda.


"Kenapa?" tanya Retia.


"Pakai ini dan dengarkan." Khan memberikan sebuah kalung rantai dengan batu permata yang cantik di tengahnya. Dengan pengalamannya selama ini, Retia dapat tahu bahwa batu itu merupakan batu sihir yang dipoles cantik.


"Seperti ini?" Retia mengenakannya seperti yang Khan minta. Namun, Retia bingung dengan perintah kedua yakni 'Dengarkan'.


"Emm... Tuan?" Penjaga pintu merasa terganggu. Khan berhenti tepat sebelum dia menginjak jangkauan penjaga. Mereka tidak bisa mengumumkan kedatangan Khan jika dia belum menginjak lantai dengan corak karpet yang berbeda.


"Kenapa? Apa kamu keberatan kami berhenti di depan sini?" Khan mengancam. Tatapan matanya membuat Retia selalu ingin meratap. Sungguh mengerikan dan haus darah.


"Ti-tidak, tolong lakukan sesuka Anda." Pengawal itu gugup, menundukkan kepalanya, memegangi lehernya, dan memilih untuk diam.


"Tekan ujungnya untuk mengaktifkan." Khan menjelaskan.


"Baik."


Retia menekan tombol di mata kalung itu seperti yang Khan perintahkan.


"Sekarang mari dengarkan."


"Iya."


..."Itu sangat hebat! Tidak seperti kelopak bunga Hendragerass yang butuh perawatan selama empat bulan sebelum akhirnya bisa dipanen dan digunakan untuk kebersihan, produk sabun ini bisa dibuat dengan cepat dan harga yang bisa dijangkau oleh semua kalangan."...


"Oh? Suaranya terdengar." Seperti ponsel jadul, suaranya memang terdengar walaupun agak sedikit menggema dan parau. Namun, masih cukup untuk dipahami.


..."Lebih dari itu, hanya dalam waktu kurang dari satu minggu setelah perilisan, pendapatan dari penjualan sabun sudah melebihi pendapatan tahunan dari Kerajaan Regionald, juga melebihi pendapatan perbulan kekaisaran kita!"...


"Uwah! Mereka sedang membicarakan tentang aku?" batin Retia. Ada banyak suara yang ia dengarkan, sepertinya di dalam sedang melakukan rapat mengenai bisnis sabun miliknya. Retia cukup senang dan merasa malu. Sebagai bukti, pipi gadis itu memerah dan hidungnya mulai bergerak kembang kempis.

__ADS_1


"Kenapa tersipu begitu? Mereka semua adalah orang bertopeng sampah, perhatikan baik-baik." Khan memperingatkan. Sejak memasuki Istana, wajah Khan memang nampak lain mengisyaratkan tidak baik-baik saja, seolah ada sesuatu yang ia khawatirkan dan takuti.


..."Bagaimanapun caranya, kita harus mempatenkan produk itu menjadi produk Kekaisaran kita, pembuatnya cuman rakyat jelata bukan? Kita bisa merayunya dengan gelar kehormatan untuk menukarnya dengan hak kepemilikan bisnis."...


"Bicara apa?" Retia shock dan tidak percaya. Bukan memuji, rupanya orang-orang di dalam sedang membahas pengambil alihan bisnis.


"Sudah kubilang, kan? Mereka sampah."


..."Ide yang sangat bagus, dengan penghasilan sebanyak itu, kita bisa menggunakannya untuk memperbanyak dan memperkuat dana untuk militer kita."...


"Bajingan-bajingan kotor itu suatu hari nanti pasti akan aku bunuh dengan pedangku sendiri," gumam Khan. Menggenggam erat tinjunya. Bibirnya berkerut dan menampakan gigi taring. Retia tidak pernah tahu kalau Khan bisa menunjukkan ekspresi marah yang serius.


Selama ini Khan selalu menampilkan wajah datar dan image yang suka bercanda, bahkan ketika berhadapan dengan Hans, Khan tidak pernah menampilkan wajah marah yang serius.


..."Ya, kita bisa menggunakan pendanaan dari setiap wilayah untuk memperbesar bisnis ini."...


"Apa-apaan mereka? Memutuskan semaunya saja!" Retia menggeram.


"Sekarang karena kamu sudah tahu bagaimana niat asli mereka, kamu harus mempersiapkan dirimu sendiri. Sejujurnya aku tidak akan bisa membantumu ketika berada di dalam ruangan itu, berusaha keraslah."


"Akan aku usahakan."


Pintu besar itu dibuka. Salah satu dari dua penjaga gerbang berteriak menyerukan kedatangan Khan,


"Mata-mata Kekaisaran, Tuan Khansa al Real, memasuki Aula Pertemuan!"


..."Ma-mata-mata?" Retia terkejut. Sebelumnya mengira Khan memiliki hubungan dengan kekaisaran karena pertunangannya dengan sang Putri. Namun, tidak menyangka bahwa dirinya seorang mata-mata....


Ruangan tersebut sangat luas, dan terdapat belasan orang yang duduk di sisi kiri dan kanan karpet merah berukir keemasan. Di ujung karpet, Retia bisa melihat sang Kaisar dengan mahkota mewahnya tengah duduk di tahtanya. Di samping sang Kaisar, terdapat sang Permaisuri dengan gaun putihnya yang sangat cantik.


"Tetap di belakangku dan ikuti apa yang aku lakukan, jangan panik." Khan mencoba menenangkan.


"Ba-baik!"


..."Oh? Akhirnya datang juga."...


..."Sekarang kita bisa membahasnya dengan lebih serius."...

__ADS_1


..."Akhirnya."...


..."Namun, apa menurutmu dia datang sangat cepat?"...


..."Itu benar, walaupun aku tahu kalau dia bisa membekukan lautan dan berlari di atasnya, setidaknya untuk sampai ke sini, membutuhkan waktu sekitar tiga jam lebih lambat dari ini."...


Dengan alat yang diberikan oleh Khan, Retia dapat mendengar ucapan orang-orang yang tadi berdebat walaupun mereka sedang berbisik. Sungguh sebuah benda ajaib yang luar biasa.


Khan berjalan ke tengah-tengah ruangan, sementara Retia ikut di belakangnya dengan penuh keragu-raguan.


Khan berlutut, Retia juga mengikutinya.


"Khansa Al Real, menghadap Matahari Kekaisaran!" katanya dengan nada yang ditinggikan.


"Puja Matahari Kekaisaran!" Semua bangsawan di ruangan itu berteriak.


"Baik, bangunlah!" kata Kaisar. Suaranya nampak tenang dan berwibawa, tidak terlalu keras, tetapi terdengar dengan jelas.


..."Bagaimana denganku? Apa aku juga harus bangun?" Retia bingung....


"Khan, terimakasih. Kamu tidak pernah mengkhianati kepercayan Kami. Pencapaianmu kali ini sangat besar, selain produk sabun dan revolusi kacang kedelai, kamu juga mendapatkan resep ramuan baru dan juga Growing Stone. Sungguh pencapaian yang luar biasa, Kami mengakuinya," sambung Kaisar.


"Saya cuman melakukan kewajiban Saya."


"Tidak, tidak sesederhana itu. Pencapaianmu lebih besar dari apa yang terjadi beberapa tahun terakhir. Sampaikan keinginanmu akan Kami coba kabulkan jika itu memang layak didapatkan. Namun, sebelum itu. Siapa gerangan wanita yang berada di belakangmu?"


Retia bisa merasakannya, tatapan asing dan menusuk dari sang Kaisar dan yang lainnya. Dalam posisi yang masih berlutut, Retia menggigil tidak tahu apa yang harus ia katakan atau apa yang harus ia perbuat.


..."Perkenalkan dirimu."...


Suara itu berasal dari Khan di depannya. Lebih tepatnya di bergumam dengan rendah, dan tersampaikan lewat kalung permata yang menggantung cantik.


"Salam, Yang Mulia Matahari Kekaisaran." Retia mencoba mengikuti nada dan intonasi suara Khan.


"Puja Matahari Kekaisaran!" para bangsawan di sekelilingnya berteriak membuat Retia sedikit terkejut dan lidahnya tergigit. Namun, dengan segala sesuatu yang ia miliki, Retia kembali meneruskan perkenalannya.


"Saya, Retia Anggraini, penemu dan pencetus produk sabun dan revolusi kacang kedelai. Suatu kehormatan yang sangat besar bisa menghadap Matahari Kekaisaran."

__ADS_1


"Puja Matahari Kekaisaran!"


..."Tidak bisakah mereka meninggalkan sorakan itu? Aku hampir tertawa."...


__ADS_2