
"Saya akan menerima permintaan tersebut, tetapi tolong ubah imbal baliknya," pinta Retia. Jantungnya berdetak begitu cepat, mau meledak rasanya.
"Jadi, apa yang kamu inginkan? Rumah mewah? Prioritas pembuatan alat sihir? Koneksiku dengan Kekaisaran?" tanya Khan. Wajahnya kini menanam ekspresi curiga.
"Saya menginginkan semuanya," kata Retia dengan nada suara yang begitu rendah.
Khan pucat, ekspresi wajahnya penuh rasa jijik.
"Jangan katakan kamu menginginkan aku?"
"Tidak-tidak, maksud Saya..."
Retia tak dapat menyelesaikan ucapannya. Terlalu takut dan ragu. Entah apa keputusan bagus mencoba peruntungan dengan orang aneh ini.
"Hm?"
Retia menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya bersama dengan keragu-raguan. Jika nanti Khan mencoba melakukan sesuatu kepadanya, masih ada Hans dan jika Hans tidak bisa mengatasinya Retia bisa menggunakan identitasnya sebagai Keturunan Dewi Makan. "Ya, itu pasti bekerja," pikirnya.
"Saya ingin Anda bekerjasama dengan bisnis yang ingin Saya kembangkan," pinta Retia. Semangatnya berkobar, dengan mengikat kerja sama dengan Khan, Retia yakin namanya akan berkibar dan tidak akan ada yang megucilkannya di kompetisi memasak nanti.
Mendengar dan melihat ekspresi serius Retia, Khan terdiam sejenak, kemudian berteriak memanggil pelayannya,
"Ron!"
"Ya, Tuan."
"Bawa yang lain keluar sebentar," titahnya.
"Baik, ayo."
Ron membawa semua orang keluar, meninggalkan Retia dan semangatnya yang mulai memudar. Sekarang para saksi telah disingkirkan, apa hari ini Retia akan mati?
Di ruangan makan itu, hanya ada Retia dan Khan yang di pinggangnya tergantung sebilah pedang panjang. Retia merasa sangat sial karena tidak membawa frying pan ghaibnya. Batinnya terus berdoa kalau kehidupan ke-dua itu ada dan nyata.
"Jadi, apa bisnis yang kamu bicarakan?" tanya Khan lagi.
"Saya ingin memulai bisnis kebersihan dari sabun."
"Sabun? Jelaskan apa itu sabun dan kenapa kamu pikir bisnis itu akan berkembang?"
"Baik, akan Saya jelaskan."
"Sebelumnya, sewaktu Saya berjalan ke bagian Utara kota Sorrow, Saya melihat banyak lanting di atas sungai yang digunakan oleh warga kelas bawah sebagai tempat mencuci dan toilet umum."
"Lanjutkan."
__ADS_1
"Saya melihat banyak perempuan yang pergi mencuci, mereka membawa sebuah kendi kecil berisi air arang yang sudah didiamkan selama sehari, tongkat untuk membersihkan kotoran, dan baskom untuk merendam pakaian bersama air arang."
"Jadi sabun adalah pengganti air arang?"
"Ya, benar. Jika sabun digunakan dengan air dan digosok, kegunaannya sama dengan air arang. Licin dan membersihkan noda, tetapi tidak membuat tangan menjadi kasar."
"Apa kamu yakin dengan nilai pasarnya? Bagaimana dengan biaya produksi dan harga jual? Apa kamu yakin orang-orang akan mulai menggunakan sabun daripada air arang?"
"Ya, sabun dibuat dengan minyak yang dicampur dengan arang dan soda api, selain it—
"Cukup!"
"Ah, baik..."
Retia sangat terkejut, "Sekarang apa lagi yang ada dipikiran Tuan Tanah ajaib ini?" batinnya.
"Ron!"
"Ya, Tuan!"
Ron segera menghadap, berlari-lari kecil menghampiri tuannya.
"Ambil ini."
Khan memberikan kantung kain yang sama dengan tempat menyimpan emas yang dia berikan kepada Retia tadi.
Ron membuka kantung kain itu dan mendapati belasan koin emas di dalamnya.
"Gunakan semua itu untuk membeli bahan baku pembuatan sabun dengan Nona Retia," suruh Khan yang kini bangkit dari tempat duduknya.
"Baik!"
Khan berjalan menuju bangku Retia dan mendekatkan mulutnya ke telinga Retia.
"Jadi, Nona Retia, aku harap kamu bisa membuktikan padaku seberapa hebat sabun itu, juga harga jual dan target pasarnya ketika kamu sudah tahu harga bahan bakunya. Untuk sementara tinggallah di sini. Ah, tidak, aku harap kamu tidak meninggalkan tempat ini sebelum proyekmu itu berhasil," ancamnya.
"Jangan katakan kabar buruk padaku."
"Ba-baik."
Khan pergi meninggalkan mansion dan hanya kembali setelah satu minggu. Selama itu juga Retia terpaksa tinggal di Mansion itu sambil terus bereksperimen dengan sabun dan mengajarkan resep hidangan kepiting kepada para Koki. Retia terus bertanya dalam hatinya, apakah Hans sedang mencarinya saat ini atau tidak?
...•••...
Di wilayah Reona, malam yang sama ketika Khan pergi dari Mansion.
__ADS_1
Pada Desa Glagash yang diisolasi bersama dengan kutukannya, tepat di dalam Kuil Dewi Makan. Terlihat Hans dengan pakaian serba hitam yang menyatu dengan kegelapan.
Hans masuk ke dalam kuil, tepat pada ruangan kamar dari Dewi Makan terdahulu. Nyala lilin menerangi ruangan tersebut dan ada seorang gadis di dalamnya.
Hans bersimpuh di depan tirai merah, tepat di baliknyalah gadis itu berada.
"Apa itu kamu Hans? Apa ada yang terjadi? Tidak biasanya kamu kemari dua kali dalam seminggu." Suara gadis itu sangat merdu dan sedikit terasa berair.
"Maaf mengganggu malam Anda, Tuan Putri. Saya kemari membawa kabar baik."
"Apa itu, Hans? Apakah obat untuk kutukan ini sudah ditemukan?"
"Bukan itu, tetapi bisa dibilang ini hal yang sama."
"Katakan, Hans. Katakan padaku." Putri itu menjadi tidak sabar untuk mendengar kabar baik dari Hans.
"Keturunan Dewi Makan telah turun ke dunia ini."
Putri terdiam beberapa masa, sebelum akhirnya ia bertanya, "Apa kamu sudah memastikan?"
"Ya, semua sama seperti yang ada di legenda," jelas Hans.
"Tolong awasi dia selama beberapa masa, lalu pastikan dia menyelesaikan takdirnya." Putri memberi perintah dan Hans langsung menangggapinya, "Akan Saya lakukan perintah Anda."
...•••...
Hans keluar dari Kuil dengan ekspresinya yang beragam. Matanya berair dan penuh rasa cemas. Pesan terakhir dari sang guru— Mid Guardian terdahulu — kembali terdengar dalam diam.
"Sekarang kamu adalah Mid Guardian yang baru, tugasmu bukan hanya menjaga wilayah ini saja, tetapi juga menyambut dan memastikan Dewi Makan yang baru tetap pada jalur takdirnya."
Hans menghembuskan napas berat.
"Hah... ini benar-benar menjadi semakin merepotkan," batinnya.
Hans melanjutkan perjalanannya, satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Hans menyadari ada sesuatu yang salah dan dengan cepat berlari lalu memukul sebuah pohon besar hingga batangnya hancur dan tumbang.
"Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di tempat ini?" tanya Hans pada sosok yang melompat ke pohon lain ketika Hans menumbangkan pohon yang menjadi pijakannya.
"Tadinya aku kemari karena mendengar kalau tempat ini dikerangkeng dan dipenuhi dengan monster-monster langka."
Suara pria terdengar dari atas pohon, kemudian ia turun ke bawah dengan sangat cepat.
"Aku kemari dengan niat mendapatkan material untuk menempa beberapa artefak. Namun, apa ini yang aku temukan? Hahahaha."
Pria itu tertawa, mengeluarkan pedang dari sarungnya, kemudian mengarahkannya ke sinar bulan.
__ADS_1
Pria itu perlahan mendekat, keluar dari bayangan pohon. Sehingga nampaknya bahwa pria itu adalah Khan, dengan rambut hitam dan seringai jahatnya yang melebar.
"Jadi, apa yang kamu lakukan di sini, kosong empat belas?" tanya Khan yang kini pedangnya telah selimuti oleh birunya cahaya bulan.