Aku Keturunan Dewi Makan?

Aku Keturunan Dewi Makan?
Bab 34 : Masalah


__ADS_3

...•••...


Kota Kansas saat ini sudah berbentuk layaknya sebuah kota. Akses masuk dan rumah-rumah warga sudah dibangun dengan rapi dan cantik. Tembok dan para prajurit penjaga sudah berbaris rapi untuk melindungi kota dari serangan monster dan bandit. Yang tersisa hanyalah pemasangan toilet umum dan toilet pribadi di setiap bangunan.


Di taman kastil kota Kansas, Khan dan Hans duduk di satu meja yang sama seraya menyeruput mie dan meminum teh.


"Ahhh... mienya enak," kata Khan.


"Ya, mienya enak. Bersama dengan daging kepiting yang lembut, itu membuatnya mudah dimakan," Hans menambahkan.


"Apa Nona Retia yang membuat ini?" Khan bertanya. Namun, Hans malah balik bertanya dengan wajah serius.


"Kosong Dua Satu, melihat dari Kekaisaran belum menemukanku, kamu sepertinya belum melaporkanku. Sebenarnya, apa tujuanmu berada di sini?" tanya Hans, mengintrogasi.


"Dasar brengsek, jadi makanan ini sogokan?" Kesal Khan, kuah mie yang ada di mulutnya disembur menghujani wajah Hans.


"Kosong Dua Satu!" Hans menggeram marah, berdiri dan mengeluarkan aura membunuh.


"Oke-oke, akan aku jawab. Lagipula aku terlalu sibuk untuk bertarung denganmu. Intinya kamu bertanya kenapa Kekaisaran belum mencoba menangkapmu, kan?" tanya Khan terkekeh.


"Ya."


Khan terdiam sejenak. Menghabiskan mie di mangkuk dan mengenang saat dirinya pertama kali bertemu dengan Hans di area Reona. Saat itu ada banyak hal yang ia ingin ketahui, tetapi memilih mundur karena ada hal lain yang lebih penting.


"Aku sendiri juga kaget, entah kenapa aku tidak bisa melaporkan tentangmu, hahaha," katanya.


Hans tidak mengerti, diam, kembali duduk, dan membersihkan wajahnya dengan lap.

__ADS_1


"Padahal aku hidup sebagai kaki dan juga tangan dari Kaisar. Mungkin aku merasa dirimu mirip denganku." Khan beralasan.


"Mirip denganmu?" Hans bertanya, lagi-lagi Khan mengatakan hal yang sulit dimengerti.


"Sebenarnya sudah dari lama aku tahu bahwa beberapa dari anggota 'Mata' yang menghilang masih hidup dan bersembunyi di beberapa tempat. Namun, aku sama sekali tidak menyangka bahwa kamu menyamar menjadi sosok penting seperti Mid Guardian. Yah, kurasa itu juga tidak masalah karena kekaisaran menyangka Mid Guardian kerajaan Regionald masih orang yang sama dengan yang dulu."


Hans terdiam sejenak. Fakta bahwa ada orang lain yang melakukan hal yang sama dengannya membuatnya sedikit merasa takut. Takut sewaktu-waktu Kekaisaran memberikan perintah pencarian kepada para agen yang menghilang.


Khan yang melihat wajah pucat Hans menjadi senang. Khan mengambil teh rebilla dan meminumnya.


"Ahhh... tehnya juga mantap. Apa ini dicampur susu?" pujinya beromong kosong.


"Keputusanmu untuk mengganti nama menjadi nama yang sama dengan nama Mid Guardian terdahulu adalah keputusan yang bagus. Namun, apapun yang terjadi, kamu tidak boleh sampai terlihat oleh Kekaisaran. Jika itu terjadi, aku akan berkilah dan menjadi orang yang memenggal kepalamu itu." Khan memperingatkan. Sejak menjadi Sword God, kepercayaan dirinya untuk mengalahkan Hans menjadi meningkat jauh. Sekarang Khan bisa membunuh Hans tanpa merelakan kerusakan di tubuhnya. Khan yakin itu.


"Aku tidak punya pilihan," ujar Hans lemah. Ada hal yang mengekangnya untuk bersembunyi di kerajaan ini. Ada hal yang membuatnya harus menjadi Mid Guardian. Kemudian juga ada hal yang membuat Hans harus menjaga dan mengawasi gerak-gerik Keturunan Dewi Makan. Hans tidak bisa melanggar pantangan itu.


"Terimakasih." Hans berdiri kembali dan berbalik hendak pergi. Sekarang dia sudah punya cukup informasi untuk bernafas lega dan tertidur nyenyak. Setidaknya untuk saat ini.


"Dasar bajingan. Yah, pokoknya, tolong bantuannya untuk melindungi dan membawa Nona Retia ke Ibukota untuk mengikuti kompetisi memasak. Lalu tetaplah berhati-hati, akan ada beberapa orang dari Kekaisaran yang mengenali wajahmu di kompetisi itu." Khan meminta.


"Hah? Bukankah kemarin kamu menolak, ketik aku meminta untuk menjadi penjaga Nona Retia? Apa ada yang terjadi?" Hans berhenti dan bertanya.


"Ya, saat itu aku menolak karena kemungkinan besar 'Master' akan hadir di kompetisi tersebut untuk melindungi Tuan Putri Charlotte. Namun, situasinya berubah sekarang, sepertinya ada babi-babi tidak tahu diri yang secara terang-terangan mengusik bisnisku."


Khan murka, akhir-akhir ini mengalami kerugian yang sangat besar akibat banyaknya cabang warung gorengan yang ia bangun dibakar dan diserang oleh bandit. Terlebih bahan baku yang mereka selalu beli untuk keperluan bengkel sabun, batu sihir, dan ramuan, semuanya tiba-tiba saja menjadi langka dan mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi. Ada sebuah permainan dan Khan tahu betul bagaimana ia harus mencabut akarnya.


•••

__ADS_1


"Hans!" teriak Retia memanggil Hans yang terlihat dari kejauhan sedang menenteng seekor kerbau besar di bahunya.


"Hm? Nona Retia? Ada yang bisa Saya bantu?" tanya Hans sewaktu wajah mereka saling bertemu.


"Apa kamu tahu di mana Khan? Sudah dua hari aku tidak melihatnya." Retia bertanya.


"Ah, apa Anda tidak diberitahu? Khan pergi ke Kota Samoedra kemarin untuk urusan bisnis, katanya akan menghabiskan waktu sekitar seminggu." Hans menjawab.


"Apa? Lalu bagaimana dengan kompetisiku?" Retia terkejut. Sedikit marah dan kecewa.


"Anda akan berangkat bersama dengan Saya ke sana." Hans menjelaskan dan mencoba untuk memenangkannya. Ya, Hans tahu bahwa beberapa hari terakhir ini, Retia memang banyak mengeluh dan tidak percaya diri. Sama halnya sewaktu Retia mengeluh dan merajuk ketika melihat pembalut.


"Begitu?" Retia menjadi sedikit tenang. Kompetisi memasak akan segera dimulai pendaftarannya. Oleh karena Kota Kansas masih belum bisa dibuka untuk umum, Retia terpaksa mendaftar melalui kota Sorrow sebelum akhirnya berangkat ke ibukota.


"Apa urusan bisnis yang dimaksud berkaitan dengan permasalahan bahan baku yang menjadi langka dan mahal?" batin Retia.


"Kalau begitu. Hans, apa kamu bisa mengantarkanku ke wilayah Reona? Ada sesuatu yang harus aku ambil di sana." Retia kembali bertanya pada Hans. Retia mencoba untuk mencari peruntungan dengan kembali masuk ke dalam ruangan rahasia yang ikut berteleportasi bersamanya, juga kuil peninggalan Neneknya. Retia pikir untuk mengecek barang-barang yang ada di sana dengan Mata Dewi Makan.


"Ada sesuatu yang harus kuperiksa, waktu itu aku cuma melihatnya sekilas, tapi siapa yang tahu itu akan membantuku, bukan?" batin Retia menyemangati dirinya sendiri.


Hans terdiam dan berpikir, kemudian setuju.


"Baiklah, mari berangkat malam ini," katanya.


"Yes!" senang Retia berteriak dan melompat.


"Ini juga sudah hampir waktunya untukku mengunjungi Tuan Putri." Hans membatin.

__ADS_1


...•••...


__ADS_2