
Pagi telah tiba, sekumpulan orang berkumpul di halaman mansion Khan, kebanyakan dari mereka adalah Pemuda-Pemudi, tetapi ada juga beberapa orang dewasa, lansia, dan anak kecil. Di antara mereka, Retia adalah orang yang paling mencolok dengan rambut hitam dan mata kecil khas kekaisaran Sahara.
Di bahu Retia tergantung kain biru langit sebagai pertanda kalau dia adalah orang yang diakui oleh Khan atas bakatnya. Selain Retia ada enam orang lain yang memakai kain yang sama di bahunya.
Sebut saja, Jordania Sianas, 31 tahun, seorang Petani kentang yang berhasil menarik minat Khan lewat penemuan: Growing Stone-nya sebagai pengganti pupuk kandang. Jordan membawa serta istri dan tiga anaknya menuju Kansas setelah Khan berjanji untuk melunasi semua hutang juga menawarkannya sebuah jaminan pekerjaan untuk ke tiga anaknya.
Ada juga, Marthinus Reygerd, 44 tahun, seorang mantan kepala Ksatria di ibu kota yang dipecat setelah dituduh melakukan kesalahan yang tidak dia lakukan. Khan membawa Marthin untuk menjadi pelatih para prajurit di Kansas. Marthin juga membawa serta istrinya dan tujuh pemburu muda yang berguru padanya.
Selain itu juga ada beberapa yang lain dengan bidang keahliannya masing-masing.
Tak berselang lama, dari dalam Mansion, lima buah kereta berhiaskan kencana, muncul dengan kuda-kuda putih bersayap yang menariknya. Kuda yang sangat cantik, besar, dan nampak kuat. Sekarang baru terasa kalau Retia sedang berada di negeri fantasi.
"Apa itu Pegasus?" tanya Retia pada Khan yang duduk di samping Ron sebagai kusir kereta kencana.
"Pegasus itu apa?" Khan balik bertanya.
"Ah, tidak ada. Tolong lupakan." Retia menjawab. Tidak peduli apapun namanya Retia tetap merasa sangat senang bertemu dengan makhluk yang hanya bisa ia temukan di dongeng dan legenda.
Retia dan yang lainnya mulai naik satu-persatu ke dalam gerbong, sementara barang bawaan mereka dimasukkan ke dalam tas ajaib agar tidak memadati ruangan.
Retia mengintip dari jendela gerbong dan melihat Khan yang sedang memantrai Pegasus dengan bahasa yang Retia tidak mengerti.
"Ron, tolong ambil jalan memutar dulu agar Nona Retia bisa mengambil barang yang ditinggalkannya di kediaman Hanshell Destramagi," perintah Khan setelah menyelesaikan mantranya.
"Baik, Tuan!"
Kereta kencana mulai berjalan, meninggalkan Mansion dan para pelayan yang bekerja di dalamnya. Saat semua orang sibuk saling berkenalan satu sama lain, Retia malah mengabaikan mereka dan menatap ke arah depan menunggu Pegasus yang cantik itu terbang.
__ADS_1
Sayangnya baik itu Pegasus atau Griffin, ke-duanya tidak bisa terbang tanpa bantuan sihir, hal itu karena rangka badan mereka tidak berongga seperti halnya burung. Terkecuali Pegasus adalah burung yang mirip kuda maka itu bisa terbang, yah... walaupun tidak akan mampu membawa penumpang.
...•••...
Sekitar lima menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di depan kediaman Hans. Retia langsung turun dan bersambut peluk dengan Mary.
Retia pergi mengambil kembali barang-barangnya masih tetap berada di tempat terakhir kali Retia menaruhnya. Yah, tidak ada juga orang yang bisa melihat dan menyentuhnya di dunia ini.
"Mary, di mana Hans?" tanya Retia. Meninggalkan satu-satunya orang yang mengenalinya sebagai seorang keturunan Dewi terasa kejam. Terlebih jika saja Hans tidak ada di hutan itu sewaktu Retia berpindah, Retia pasti sudah mati menjadi santapan kadal bersayap atau bahkan beruang besar.
Wajah Mary memucat dan segera memandu Retia ke sebuah kamar. Di dalam sana, Retia melihat Sylvi yang sedang mengganti balutan perban di ke dua tangan Hans. "Apa Hans terluka?" tanya Retia kembali kepada Mary.
"Ya, ke dua jari kelingking Tuan Hans, terpotong di malam ketika Nona Retia pergi. Sayangnya jari-jari yang terputus tidak dapat ditemukan, apalagi kejadiannya terjadi di dalam hutan wilayah Reona. Kami jadinya tidak bisa mengutus orang untuk melakukan pencarian." Mary menjelaskan.
Retia hanyut dalam pikirannya. Hans adalah orang yang kuat, Retia tahu itu dari bagaimana Hans menghabisi beruang dengan mudah. Jelas sekali ada yang aneh apalagi yang terputus cuman dua jari kelingkingnya saja.
"Bagaimana dengan pelakunya? Apa sudah tertangkap?" Retia tadinya ingin bertanya hal seperti itu, tetapi tidak jadi setelah mengingat kembali tentang kutukan di wilayah Reona. Jikapun ada yang memasuki wilayah itu, pastinya cuman orang gila yang mungkin kegilaannya setingkat dengan Khan.
"Saya baik-baik saja," jawabnya.
"Ah, benar. Aku akan pergi ke Kansas untuk membangun bisnis produk kebersihan di sana, aku ingin berterimakasih karena telah menjagaku selama ini." Retia menundukkan punggungnya sembilan puluh derajat dan memberikan sekantung emas kepada Khan.
"Kansas, apa itu kota ujung timur yang baru kembali di buka, Kansas yang itu? Jadi, kapan Anda akan berangkat?" tanya Hans sembari berjalan menuju halaman depan yang sudah ramai dipenuhi manusia yang tertarik dengan Pegasus yang cukup langka.
"Saya akan berang—
Ucapan Retia terpotong, setelah Hans melihat Khan yang berada tepat di halamannya. Hans langsung menerjang dan meninjunya, tetapi Khan masih bisa menghindarinya walaupun ujung telinganya terkena dan memerah.
__ADS_1
"Kau? Kos—
Belum sempat Khan menyelesaikan ucapannya, Hans lagi-lagi menyerangnya membabi buta seperti orang yang kerasukan.
"Dasar aneh, jika itu mau kamu, maka mari bermain sebentar." Khan menghunuskan pedangnya dan mulai mengayunkannya ke arah Hans.
Mereka berdua kembali beradu dari tanah hingga pertempuran udara. Debu-debu beterbangan, mengusik pandangan semua orang yang masih setia dalam dekapan Shock dan Horror. Kepala mereka terus berdengung mengeluarkan sinyal pertanyaan yang sama, "Apa yang terjadi?" bertanya-tanya.
Hans berhasil membuat pedang milik Khan terlempar, kemudian mendaratkan pukulan ke dada Khan, walaupun Khan masih sempat untuk menghalaunya dengan kedua tangan. Cedera yang dialaminya masih cukup berat untuk mengurangi separuh daya serangannya.
"Apa kamu masih berpikir, pedang lebih kuat dari tinju?" kata Hans, mengejek raut wajah Khan yang memucat.
"Gila, kenapa dia bisa sekuat ini? Brengsek, padahal sudah aku tahan, tetapi ke dua tulang tanganku retak?" batin Khan. Sejak pertemuan mereka malam itu, Khan sudah merasa ada yang aneh dengan Hans. Kekuatan pukulannya itu tidak masuk akal, tanpa sihir juga tanpa teknik, murni serangan dasar.
"Jadi kamu sekarang serius? Keke, karena kamu mengeluarkan kekuatanmu akan aku keluarkan juga, pedang iblisku!"
Khan menarik sebilah pedang dari udara hampa. Tidak terlihat, hanya ada bercak aura kematian yang membentuk rupa sebilah pedang. Sesak dan penuh dengan kegelapan. Retia tak tahu mengapa, tetapi di matanya, ia bisa melihat suatu kemiripan antara pedang iblis dengan buku sistem yang memberinya kemampuan. Mirip, sangat mirip.
"Memangnya ada yang berubah?"
Hans memompa seluruh otot di tubuhnya. Semua tenaganya kini berpusat pada tangan kanan yang digenggam erat. Sekarang Hans tidak punya keraguan lagi di hatinya. Tekadnya cukup bulat untuk menyingkirkan Khan karena membahayakan kehadirannya sebagai Mid Guardian, Hanshell Destramagi.
"Mau mencobanya? Namun, kali ini sepertinya aku tidak akan berhenti hanya dengan jari kelingking." Khan tersenyum lepas, menundukkan kepalanya dan mulai berjalan satu demi satu langkah mendekat.
Khan kemudian melesat, memotong udara di sekelilingnya dan membekukan butiran embun pagi. Hans juga sama, dia mulai memutar tubuhnya, menambah daya rusak dari pukulan tinju penghancur itu.
Namun, beberapa masa sebelum keduanya saling menabrak, Retia hadir di tengah-tengah dan berteriak untuk mencoba melerai mereka, "Hentikan!!" teriaknya, mata gadis itu tertutup, matanya gemetar, penopang badannya mati rasa. Jelas dia sangat takut saat ini.
__ADS_1
Hans memutar arah tinjunya dan memukul sisi samping pedang Khan. Tebasan Khan menjadi tergelincir dan tebasan jauh menebang pohon-pohon besar di taman kecil. Khan berniat meneruskan serangannya kembali, tetapi kepalanya dipukul oleh Retia dengan frying pan ghaib miliknya.
"Kumohon, berhenti!" teriaknya sekali lagi.