Aku Keturunan Dewi Makan?

Aku Keturunan Dewi Makan?
Bab 7 : Malam Pertama


__ADS_3

Langit malam dipenuhi dengan bintang-bintang berhamburan. Bulannya berwarna biru dan lebih terang hingga tiada kata gelap gulita. Sayang sekali Retia tidak dapat melihat dan menikmatinya karena dari awal datangnya gelap hingga sekarang ia masih bersembunyi dalam dekapan tenda. Hanya Hans seorang yang terjaga di depan api unggunnya yang menyebarkan cahaya.


Retia masih berpeluk dengan malu, batinnya sibuk memikirkan bagaimana cara bersikap di depan Hans. Pantas saja Hans menatapnya dengan jijik waktu itu. Alasan Hans tidak ingin dekat-dekat dengannya juga telah terjawab. Bukan Hans yang aneh, melainkan dirinya sendiri.


Retia juga berselimut marah, Hans bisa saja memberitahunya lebih dulu tentang pakaiannya yang tidak terlihat. Namun, dia malah meragu karena berpikir Retia penderita Exhibitionism. Walaupun Hans sudah meminta maaf hingga tersujud, Retia masih belum juga puas bahkan ketika kepala Hans ditumbuhi oleh belasan benjolan biru.


Perutnya lapar, tetapi tertutupi oleh rasa takut dan Isak tangis. Hans juga sama sekali tidak mencoba untuk meluruskan suasana, seolah-olah merasa senang dengan kecanggungan ini.


Waktu terus berlalu, satu jam, dua jam, tiga jam. Retia tak lagi mampu menahan lapar dan haus. Dengan pipi yang memerah dia mulai bangun hendak keluar tenda, tetapi tidak jadi karena di samping tempatnya berbaring, sudah terdapat sebuah botol air berbentuk seperti labu dan satu porsi daging bakar.


Sebelumnya Retia memang telah mencium aroma hangus, tetapi ia tidak pernah menyangka kalau yang dibakar bukan Ikan melainkan Hewan Darat. "Kapan dia memburu Hewan? Jangan bilang kalau ini daging kadal bersayap yang tadi?" Retia menduga.


Retia memakan hidangan itu setengah memaksa. Rasanya hambar agak sedikit masam, daging itu keras, ada bercak merah bekas darah di sela-sela seratnya. Walaupun rasanya seperti itu, Retia menghabiskan hidangan gagalnya dengan cepat sampai hanya meninggalkan bekas rasa arang di lidah. Entah ini karena Hans tidak berbakat dalam membakar atau karena dirinya memang tidak punya pengetahuan tentang memasak. Yang manapun itu Retia tetap tidak bisa protes, setidaknya daging ini tidak beracun.


Selesai makan Retia kembali berbaring, sekarang terpikirkan olehnya tentang keluarganya di Bumi, Retia bahkan belum sempat melihat wajah sang Ibu karena langsung ke Rumah Tua itu.


"Apa nenek akan menjelaskan tentang ini kepada ibu?" batinnya.


Saat Retia sibuk dengan lamunannya. Suara geraman yang sangat keras membuatnya kembali terjaga, suara itu berasal dari luar tenda, tepat di arah Hans dan api unggunnya yang menyala.


Retia segera bangkit, membuka tirai tenda dan dibuat terkejut oleh suara benturan logam. Di hadapan Retia telah berdiri sosok Beruang besar dengan cakar bajanya yang memerah dan gemeretak gigi bajanya yang menyeramkan. Salah satu mata Makhluk itu dilumuri oleh darah dan lebam bekas pukulan benda tumpul.

__ADS_1


Cakar yang sangat tajam itu mulai berayun ke arah Retia yang hanya bisa terdiam membeku.


BAK!!


Beruang besar itu tiba-tiba saja ditendang oleh Hans hingga jatuh tersungkur. "Harusnya Anda tetap di dalam tenda, Nona. Saya tidak akan membiarkan si Besar ini menyentuh Anda, bahkan jika itu hanya goresan," kata Hans.


Di tangannya terdapat dua kepala Beruang yang terpenggal. Cairan merah masih mengucur, mata kepala Beruang itu melotot dan lidahnya bisu terjulur. Pemandangan yang sangat tidak sehat untuk mata dan mental.


Itu pertama kalinya Retia melihat pemandangan paling mengerikan selama ia hidup.


Hans, pria yang tidak bisa menghindari serangan frying pan itu sekarang sedang bermanuver di udara tanpa alat bantu. Beradu tinju dengan Beruang besar itu dan mengalahkannya dengan puluhan tusukan pisau. Sungguh membuat orang-orang tidak percaya dan bertanya, "Apa orang ini Hans yang sama dengan Hans yang kepalanya benjol?"


Setalah menyaksikan itu bukan cuma mental Retia yang terganggu, tetapi fisiknya juga. Retia tak bisa berhenti mengeluarkan isi perut, bahkan ketika Hans telah selesai membersihkan jasad Beruang juga darah yang menyiprat ke pakaiannya, Retia masih tertunduk dengan wajah yang pucat dan teriakan menjijikannya.


•••


Retia terbangun tatkala mentari pagi mengejutkan Dunia dengan sinarnya. Tidak peduli itu di Bumi atau di dunia lain, Matahari senang sekali bersikap usil pada mereka yang tengah berbahagia di alam mimpi.


"Oh? Anda sudah bangun, Nona?" kata Hans. Wajah pria itu nampak cemas, sepertinya merasa bersalah karena kejadian kemarin dan malam tadi.


"Ya," jawab Retia singkat, kemudian keluar dari tenda.

__ADS_1


Retia sudah tidak perduli lagi dengan rasa canggung. Toh, Retia telah memperlihatkan seluruh tubuhnya, tetapi juga memperlihatkan sisi terburuknya. Sekarang bahkan Retia tak peduli lagi dengan bertingkah seperti seorang Dewi. Retia berjalan dan bersikap selayaknya seorang Gangster. Ke sana kemari tanpa membantu Hans membersihkan tenda dan bekas kayu api.


Hans mengeluarkan cincinnya kembali, mengarahkannya pada tenda dan mulai melakukan hal yang sama di waktu ia memasang tenda. Satu-persatu bagian dari tenda mulai memisahkan diri, kemudian tersedot masuk ke dalam batu merah dari cincin Hans.


Retia yang melihat hal itu tak kuasa menahan rasa ingin tahunya, Retia bertanya, "Apa itu semacam Sihir?"


"Ya, ini alat sihir sederhana yang dijual di pasar. Apa di Alam Dewa tidak ada alat sihir sederhana seperti ini?" jawab Hans yang kemudian dilanjutkan oleh pertanyaan.


Retia berpikir sejenak, jika dia menjawab "Tidak ada." apakah Hans akan mencurigainya bukan berasal dari Alam Dewa. Namun, kalau ia menjawab "Ada." pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana bentuk yang lebih modern dari tenda. Kain yang bagus tidak cukup sebagai jawaban.


"Di Alam Dewa, kami mempunyai Rumah yang bisa berjalan, karena itu tidak ada alat yang seperti ini. Tidak dibutuhkan," jawab Retia setengah menyombong.


Hans hanya tertawa mendengar jawaban Retia, kemudian memasukkan cincin itu kembali ke dalam ranselnya.


"Apa kamu bisa menggunakan sihir, Hans?" tanya Retia kembali. Rasa penasarannya terus menghantui. Bagaimanapun jika ada sihir di dunia ini dan semua orang bisa menguasainya, maka Retia ingin menguji keberuntungan dengan mempelajarinya.


"Sayangnya, tidak. Namun, Saya bisa melakukan hal yang mirip," jawab Hans.


Retia cemberut, tidak senang dengan jawaban Hans.


"Saya akan pulang untuk melaporkan Tyranwing, bagaimana dengan Anda?" tanya Hans yang sudah siap untuk berangkat.

__ADS_1


Retia terdiam sesaat, bingung apa yang harus ia lakukan di dunia aneh ini selain mengekor dengan Hans. Lagipula Retia tidak bisa pulang dan satu-satunya petunjuk memintanya untuk menjadi Ratu Memasak. Menjadi seorang Ratu di saat identitasnya saja sudah sangat mencurigakan, adalah suatu impian yang hampir terlihat mustahil tanpa keajaiban yang sangat-sangat jauh dari akal sehat.


"Bolehkah aku ikut denganmu?" tanya Retia sedikit memohon.


__ADS_2