
"Pedang itu... Moonlight Sword? Kamu.... kosong dua satu?"
Hans sadar akan lawan di hadapannya, dengan cepat ia mengambil posisi siaga. Satu persatu lempengan besi pemberat di lengan dan kaki Hans lepaskan, musuhnya kali ini tidak mudah—sangat.
"Sudah lama, ya, kosong satu empat. Kami pikir kamu sudah mati sepuluh tahun yang lalu. Ada apa dengan rambut dan mata itu, kamu mengganti warnanya?" tanya Khan sambil terus mengayunkan pedang sinar bulannya ke sana kemari.
"Kosong dua satu, apa Kaisar yang mengirim kamu kemari?" Hans bertanya, tetapi Khan hanya diam dan tersenyum polos. Seolah berkata, "Coba tebak."
Hans mengepalkan tinjunya dan menerjang Khan dengan satu buah pukulan. Namun, Khan sempat menghindar, membuat pergelangan tangan Hans menancap di batang pohon.
"Apa itu? Darimana datangnya kekuatan sebesar itu? Seingatku kamu dulunya bertugas sebagai 'Mata', siapa yang mengajarkanmu?" Khan tak berhenti mengoceh, terus membuat Hans kehabisan rasa sabar.
"Kosong dua satu, jawab aku!" teriaknya dengan nada yang mengancam. Hans mencabut pergelangan tangannya dari batang pohon, kemudian kembali memasang kuda-kuda yang sama.
"Takut deh takut, kosong empat belas ternyata sangat kuat, aku..."
Khan membalas serangan, mempersempit jarak dan menebaskan pedangnya secara horizontal, "Teknik pedang sinar bulan, tebasan horizontal."
Hans melompat menghindar. Namun, Khan tetap berusaha agar jarak mereka tidak terlalu jauh.
"Harusnya kamu tidak menghindar, karena kosong dua satu yang asli sudah mati, dalam perang penyatuan sepuluh tahun yang lalu."
"Kosong dua satu, berapa banyak orang yang dikirim Kaisar untuk menangkapku?" Hans kembali bertanya.
"Kosong satu empat, sejak kapan ada 'Mata' yang terlalu banyak bicara!" Khan mengamuk, menebaskan pedangnya secara acak. Walaupun Hans mencoba membalas serangan, Khan dengan mudah menghindarinya.
Hans tidak bisa fokus, itulah alasan mengapa serangannya tidak mengenai Khan sama sekali. Pikirannya jatuh pada sang putri yang berada di kuil tepat di belakangnya. Hans hampir putus asa, sangat takut kekaisaran menemukan kelemahannya itu.
Khan menginjak kaki Hans dengan sangat keras hingga tertanam ke bumi. "Sekarang kamu tidak bisa lari lagi, kan? Jangan menghindar, ya?"
__ADS_1
"Brengs*k!" umpat Hans.
"Teknik pedang sinar bulan, tarian pedang bulan."
Belasan tebasan menyambar tubuh Hans dari berbagai arah, jika saja Hans tidak dilatih oleh Mid Guardian, Hans sudah mati hanya dari satu tebasannya saja. Khan sangat kuat, bahkan di antara para pemilik angka.
Khan mampu bertahan dengan sempurna, semua tebasan itu hanya mencincang lapisan kulit luar dan pakaiannya saja, tetapi itu cukup membuat Khan terkejut dan mundur ke belakang.
"Ada apa dengan tangan itu? Kenapa ada baja yang keluar dari kulitmu? Memangnya Lizardman?"
Hans terkejut dan langsung menutupi tangannya kembali, tetapi Khan memanfaatkan hal itu untuk melakukan manuver serangan. Khan mengangkat tinggi pedangnya sambil terus melayang di udara dengan satu kaki.
"Teknik pedang sinar bulan, Meriam Sinar Bulan!"
Cahaya di pedangnya berdetak kemudian pedang itu di turunkan membidik Hans. Meriam sinar bulan ditembakkan beberapa kali. Suaranya berdentum sangat keras, tetapi tidak ada yang mengenai Hans karena pergerakan lincahnya.
Langkah senyap dan penyembunyi hawa keberadaan, itu teknik lanjutan dari kemampuan pembunuh.
Memori kecil terlintas di dalam kepala Hans, ingatan sewaktu masih dalam pasukan khusus kekaisaran Sahara. Saat itu beredar rumor di antara para pemilik angka. Rumor tentang kosong dua satu yang bisa membelah lautan dengan tebasan pedangnya.
"Kamu dengar rumor itu juga, kosong satu empat? Katanya anggota satu digit bahkan terpana melihat seni berpedangnya. Jadi, jangan pernah mencoba untuk melawannya. Apalagi Kaisar secara langsung dekat dengannya."
Di ujung kegelapan, cahaya bulan mulai beresonansi di tubuh Khan. Posisi tubuhnya membungkuk, bersiap menghunuskan pedangnya. Hans menjadi teringat kenangan lamanya lagi.
"Kosong satu empat, kamu ingat rumor tentang kosong dua satu? Rupanya rumor itu nyata. Dengar, apapun yang terjadi kamu tidak boleh terkena langsung serangan pamungkas dari teknik pedang sinar bulan. Namanya: Tebasan Naga Langit."
"Sial, aku harus segera lari dari si..."
Hans tak bisa meneruskan perkataannya, ingatan lamanya sekali lagi kembali.
__ADS_1
"Awalnya dia akan terdiam membeku dengan posisi tubuh miring hendak menghunuskan pedangnya, setelah itu kilauan cahaya bulan akan menyatu dengan tubuhnya, jika kamu sudah melihat dia dalam keadaan ini, yang perlu kamu lakukan adalah berlari sekencang mungkin ke arah samping, karna tebasan mengerikan itu membentuk sebuah garis lurus berpola segi tiga terbalik, mengerikannya serangan itu akan terus menghancurkan apapun di depannya sampai ada sesuatu yang menghentikan."
"Tidak, di arah sana ada Kuil. Apapun yang terjadi aku harus menahannya!"
Hans memasang badan, ke dua tangannya diarahkan ke depan wajah membentuk pola huruf X. Otot-otot di tubuhnya mulai mengeras, aura khas ksatria mengalir dalam darahnya.
"Teknik pedang sinar bulan, Tebasan Naga Langit."
Khan menghunuskan pedangnya, membuat kilatan cahaya itu mulai menghancurkan apapun di dalam jalurnya. Satu persatu pohon beterbangan sampai akhirnya semua benda yang di bawanya menghantam tubuh Hans.
Hans terbaring di ujung serangan karena terus menahannya dengan tubuhnya. Ke dua tangannya patah, beberapa rusuknya retak. Kesadarannya menghilang.
Khan menyarungkan pedangnya kembali, kemudian mendatangi Hans yang sudah tak berdaya.
"Kenapa kamu malah menerima serangan itu, padahal aku yakin kamu bisa menghindarinya dengan tubuh yang terlalu kuat itu. Rahasia macam apa yang kamu miliki."
Khan menaruh rasa curiga yang sangat besar, khususnya pada arah tepat Hans datang. Sejujurnya Khan tidak tahu bahwa di sana terdapat sebuah desa mati dan kuil Dewi Makan, tetapi hanya menunggu waktu sebelum akhirnya dirinya tahu dan mengunjunginya secara pribadi.
"Yah, terserahlah. Tadi itu pertarungan yang menarik, karena itu aku akan puas dengan mengambil ke dua jari kelingkingmu saja."
Berpikir atau menyelidiki sesuatu yang belum pasti itu sangat merepotkan bagi Khan, lagipula tujuannya kemari bukan untuk bertemu dengan Hans, melainkan untuk mencari material tambahan untuk artefak kelas dunia yang ingin ia kerjakan sesegera mungkin.
Khan mengambil pisau daging, mengarahkannya ke sinar bulan hingga sinarnya tertanam dalam pisau tersebut. Kemudian pisau itu di tebaskan hingga ke dua jari kelingking tangan Hans terputus.
"Oh, iya. Katanya di hutan ini banyak hewan buas dan hantu, cepatlah bangun dan semoga beruntung."
Khan pergi begitu saja, membawa dua jari kelingking milik Hans dan pergi lebih jauh ke dalam hutan dengannya. Aroma darah yang dipancarkan jari-jari tersebut merayu banyak monster dan semuanya disambut hangat oleh tarian pedang sinar bulan. Khan hanya akan pulang setelah jari-jari itu tidak lagi membuat para Monster tertarik.
...•••...
__ADS_1