Aku LAUHULMAHFUDZ Mu

Aku LAUHULMAHFUDZ Mu
#Nyata atau Halusinasi


__ADS_3

Mendengar suara pintu Gatra pun mengalihkan pandangannya ke arah pintu.


Pandangan merekapun saling bertemu.Gatra hanya bisa menelan silvanya kasar dan Cahaya hanya bisa memandang wajah suaminya dengan tatapan sendu.


Gatra mengernyitkan dahinya dan langsung terduduk di pinggiran ranjang.


Cahaya meletakkan koper kecilnya di samping nakas dan langsung menghampiri suaminya yang sedang melihat nya dengan intens.


"Astaghfirullahal'adzim,kenapa kamu selalu halusinasi dia sih Ga, please Caa..jangan buat aku merasa bersalah sama kamu maafin aku.."gumam Gatra mengusap- usap wajah nya dengan kasar.


"Mas sakit apa,buat Caca khawatir tau," ucap Cahaya dengan berdiri di depan Gatra.


"Ca,aku butuh kamu Ca.."ucap Gatra lirih dan menundukkan kepalanya.


Gatra menganggap dirinya sedang berhalusinasi melihat Cahaya yang ada di hadapannya.


"Kenapa nggak telpon aku selama ini?"tanya Cahaya dengan masih tetap berdiri di depan suami nya.


"Bukan nggak mau telpon kamu Ca,aku tidak mau tersiksa rindu sama kamu.Tapi, ternyata aku salah,ternyata kamu buat aku semakin gil* memendam rindu sama kamu." ucap Gatra dengan mengusap sudut matanya yang mengalir lelehan air mata.


Mendengar perkataan Gatra sontak membuat Cahaya tersenyum tipis.Ternyata suaminya merindukan dirinya.Walaupun Cahaya masih bingung dengan perasaannya saat ini namun,dia tidak ingin jauh dari suaminya bahkan tidak ada kabar sehari sudah rasa rindu dalam dirinya.


"Mas kangen sama Cahaya karena apa?"tanya Cahaya


"Karena aku nggak sanggup kehilangan kamu,aku nggak mau kehilangan kamu yang buat aku berdebar saat pertama kali aku bertemu kamu.Aku menginginkan mu. bukan karena terpaksa,aku ingin kamu jadi istriku untuk yang terakhir.Kamu bukanlah yang pertama buat ku,tapi..aku selalu berdoa semoga kamu yang terakhir buat aku.Sungguh aku menginginkan kamu bukan hanya Alka yang butuh kamu tapi,aku juga.Aku nggak tahu ini cinta pandangan pertama atau pun apa namanya yang jelas aku ingin kamu bukan karena terpaksa.Memintamu menjadi istriku bukan hanya karena Alka butuh bunda.Aku ingin kamu menjadi istri dan ibu dari anak-anakku.Tapi, aku nggak tahu harus bagaimana mengatakan hal itu sama kamu.Pastinya kamu nggak akan mungkin percaya,aku sayang sama kamu Ca,bahkan saat kamu nolak aku buat aku nggak sanggup dan aku memutuskan pergi sementara untuk membuat diriku yakin dengan apa yang kurasakan,aku malah tersiksa rindu sama kamu,sampai kamu hadir di sini.Kamu hadir di halusinasi ku."


Ucapan panjang lebar Gatra tentunya membuat Cahaya terkejut bahkan dia tak menyangka jika suaminya merasakan yang yang di namakan rindu.

__ADS_1


Cahaya jadi mengingat pesan sang ibu yang selalu mengatakan jika Gatra tulus padanya.Maka dari itu Cahaya harus melakukan segalanya dengan keikhlasannya maka kebahagiaan akan datang padanya.


"Aku juga kangen sama Mas Gatra makanya aku denger mas sakit langsung menuju kesini."ucap Cahaya dengan bersimbah di depan suaminya yang masih menunduk.


Gatra mendengar ucapan Cahaya serasa nyata itu pun mendongakkan kepalanya dan menatap dalam wajah yang ada di depannya.


Tangannya terulur dan menyentuh kedua sisi pipi Cahaya.


"Lho, kok bisa di pegang kayak nyata gini.Aku gil* atau gimana," gumam Gatra membuat Cahaya tersenyum lebar mendengar ucapan bod*h suaminya itu.


Cup


Dengan tanpa basa basi Cahaya memberanikan diri mengecup b*bir Gatra sekilas.Walaupun setelah itu jantungnya berdetak sangat kencang dan seperti mau pingsan rasanya karena kebod*hannya yang berani-berani nya menciu* suami nya terlebih dulu.


Mendapatkan kecup*n kilat Cahaya membuat Gatra terpaku dan memejamkan matanya.Jantungnya tak kalah kencang berdetak saat mendapatkan kecupan manis yang tiba-tiba membuat dirinya serasa tak mau terbangun dalam mimpi indah nya.


"Mas nggak mimpi,ini aku Cahaya istri mas.."bisik Cahaya dengan suara yang terdengar frustasi.


Menghirup aroma wangi tubuh Cahaya yang dia rindukan.Tak ada lagi orang yang mampu menyembuhkan rasa rindu nya pada Cahaya selain merasakan wangi tubuh Cahaya.


"Mas mau bunuh aku ,mas mau buat aku mati lemas karena di bekap gini." ucap Cahaya yang lama-lama kesal dengan sang suami.


Gatra langsung merenggangkan pelukannya dan Cahaya pun melepas rengkuhan suaminya dan memukul pelan lengan Gatra.


Bukkk...


"Jahat banget sih,badan Caca sakit semua karena mas nih..!!" protes Cahaya dengan memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Ma_maaf,kok bisa kamu disini?" tanya Gatra dengan mengusap pipi Cahaya lembut.


Bukannya menjawab pertanyaan suaminya yang di lakukan Cahaya adalah mengecek keadaan suaminya.Tubuh Gatra yang masih terasa panas.


Cahaya beranjak dari tempat dia bersimpuh dan melihat kamar tidur suaminya berantakan dia paling tak bisa lihat berantakan jadinya dia ngoceh dengan membereskan kamar suaminya.Sampai dia kedapur masih saja dengan ocehannya yang masih jelas terdengar oleh Gatra dari kamar yang pintunya sengaja di buka lebar.


"Mas kenapa bisa sakit gini,mas harusnya jafmga kesehatan.Karena mas itu jauh dari Caca.Sudah nggak ngasih kabar berhari-hari giliran dapet kabar mas nya sakit, gimana Caca nggak panik denger mas sakit.Lain kali kalau mas marah sama Caca jangan ngindar dan kabur kayak gini,Caca kan nggak tahu salah Caca apa mendingan mas itu..


Belum juga menyelesaikan omelanya namun,Cahaya seketika berhenti saat merasakan pelukan suaminya dari arah belakang.


"Sudah yaa..jangan ngomel lagi,mas memang yang salah.Mas percaya kalau kamu nyata.Mas nggak mimpi atau halu,ini kamu istri mas yang bawel juga ngangenin."ucap Gatra dengan memeluk tubuh Cahaya yang sedang membuat teh hangat.


Gatra menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Cahaya menghirup aroma khas sang istri yang membuatnya damai.


"Emang mas kangen sama Caca yang cerewet,nyebelin,Childish ?" tanya Cahaya dengan senyuman tipis terukir di bibirnya.


"Hemmm" jawab Gatra singkat.


"Hemmm apa?" tanya Cahaya memancing reaksi suaminya.


"Iya kangen,kangen banget malah."ucap Gatra masih ngedusel di ceruk leher Cahaya membuat merinding disko.


"Makanya jadi orang jangan Hipokrit,jadi..mas sayang sama Caca nggak?"tanya Cahaya dengan memutar tubuhnya jadi berhadapan dengan suaminya.


"Sayang,sayang sekali sama kamu Ca..maaf buat kamu khawatir berhari-hari."ucap Gatra dengan hembusan nafas yang masih terasa panas di wajah Cahaya.


"Mas tega sama Caca,kenapa sih..nggak ngomong gitu kalau mas marah sama Caca soal Caca yang nolak mas di kantor.Maaf,bukan maksud Caca nolak mas tapi, timing nya itu nggak tepat bagi Caca.Caca ingin ngasih hal yang berharga dengan cara yang baik mas bukan maksud Caca waktu itu mas perlakuannya nggak baik,tapi..alangkah baiknya kita melakukan nya bukan hanya sekedar n*fsu.Kita melakukan itu pun atas dasar ibadah."

__ADS_1


Ucap Caca dengan panjang lebar membuat Gatra mengerti kedewasaan istrinya yang membuat dirinya semakin merasa bersalah sekaligus merasa semakin tak ingin kehilangan Cahaya bagi hidupnya dan Alka.


Bersambung


__ADS_2