Aku LAUHULMAHFUDZ Mu

Aku LAUHULMAHFUDZ Mu
#Demam Rindu


__ADS_3

"Kamu nyusul kesini karena Yuda yang ngadu kan?"tanya Gatra dengan mengukung tubuh Caca yang bersandar di dekat wastafel.


"Aku khawatir sama mas,sekarang mas balik ke kamar.Aku mau buatin bubur buat kamu makan ,kamu belum makan kan?"


"Belum sih,tapi..malas makan yang.."ucap Gatra dengan nada manja dan menyatukan kening keduanya.


Tapi, mas masih demam.Please jangan membantah."ucap Caca dengan wajah memelas.


"Baiklah,jangan lama-lama yaa.."ucap Gatra wajahnya yang terlihat pucat.


"Hemmm."jawab Caca dengan singkat.


Gatra melangkah menuju kamarnya dan Caca dengan cepat membuat bubur untuk suaminya.Dua puluh menit kemudian Cahaya selesai membuat bubur dan langsung masuk ke dalam kamar.Melihat Gatra yang memejamkan matanya dengan selimut yang menutupi tubuh nya.


"Mas,makan dulu yuk..baru minum obat,bebersih dulu terus baru istirahat."ucap Cahaya meletakkannya bubur yang dia bawa di atas nakas.


Cahaya duduk di samping tempat tidur dan membuka selimut yang membalut tubuh suaminya.Mengelus lengan Gatra dengan pelan.


"Mass..bangun yuk," ucap Cahaya.


Mata Gatra dengan perlahan terbuka.Dengan wajah pucat dia tersenyum tipis melihat Cahaya ada hadapannya.


Cahaya membatu Gatra bersandar di kepala ranjang. Mengambil mangkuk yang berisi bubur.Cahaya mulai menyuapi Gatra bubur yang dia buat. Dengan perlahan dan kata-kata lembut tak terasa mangkuk berukuran sedang itu pun bersih tak tersisa.


"Alhamdulillah,sekarang minum obat nya."ucap Cahaya dengan memberikan sebutir obat pada suaminya dan segelas air putih.


Gatra pun menerima obat yang di berikan Cahaya padanya dan menelannya dengan cepat.


Sementara itu Cahaya yang beberapa saat meninggalkan Gatra ke kamar mandi sudah membawa air buat membasuk tubuh suaminya itu.


"Kita ganti baju dulu ya mas,tapi..kita lap dulu badan kamu biar agar segaran."ucap Cahaya dengan meletakkan mangkuk besar di nakas.


Dengan sedikit ragu Cahaya membuka kancing baju Gatra.Tangan Cahaya gemetar saat membuka kancing baju Gatra dan itu bisa di lihat jelas oleh Gatra.


"Kenapa kamu gemetar gitu,semuanya milik kamu Caa.."ucap Gatra dengan nada menggoda.

__ADS_1


"Ck..masih sempat-sempatnya godain aku padahal lagi sakit gini."gerutu Cahaya membuka baju yang Gatra pakai.


Tubuh kekar,dengan bulu-bulu halus di dadanya membuat tubuh Cahaya meremang dan wajah Cahaya yang mendadak memerah menahan malu.


Apalagi tatapan Gatra yang menghunus dalam jantungnya membuat detak jantung Cahaya makin tak teratur.


Dengan perlahan Cahaya memakaikan kaos oblong dan mengganti celana bahan yang di pakai Gatra.


"Kenapa,dia nggak akan gigit Ca..dia masih dalam mode aman.Kecuali..


"Stop !!" seru Cahaya menghentikan ucapan Gatra.


"Nggak usah terusin omongan kamu, sekarang kamu pasti bisa buka celana kamu sendiri.Aku mau mandi sebentar sudah larut juga kan,aku ngantuk.."ucap Cahaya dengan menyerahkan celana training pada Gatra.


Melihat tingkah Cahaya yang terlihat salah tingkah membuat Gatra terkekeh pelan.Sementara Cahaya masuk dalam kamar mandi dengan membawa handuk dan pakaian gantinya.


Gatra yang sudah selesai mengganti celananya pun duduk bersandar dengan bersandar di bantal tebal dan mengutak atik ponselnya.Dia menuliskan pesan pada seseorang dan melihat beberapa email yang masuk dalam ponselnya.


Tak lama terlihat Cahaya keluar dengan memakai daster rumahan dengan kancing depan dan rambut yang di gulung asal terlihat leher jenjang yang membuat Gatra susah menelan silvanya sendiri.


"Kok malah main Hp sih,bukannya tidur.Ini sudah malam mas."ucap Cahaya membereskan celana yang di buang sembarangan oleh Gatra tadi.


Hahhh .


Cahaya hanya bisa menghela nafas panjang dan dia pun naik ke atas tempat tidur tepat di samping Gatra.


"Ya sudah,kita tidur..biar besok kamu bisa fit lagi."ucap Cahaya membantu Gatra membenarkan bantalnya supaya nyaman.


Saat akan merebahkan diri namun,lengannya di tarik Gatra sampai dia terjatuh di atas dada bidang Gatra.Detak jantung mereka saling bersahutan.


"Kangen kamu Caaa.."ucap Gatra manja.


"Lalu..??" tanya Cahaya mengernyitkan keningnya.


Gatra pun berbisik dan membuat Cahaya mendelik kan matanya pada Gatra.

__ADS_1


Gatra tersenyum genit melihat Cahaya dengan respon mencebikkan bibirnya.


"Mesum !!" umpat Cahaya dengan memukul pelan lengan Gatra.


Namun,Cahaya pun masuk dalam pelukan hangat suaminya.


"Boleh kan yang,mumpung nggak ada Alka."bisik Gatra memohon.


"Kamu lagi sakit mas.."ucap Cahaya dengan gugup.


"Biara aku cepet sembuh yang.."bujuk Gatra memelas.


"Emang iya..? mas jangan modus ya?!" ucap Cahaya.


"Mau bukti,kita buktikan sekarang kalau kamu mau.Aku nggak akan nyakitin kamu,percaya sama mas." rayu Gatra dengan membuka satu persatu kancing baju Cahaya sehingga menampilkan gerbang pabrik susu milik Cahaya.


Walaupun sedikit ragu namun,melihat wajah Gatra yang memelas dan mengingat kata-kata ibunya ditentang kewajiban nya untuk menyenangkan hati suaminya tentu saja Cahaya ingin melakukan hal itu, tanpa sadar Cahaya mengangguk mengiyakan permintaan suaminya.


Melihat respon Cahaya membuat Gatra tersenyum senang.


"Yess !!" kata itu terucap dalam hati.Jiwa duda ngenesnya meronta.Sudah lama kudanilnya tidak basah kena hujan kenik*atan kini,di depan matanya sudah ada lampu hijau dari Cahaya.


Dengan perlahan Gatra membungkam mulut Cahaya dengan bib*rnya.Denga. lembut Gatra ******* bibir semanis ceri itu dan merasakan begitu lembut dan kenyal membuat candu nantinya buat Gatra.


Lid*hanya sudah menelusup masuk di rongga mulut Cahaya menjelajahi seluruh yang ada di dalam mulut Cahaya sampai dia keluar dan menikmati kehalusan kulit Cahaya.Tangan Gatra sibuk melepaskan daster dari tubuh cahaya.


Sampai Cahaya yang kehabisan nafas langsung memukul dada Gatra pelan.Dengan reaksi itu Gatra melepas pag*tanya.


Keduanya mengatur nafasnya dan terlihat Gatra dengan sigap membuka semua kain yang melekat di tubuh nya juga di tubuh Cahaya.


Hanya tinggal dalaman saja yang tertutup selimut sampai tangan Gatra dengan lincah membuka pengait b_ra Cahaya sehingga pabrik susu murni milik Cahaya yang sekarang sudah paten miliknya terpampang indah di depan matanya.


Rasa rindu dengan pabrik nya pun akhirnya dengan gerak cepat Gatra memajukan wajahnya menuju pabrik yang seperti mengundangnya.Padat ,berisi,dan sungguh pemandangan yang berbeda dari stok lamanya kalau yang ini membuat dirinya tergila-gila di buatnya.


Bukannya mau membandingkan namun,dengan perjuangan yang panjang sampai akhirnya buka puasa begitu lama di tambah kesiapan Cahaya melakukan nya pun membutuhkan perjuangan panjang.

__ADS_1


Sampai akhirnya dia bisa merasakan lagi pabrik yang begitu membuat dirinya semangat bahkan demam yang sempat dia rasakan kini dia lupakan.


Bersambung


__ADS_2