
Pagi hari Gatra terbangun lebih dulu.Pemandangan pertama yang di lihat Gatra adalah wajah cantik Cahaya yang masih terlelap dalam dekapannya.
Dengan rambut panjang nan hitam harum aroma shampoo Cahaya membuat Gatra merasakan damai.
"Kasihan sekali kamu,maafin aku, kamu jadi kelelahan gini." ucap Gatra lirih mengecup kening Cahaya.
Gatra melepaskan pelukannya dan perlahan beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Demam yang melanda sudah tak lagi dia rasakan.Sungguh ajaib obat yang di berikan Cahaya padanya begitu manjur.
Gatra terkekeh mengingat kegil*annya yang membuat istri nya kelelahan.
"Kenapa aku nggak bisa mengendalikan diri ku setelah bersama Cahaya, astaghfirullahal'adzim..Gatra,please jangan buat Cahaya menganggap dirinya hanya sebagai alat pemu*s mu saja."gumam Gatra membuat dirinya mengusap kasar wajahnya.
Dua puluh menit dia membersihkan diri akhirnya Gatra mengganti pakaiannya dengan pakaian santai.
Dia mengatakan pada Yuda jika dirinya beberapa hari akan mengambil cuti.Yuda tak bisa menolak apalagi perkataan Gatra adalah perintah.
Gatra melangkah ke arah dapur dan membuat makanan untuk dirinya juga Cahaya.
Setengah jam dia berkutat dengan perdapuran akhirnya Gatra menyelesaikan masakannya.
Gatra masuk ke dalam kamar dan melihat sang istri yang masih tergulung di dalam selimut.Dia naik ke atas tempat tidur dan mendekati sang istri.
Cup
Gatra pun mendaratkan ciuman di kepala Cahaya.
"Bangun dulu sayang,kita makan dulu nanti kamu bisa istirahat lagi,hemm.." bisik Gatra dengan menciumi pipi Cahaya dengan gemas.
"Eeeeeehhhh masss ,ngatuk..."ucap Cahaya dengan suara manjanya dan membalikkan tubuhnya malah masuk ke dalam pelukan Gatra.
"Heiii jangan main-main sayang, kamu bisa-bisa bangunin dia !" ucap Gatra memperingatkan Cahaya karena si kudanil nya saat ini sangat sensitif.
"Apaan sih mas,aku nggak ngapa-ngapain kok."elak Cahaya yang masih ngedusel di dada bidang suaminya.
"Aaaissssttt..kamu ini !!" seru Gatra dan dengan cepat menggendong tubuh Cahaya.
__ADS_1
"Aaaaaaa ..Masss !!" teriak Cahaya saat merasakan tubuhnya yang melayang karena di gendong ala bridal style oleh Gatra dengan keadaan polos tanpa sehelai benang pun.
Gatra tak menghiraukan ucapan istrinya.Dia langsung meletakkan tubuh Cahaya di atas buthube dan mengisinya dengan air hangat.
...----------------...
Di Indonesia Alka yang sedari malam tidak melihat sang bunda pun akhirnya menanyakan nya pada Revi.
"Sebenalnya bunda kemana sih,apa bunda nggak sayang Alka lagi ?!" serunya dengan melipat kedua tangannya di depan dada nya dengan mode kesal.
"Eh bocil,nggak usah drama deh.. pagi-pagi udah drama aja."protes Revi melihat tingkah ponakannya yang terus menanyakan kemana bundanya.
"Aunty nih yang delama,Alka cuma nanya.."ujar nya.
"Kamu nanyaaakkk..beaatgardhj
Sebelum merembet kemana-mana akhirnya Uminya pun membekap mulut Revi.
"Diam,sudah tahu ponakannya lagi bucin sama bundanya,masih aja di ledekin."ucap sang umi menatap tajam putrinya.
Mendengar ucapan sang umi memabuat Revi memanyunkan bibirnya dengan menatap tajam kearah ponakannya yang tertawa terbahak-bahak melihat dirinya di semprot oleh sang umi.
"Iiihhh..biarin,lagian bunda kamu pergi nyusul Daddy,sukurin ditinggal...wleeee!!" balas Revi dengan menjulurkan lidahnya pada Alka.
Mendengar perkataan sang aunty membuat Alka terdiam menatap tajam auntynya.
"Huaaaaa....bunda,aku mau sama bunda,Daddy jahat ambil bunda aku,Alka benci Daddy !!" jerit
Prangggg
Alka mengamuk sejadi jadinya.Hal ini adalah kali pertama dia seperti anak tantrum sampai semua orang pun kuwalahan.
Orang tua Gatra pun di buat geram dengan ponsel anak dan menantunya yang tak aktif.
"Astaghfirullahal'adzim..ini keduanya nggak inget anak di sini kali yah,nggak ada yang bisa di hubungi.Jangan bilang mereka malah bulan madu."gerutu ayah dari Gatra
"Abi kenapa dari tadi ngomel mulu?" tanya sang istri yang duduk di samping nya .
__ADS_1
"Alka gimana?"tanya nya balik.
"Sudah tidur lagi,mungkin kecapean setelah ngamuk tadi."jawab umi Gatra.
"Anak kamu kelakuannya Masyaallah bikin kesel abi, ponselnya nggak aktif dan ponsel Cahaya pun nggak aktif.Pasti Gatra sat set sat set nih.."
"Hahh.. maksudnya bi?" tanya sang istri dengan bod*hanya.
"Kamu ini mi, udah brojolin dua masih nggak mudeng juga."cibir sang suami pada istrinya yang kadangkala susah cepet nyambungnya.
"Ohhh..itu,hihihi...berarti nanti akan nambah cucu bi.."
Abi Saddad hanya menepuk jidatnya mendengar ucapan istrinya tanpa beban itu.
"Aduhhhhh,gimana yaa..bukannya Abi nggak mau punya cucu lagi,tapi..Alka kan lagi bucin-bucinnya sama Cahaya kalau dia nggak terima gimana,kasihan juga Alka..baru juga bisa rasain punya bunda,sekarang pula mantan Duda lagi posesif sama dia ,kita bakalan pusing umi.."keluh Abi Saddad.
Umi Rika pun hanya bisa menghela nafas panjang mengingat anaknya yang mantan Duda kesepian dan butuh belaian pastinya akan posesif dengan menantunya itu.
...----------------...
"Kamu apa-apaan sih Bay,kita kan sudah bahas soal pernikahan,aku ingin kita capai target yang kita impikan.Aku rasa belum saatnya kita menikah."ucap Rana pada Bayu dengan perasaan kesal karena Bayu mengajaknya menikah.
"Tapi, aku nggak mau lebih lama lagi berbuat yang di haramkan Allah Ra.."ucap Bayu dengan munyugar rambutnya dengan frustasi.
"Haram,memang kita ngapain Bay,kita nggak ngapa-ngapain.Sekalipun kita satu apartement kita nggak pernah melakukan yang terlarang."ujar Rana tak mau kalah.
"Kita sudah salah Rana,tinggal satu atap tanpa ikatan itu dosa dan sentuhan fisik pun itu tidak di benarkan apa kita akan selalu membuat dosa setiap saat Rana, Please kita menikah Walaupun siri itu nggak apa-apa yang penting secara agama."ucap Bayu membujuk Rana yang tak lain adalah wanita pujaan hatinya.
"Nikah siri,lalu orang tuamu?"tanya Rana memicingkan matanya.
"Kita menikah siri bisa tanpa kehadiran orang tua ku,kita akan berusaha mendapatkan restu mereka setelah kita menikah.Akj pun nggak perlu wali karena aku laki-laki."ucap Bayu meyakinkan Rana.
"Apa kamu yakin bahwa orang tua kamu akan merestui kita ?"
"Percayalah,lambat lain mereka akan menerima kita kembali.Kita hanya butuh waktu yang tepat.Mungkin kemarin mereka masih marah dengan pembatalan pernikahan ku dengan Cahaya namun,nanti akan kembali seperti semula."ucap Bayu memegang bahu Rana dengan mengadapkan tubuh mereka.
Rana menatap wajah Bayu ,pria yang pernah dia lihat begitu sempurna tanpa cela.Dia begitu memuja Bayu saat itu.Saat tahu Bayu akan menikah dengan Cahaya dia merasakan patah hati namun sekarang entahlah...
__ADS_1
Bersambung