
Ayah Aron yang mendengar suara yang tak asing itu menghela nafas panjang tebakan nya benar jika kaisar Victor telah mengetahi keberadaan putri dan cucu nya.
"Ada apa"tanya ayah Aron.
"Saya ingin melaporkan pada panggila jika nona Azila dan nyonya di temukan tak bernyawa di kediaman panglima"ujar nya membuat ayah Aron terkejut.
"Apa yang terjadi"tanya ayah Aron.
"Belum tahu pasti dari pembunuhan itu panglima tapi pelayan di rumah panglima menemukan mereka tewas secara tragis bersama seorang pria juga"jelas pengawal itu.
"Baik lah tunggu sebentar kami akan ikut ke kota"jelas ayah Aron karna bagaimana pun mereka adalah adik dan keponakan nya.
Ayah Aron segera menaiki tangga masuk ke dalam rumah untuk menemui Azura dan Zian yang masih ada di dalam rumah.
"Azura"panggil ayah Aron dengan baby Zora di gendongan nya.
"Ada apa ayah"tanya Azura heran melihat sang ayah.
"Kita harus kembali ke rumah nak Azila dan bibi mu tewas di rumah"ujar ayah Aron.
"Dari mana ayah tahu"tanya Azura heran.
"Utusan dari kaisar datang memberi tahu kan nya sekarang dia ada di bawah"ucap ayah Aron membuat Azura terkejut mendengar nya.
"Utusan kaisar itu datang jadi dia sudah mengetahui jika aku dan baby masih hidup"ucap Azura di angguki ayah Aron.
"Cepat bersiap kita akan pulang ke rumah untuk pemakaman Azila dan bibi mu"ucap Ayah Aron.
"Ayah terlalu baik pada mereka"ucap Azura.
"Nak cuma mereka keluarga kita ayah menyayangi bibi mu karna hanya dia adik ayah kakek mu juga dulu menitipkan nya pada ayah"ujar ayah Aron tersenyum tipis.
"Baiklah ayah"ucap Azura masuk ke dalam kamar nya untuk memasuk kan semua barang mereka ke dalam cincin milik nya setelah selesai mereka keluar dari dalam bersama Zian juga.
"Salam yang mulia permaisuri"ucap pengawal itu.
__ADS_1
"Ck aku bukan permaisuri kalian lagi"ujar Azura ketus.
"Ayo ayah kita pergi ada dua kuda di belakang ayah bisa menggunakan nya satu dengan Zian dan aku akan menggunakan nya satu bersama Zora"ujar Azura berjalan ke belakang di mana kuda yang ia miliki berada.
"Apa kau tidak masalah menggunakan kuda Zura"tanya ayah Aron.
"Tidak sama sekali yah"ucap Azura naik ke atas kuda karna ia menggunakan celana jadi mudah untuk naik di gendongan nya bagian depan ada baby Azora.
"Baiklah ayo berangkat"ujar ayah Aron juga naik ke atas kuda begitu pun dengan Zian.
"Tunggu dulu"ujar Azura baru ingat dengan Si belang milik nya.
"Apa lagi Zura"tanya ayah Aron heran.
"Bagaimana dengan si belang yah"ujar Azura menatap harimau di samping nya.
"Kita tidak bisa membawa nya Zura"ucap ayah Aron.
"Kau yang akan membawa nya biar aku masuk kan ke dalam kandang dulu"ujar Azura.
"Baiklah"ucap Azura.
"Kau tunggu di sini Belang jangan kemana pun nanti malam aku akan datang menjemput mu Ok"ujar Azura mengelus kepala harimau itu sebentar dan kembali menaiki kuda milik nya.
Kini mereka dalam perjalan menuju ke kota Azura dan baby Zora menikmati perjalanan mereka dengan santai sambil melihat-lihat sekitar menatap takjub pada setiap yang mereka lewati.
"Kau juga suka melihat nya baby"tanya Azura pada baby Zora yang memang selalu di ajak bicara.
"Ya ya ya"ujar baby Zora membuat Azura terkekeh mendengar nya.
"Mommy juga suka karna baru melihat nya kita akan sering jalan-jalan kalau begitu"ucap Azura.
Selama perjalanan hanya ocehan Azura dan celotehan baby Zora yang terdengar membuat ayah Aron tersenyum tipis mendengar kedua nya yang berkicau seperti birung tak berhenti. Tiba di kota banyak pasang mata yang menatap mereka terutama Azura yang membuat mereka terkejut melihat nya karna Azura sudah meninggal setahun yang lalu bersama putri nya kini dapat mereka lihat bersama panglima Aron.
"Hayo terkejut kan maka nya kalau menyerbarkan rumor itu yang benar bukan yang palsu"dengus Azura.
__ADS_1
Kini di kota bukan lagi di hebohkan oleh kematian Azila dan ibu nya tapi kehadiran permaisuri Azura dan putri nya yang masih hidup walaupun mereka tidak bisa melihat wajah anak Azura namun dapat mereka tebak jika itu anak Azura karna Azura menggendong nya kebetulan baby Zora tertidur jadi Azura memasuk kan kepala baby Azora ke dalam kain gendonganan nya.
"Ayo turun"ajak ayah Aron pada Azura.
"Baik yah"ujar Azura segera turun dari atas kuda di bantu ayah Aron karna ia sedikit kesusahan.
Mereka masuk ke dalam sambil bergandeng tangan begitu juga pangeran Zian yang memegang erat lengan Azura tak mau lepas membuat Azura tersenyum tipis menatap bocah tampan di samping nya.
Langkah mereka terhenti menatap tiga peti mati yang di dalam nya ada Azila,ibu nya serta lelaki yang mereka tidak kenal sama sekali.
"Langsung saja di kubur"ujar ayah Aron setelah menatap adik dan keponakan nya itu begitu juga dengan Azura.
Akhir nya ketiga nya di makam kan di belakang rumah Azura yang terletak jauh berbeda dengan makam sang ibu yang berada tepat di taman belakang kediaman itu bersama makam orang tua ayah Aron.
"Kami turut sedih dengan berita yang menimpa panglima"ujar para menteri yang juga hadir di sama untuk memberi bela sungkawa.
"Terimakasih"ujar ayah Aron tersenyum tipis.
Azura sendiri hanya diam saja di samping sang ayah tak berniat berbicara dengan Zian.
"Kak"panggil Zian membuat Azura menoleh.
"Kenapa hmm"tanya Azura merangkul pundak Zian dengan sayang.
"Aku tinggal di sini bersama kakak saja aku tidak mau kembali ke istana itu"ujar Zian membuat Azura terkekeh mendengar nya.
"Bukan nya kau sudah mengatakan jika tidak boleh lagi tinggal di sana saat kau pergi jadi kau akan tinggal bersama kakak di sini"ucap Azura.
"Hehe aku lupa kak"ujar Zian dengan senyum lebar.
"Ck kau ini"ujar Azura.
Perbincangan dan kelakuan kedua nya tak luput dari mereka yang ada di sana,Azura yang dulu memang terkenal baik hanya saja ia tidak suka keluar rumah.
"Pangeran Zian dan permaisuri Azura sangat dekat"ucap mereka di angguki yang lain yang melihat nya.
__ADS_1