
Kyra terbangun lebih dulu, wanita itu menuju kamar mandi. Tak lama sudah keluar dengan bulir-bulir air yang tampak menghiasi wajahnya. Dia mengambil sajadah dari lemari kecil samping tempat tidur, lalu membentangkan di atas karpet. Menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim dengan bersujud menyembah pada sang Khalik.
Usai dengan kegiatannya, ujung mata Kyra melirik pada pria yang terlelap di atas tempat tidurnya. Hati bergetar setiap kali memandangi wajah Kai dalam keadaan mata terpejam. Betapa pria itu masih penuh mengisi hatinya. Namun, mengingat perlakuan buruk yang dilakukan Kai padanya, mencuat kemarahan dan kebencian. SESAAT. Catat! Hanya sesaat, karena sesudah itu rasa cintanya akan kembali menyelimuti.
Kyra mengelus perutnya dengan gerakan pelan, selalu berdoa agar calon anaknya nanti tidak se-kasar dan se-brutal Kai. Andai Kai memperlakukannya dengan baik, rasa cinta yang dimiliki kian membesar.
Bip bip ... Ponsel milik Kai yang ditaruh di atas meja bergetar. Kyra tidak berhasrat untuk menilik siapa yang menelpon di pagi buta begini. Tapi, deringan itu semakin memekakkan telinga, maka Kyra beranjak untuk mengangkatnya. Mungkin saja telepon penting dari Bagus atau Hana.
Dugaanya salah, tertera nama Lidia, membuat kening Kyra mengerut dalam. Dia tahu bahwa Lidia adalah sekretaris suaminya, dan mereka sempat bertemu beberapa kali kesempatan. Hanya saja, apa yang sebenarnya terjalin antara suami dan sang sekretaris itu, dia tidak tahu. Rahasia skandal menjijikan itu begitu rapih disembunyikan.
Ponsel sudah tidak lagi berdering, hanya tak lama dari itu ada pesan masuk. Kyra mengambilnya dan membuka pesan masuk, beruntung ponsel Kai tidak dikunci, jadi dia bisa bebas membuka fitur whatsApp.
'Sayang, dari semalam aku menghubungimu, tapi kenapa kamu tidak balas! Kalau kamu sudah baca, cepetan bales! *Aku tunggu.'
'Hari ini ada jadwal kita ke kantor Adigta, kita bisa mampir*.'
__ADS_1
Deg. Jantung Kyra seketika seolah terhenti. 'Sayang?' Bagaimana Lidia memanggil Kai dengan sebutan sayang? Apa maksudnya? Apa mereka ada main belakang?
Di tempat tidur, Kai terlihat menggeliat, Kyra buru-buru menaruh ponsel dan berupaya pergi ke dapur. Perasaanya mendadak sedih, lalu mengaitkan pesan Lidia tadi sebagai pemicu sikap Kai yang begitu kasar dan membencinya. Apakah Kai menyukai Lidia, hingga pria itu mengabaikannya. Mungkin selama ini mereka berdua memiliki hubungan lebih dari atasan dan bawahan. Terbukti dengan Lidia menyebut Kai dengan sayang.
"Ya Tuhan," ucap Kyra dengan bibir bergetar. Sakit, berati selama ini sia-sia dia menunggu Kai berubah harmonis seperti dulu. Ternyata ada wanita lain yang diam-diam menemani di belakang Kai.
"Bodoh, kau Kyra! Dari dulu pun Kai gak pernah menyukaimu. Kau yang selalu berharap dan beranggapan tinggi." Kyra duduk di meja makan dengan wajah tertelungkup pada dua lengannya. Bukan itu saja, wanita itu sekuat tenaga menahan isak tangis agar tidak terdengar sampai ke kamarnya.
"Kebenaran yang semalam membuatku terkejut, dan paginya aku dikejutkan lagi dengan kebenaran ini. Tuhan ...." Kyra hanya bisa mengulang memanggil Tuhannya. Rasanya begitu sakit, dia pun lelah.
Kyra menghentikan isak tangis tanpa merubah posisinya. Dia tidak mendengar langkah kaki Kai mendekat, tetapi ternyata pria itu sudah berada di belakangnya.
"Pagi ini kita harus pulang." Kai bersuara lagi.
Kali ini Kyra baru mendongak. "Pulang ke mana? Aku tidak mau ke mana-mana."
__ADS_1
"Kau lupa statusmu adalah istriku, kalau aku pulang, kau juga harus pulang."
"Istri? Kau menyebutku istrimu? Tapi apa kau sadar tidak pernah memperlakukan aku layaknya status istri?! Bahkan lebih layak status Bi Mur daripada perlakuanmu padaku." Meski dalam hatinya terasa hancur, namun Kyra berusaha tegar. Dia sudah bertekad tidak ingin terlihat lemah di depan Kai. Jika tidak, pria itu akan semakin berlaku semena-mena.
"Akhir ini kau jadi pembangkang, semakin membuatku muak," desis Kai.
"Aku bukan hanya muak! Tapi jijik melihatmu, Kai!" Kyra tidak gentar menatap manik tajam miliki Kai.
Pria dengan rahang mengeras itu sudah mengangkat sebelah tangannya, tetapi gerakan itu terhenti di udara. 'Sial! Apa yang akan kamu lakukan, Kai. Kau hampir menyakiti Kyra lagi,' batinya.
"Kenapa berhenti!? Ayo, tampar. Siksa aku selagi aku masih menjadi istrimu. Tapi ingat! Sesudah kita bercerai, aku pastikan dari seinci tubuh ini tidak bakal bisa kau sentuh lagi!" Kyra tidak menggunakan nada tinggi, namun setiap kalimat diucap penuh penekanan.
"Kita tidak akan bercerai sebelum aku menghendaki." Sesantai itu Kai membalas.
Kyra tersenyum sinis. "Kita lihat saja nanti." Keduanya saling beradu pandang.
__ADS_1
Padahal sebelumnya wanita bernama Kyra Andini bukanlah perempuan kasar dengan lidah tajam. Dia selalu ceria, bersikap ramah dan lembut. Hanya saja, perlakuan Kai yang merubah Kyra menjadi membangkang.