
Jam kerja hampir usai, namun Kyra tak lekas memberesi meja kerjanya. Perempuan itu nampak melirik satu per satu teman-temannya yang sedang sibuk beberes.
"Andini, kamu gak beres-beres, emang gak mau pulang? Ambil jatah lembur?" Rani memberi runtut pertanyaan.
"Em, enggak! Keknya aku lembur deh." Kyra menyengir. Wajahnya gelisah, takut teman-temannya curiga kalau dia sedang berbohong.
"Yakin kamu lembur sendiri?!" Rani juga tampak memicingkan mata, merasa aneh bila Kyra lembur sendirian padahal yang lain tidak ada jadwal lembur di akhir menjelang weekend.
"Em, iya. Mau ada yang dibahas sama Pak Renko. Udah ada janji," ujar Kyra.
"Wah, Rai ... kamu gak kepanasan?" celetuk Desta berseloroh karena mendengar obrolan Kyra dan Rani.
"Kepanasan apaan?!" Raihan yang menempati kursi paling ujung tidak mendengar, jadi tidak paham dengan ucapan Desta.
"Parah telinga mu soak! Tuh, inceran mu mau lembur sama big bos." Desta seperti kompor meledak. Menjadi api untuk memanasi Raihan.
"Yang bener, Bei," Raihan reflek berdiri dan menatap Kyra dengan wajah terkejut sekaligus gusar.
Sedangkan Kyra sendiri mengernyit bingung mendengar panggilan Raihan padanya yang baru pertama kali memanggilnya bei.
__ADS_1
"Wew, kalah derajat lo, Rai," timpal Kevin ikut mengompori.
"Sungguh tega kamu patahkan semangatku, Bei." Raihan duduk kembali dengan lemas. Wajahnya dibuat murung. Hal itu justru membuat teman-teman yang lain tergelak. Tapi Raihan tampak tak perduli sama sekali.
"Maaf, Mas, ini cuma lembur biasa. Mas dan yang lain jangan salah paham." Kyra menjelaskan.
"Udah, aku pulang duluan," pamit Raihan.
"Eh, ngambek beneran Rai?" ucap Desta sewaktu Raihan melewati meja kerjanya.
"Mas?" Kyra mendadak tak enak hati. Dari panggilan Kyra, Raihan berhenti sejenak di depan meja Kyra. "Mas marah?"
"Enggaklah! Kamu kira aku kang ngambek. Santai aja, Bei. Aku akan bersaing dengan gentle." Kembali ruang devisi dua dibuat ketawa dengan ucapan Raihan. Sedangkan Kyra tersenyum.
Satu per satu izin pulang dan meninggalkan Kyra sendiri. Perempuan itu keluar ruangan, dan tak menyangka kalau bertemu Renko yang baru keluar dari lift. Pria itu tersenyum dan melambaikan tangan agar Kyra ikut menyusul masuk ke lift.
Kyra mengangguk sungkan dan memilih berdiri di belakang Renko, namun pria itu mundur dan menjajarinya berdiri. Sebenarnya sungkan hanya berdua dengan Renko. Selain itu, pikirannya justru terbayang dengan Kai.
Renko menyuruh security untuk menyiapkan mobil di depan lobi, setelahnya mereka berdua pergi meninggalkan gedung Fashion dan Jewelry.
__ADS_1
Beberapa meter perjalanan mereka ditemani keheningan, hingga Renko tak tahan untuk menyudahi sepi.
"Diam aja, kamu gak nyaman pergi denganku?"
"Eh, enggak, Pak, cuma bingung dan canggung. Maaf kalau sikap saya bikin Bapak gak nyaman."
"Aku yang gak nyaman kalau kamu diem aja. Ngobrol dong." Sesekali Renko menoleh ke arah Kyra, namun tetap fokus melihat jalanan.
"Ngobrol apa? Saya juga bingung."
"Jangan-jangan kamu grogi satu mobil denganku?" Kyra mengangguk.
"Biasa aja. Anggap aku seperti teman satu devisimu. Kamu suka becanda dengan mereka."
"Kok Bapak tahu?" Kyra menoleh dengan tatapan menyelidik. Renko yang ditatap demikian mendadak gelagapan.
"Ya ... cuma nebak aja," katanya.
"Oh." Kyra mengangguk-angguk.
__ADS_1
Padahal sejak Renko memiliki getaran aneh dengan Kyra, pria itu sering mengintip lewat CCTV. Melihat senyum wajah Kyra sekilas saja mampu membangkitkan energi positif baginya.
'Apa secepat ini aku bisa jatuh cinta dengan Andini?'