
Sejauh Kai berusaha, namun belum berhasil menemukan keberadaan Kyra. Puluhan anak buah sudah dia kerahkan untuk mencari wanita itu, tetapi belum membuahkan hasil.
Deringan ponsel menyita perhatiannya, tanpa melihat nama yang tertera, Kai langsung menjawabnya.
"Kai, susul aku di kelab biasa," suara manja di seberang telepon membuat Kai langsung melihat layar ponselnya. "Oh, ****!" umpatnya.
"Apa Kai?" tanya Lidia yang hanya samar-samar mendengar.
"Kenapa menghubungiku!" sentak Kai.
"Hei, kau kenapa sengak begitu!" balas Lidia. "Susul aku di kelab biasanya"
"Cih! Kau tidak lihat sikon! Aku hampir gila karena Kyra pergi dan kau malah mengajakku ke kelab. Di mana otakmu! Dasar bodoh!" ujarnya dingin.
"Ck. Bukannya bagus wanita itu pergi. Dia ada juga tidak ada pengaruh apapun. Dia pergi kenapa kau seheboh itu." Lidia membalas santai.
"Ini yang ku bilang bodoh!" Kai mendekus. "Kyra pergi, dan sebentar lagi aku juga akan pergi dari posisiku sekarang. Papi akan mencabut semua fasilitas yang ku punya saat ini."
Di seberang telepon mulut Lidia menganga lebar. Oh, my ghos! Dia hampir lupa dengan hal itu. Berarti Kai akan kehilangan semuanya. Tidak!
"Maaf, aku lupa akan hal itu," suara Lidia melemah. "Em, baiklah. Aku akan ikut membantu mencari."
"Sayang, lupakan sebentar masalah istrimu yang hilang itu, aku sangat rindu. Ayolah, susul aku kemari," rengeknya.
__ADS_1
"Tidak penting!"
Nut ... Panggilan diakhiri oleh Kai. Pria itu memejamkan mata. "Di mana kamu, Kyra."
•
"Mi, Kai tidak menghubungimu?"
"Belum. Anak itu sama sekali belum menelpon."
"Papi ingin lihat, sejauh apa dia akan menutupi Kyra yang pergi dari rumah."
"Sebenarnya Mami khawatir Kyra tinggal sendirian di luaran sana tanpa penjagaan sama sekali, Mami takut ada orang yang jahatin Kyra. Tapi mau bagaimana lagi, itu keinginan Kyra sendiri." Hana berkata dengan helaan napas panjang. Mengingat Kyra mengiba agar dia dibiarkan hidup bebas tanpa bayang-bayang siapapun. Mau tak mau Hana menuruti meski dengan berat hati.
"Apa Mami percaya begitu saja? Papi tidak akan lepas begitu saja, Kyra tetap Papi awasi tapi tanpa sepengetahuan Kyra."
"Serius. Mana mungkin Papi biarkan Kyra pergi begitu saja. Kita punya amanah dari Almarhum Yasmin untuk menjaga Kyra. Kalau terjadi sesuatu pada Kyra, kita akan menanggung dosa. Sekaligus menanggung rasa bersalah."
Hana tersenyum. "Papi mantap!" pujinya.
"Iya, dong. Bagus Wiratama." Bagus membanggakan diri. "Mami kira Papi pasrah gitu aja. Kyra sudah seperti anak kita, bahkan lebih baik Kyra daripada Kai. Jika bisa ditukar, dari dalam perut sudah ku minta untuk ditukar. Tapi, mau gimana lagi. Kita dapat anak yang bersikap buruk seperti Kai."
Hana menggelengkan kepala. "Eh, Pi. Tindakan Kai sudah sangat keterlaluan, harus kita apakan anak itu?"
__ADS_1
"Papi akan berikan hukuman setimpal." Bagus memandang lurus. Wajahnya sangat serius.
"Iya hukuman yang seperti apa?" Hana mengejar penjelasan. "Papi tidak akan hukum Kai dengan mencabut ahli warisnya kan?"
"Itu salah satunya. Dengan cara itu, mungkin seimbang dengan rasa sakit yang dirasakan Kyra sedari awal pernikahannya tak mendapat perlakuan baik dari Kai. Biar Kai belajar menjadi orang biasa tanpa membanggakan kekuasaan."
Sejauh ini, Kyra tidak memberitahu tentang perselingkuhan Kai dan Lidia. Kyra hanya memberitahu tentang Kai yang memperlakukannya dengan buruk, juga tentang Kaina yang bisa hadir di antara mereka. Jika Kyra memberitahukan hal itu, bisa saja Bagus semakin murka.
•
Kai berjalan gontai menuju kamarnya. Saat membuka pintu, dia disambut dengan keadaan hening, gelap gempita. Dia meraba dinding untuk menjangkau saklar listrik dan menghidupkan lampu kamar.
Ketika ruangan terang benderang, ujung matanya melirik sofa di ujung ruangan. Biasanya, Kyra duduk di sana dengan mata yang fokus menonton televisi. Malam ini hampa, tak mendapati pemandangan itu lagi.
Saat ini, entah bagaimana dia menunjukan apa yang dirasa. Bila ada pertanyaan apakah dia merasa kehilangan? Tentu saja dia sangat kehilangan.
"Kyra ...," bibirnya menggumam satu nama yang membuatnya tak karuan. Tanpa siapapun, kini dia sangat malu untuk mengakui bahwa dia merindukan sosok Kyra. Dia merasa tidak pantas merindu, terlepas dari perlakuannya dulu yang sadar menyakiti wanita itu bukankah seharusnya Kyra memang pergi, agar tidak tersakiti dengan keegoisan dan kebodohannya juga rasa bersalah yang mungkin hanya sekedar ada dibenaknya.
Andai membicarakan cinta, pantaskah dia mengagungkan cinta yang dimiliki. Nyatanya dia justru bertingkah sebaliknya. Cintanya hanya dia sembunyikan dalam amarah.
Kai menunduk dalam. Tak terasa cairan hangat merembes keluar. Dia sangat rindu namun merasa tak pantas.
Kini, bukan hanya rasa bersalah pada Revan, tetapi pada Kyra juga. Kai diam sejenak merenungi semuanya. Tiba-tiba dia mendongak. Surat! Semua kehancuran itu gara-gara surat sialan itu.
__ADS_1
Kai bangkit menuju ruang kerja. Dia membuka kotak kecil dan nanar mengamati surat usang itu. Tangannya terkepal dan bergetar. Bertekad untuk melenyapkan surat itu, tetapi ... ada keraguan juga.
"Gara-gara peninggalanmu ini aku dihantui rasa bersalah, Van. Akhirnya Kyra pergi, aku harus bagaimana? Datanglah dan katakan padaku aku harus bagaimana?"