
Kai duduk di dekat pintu masuk dengan dinding terbuat dari kaca tebal, hingga dia bisa melihat pemandangan luar. Sesaat netranya mengamati mobil sport biru tua metalik yang baru masuk wilayah cafe dan sedang menuju area parkir. Dia tidak tahu siapa pemilik mobil itu sampai sosok pria jangkung keluar dan lumayan membuatnya terkejut. Renko?
Pria tampan dengan jas putih berjalan masuk ke dalam cafe. Beredar mencari seseorang dan menemukan Kai melambaikan tangan padanya.
"Hai, Kai. Apa kabar?"
"Kabar lumayan buruk." Kai bangkit, keduanya membuat gerakan seperti yang dilakukan kebanyakan ala-ala anak muda. Memeluk dan menepuk bahu masing-masing.
Renko mengangguk-angguk. Keduanya duduk berhadapan. Kai memanggil waiters untuk memesan makanan dan minuman.
"Berapa abad kau tidak pernah menghubungiku. Ada apa nih?" tanya Renko to the poin.
"Kau tidak ingin mengisi perutmu dulu?"
"Nggak ada waktu, Kai."
"Cih, kau bisa sombong juga." Kai berdecih, namun dalam artian bukan menghina sebenarnya.
Renko tersenyum miring. "Kau yang mengajariku sombong. Aku belajar darimu."
Kai memutar bola mata ke atas.
"Ohya, aku turut prihatin dengan masalah yang menimpamu. Tragis sih man, tragis," imbuhnya.
__ADS_1
"Yah ... begitulah. Aku sampai nggak bisa berkutik. Semua hancur, Ko. Lebur selebur-leburnya, nggak ada sisa."
"Itu kamu sendiri yang buat."
"Lalu sekarang kau prihatin atau malah menyalahkanku?"
"Dua-duanya." Renko tersenyum.
Pelayan cafe datang membawa pesanan dan menyuguhkan di hadapan mereka. Setelah pergi, Kai mengawali berkata untuk menyampaikan maksud tujuannya.
"Ko, tarik aku ke kantormu."
Pria bernama Renko sudah tidak terkejut dengan permintaan Kai. Dengan kasus yang menimpa temannya itu, sudah bisa ditebak kalau Kai meminta bertemu pasti karena alasan ini.
Sungguh, Renko masih ingat perkataan-perkataan Kai ketika mereka bertemu beberapa waktu lalu yang terus mengejek usahanya tak bisa berkembang. Meski hanya sebagai bahan candaan, tetap saja masih teringat.
"Kaisang Adipta Wiratama di depanmu sudah berbeda. Aku butuh pekerjaan. Kau tega melihatku seperti gembel?"
"Aku menggaji karyawan hanya 3 juta, yakin kau mau bekerja di perusahaanku?"
"Gila, parah, Ko! 3 juta?" Antara terkejut dan tertegun. Bukan dia tidak tahu berapa gaji karyawan. Hanya saja, gaji 3 juta sama dengan gaji cleaning servis.
Dering ponsel mengalihkan Renko untuk menjawab telepon. Pria itu menjauh dan berbincang serius. Sekitar 2 menit, kembali duduk di depan Kai.
__ADS_1
"Sorry Kai, aku harus cabut sekarang. Kalau sudah memutuskan, kau bisa menghubungiku lagi." Renko berdiri, mengambil dompet dan mengambil uang untuk membayar bil. Dia tahu uang Kai mungkin menipis.
"Thanks," ucap Kai. Dan Renko sudah berlalu pergi.
"Apa dia pelit! Mobil dia keren, tapi menawariku pekerjaan dengan gaji 3 juta. ***! Yang benar saja."
~
Di perjalanan, Renko tersenyum. "Kamu mau juga menerima tawaranku. Ini demi masa depanmu dan masa depanku," ucapnya. Entah apa maksud ucapan itu.
Beberapa saat lalu, Kyra menelpon Renko. Bila penasaran dari mana Kyra mendapat nomor telepon pria itu. Semua tak lain, Renko--lah yang menghubunginya lebih dulu. Pria itu mendapatkan nomor ponsel dari data pribadi Kyra. Tak dipungkiri bila Renko memiliki getaran suatu pada Kyra.
.
.
.
.
.
Biar Akak Mei semangat, tolong tinggalkan jejak ya. Like, komen. Isi sampai 100 komen nanti Akak Mei lanjut.🤭🙏
__ADS_1