
Bibir tipisnya tersenyum kecut, namun sudut mata tak henti menumpahkan kristal-kristal bening. Dia melangkah dengan gontai, berdiri berapa detik di depan pintu untuk menguatkan hati. Tangannya meremas pakaian hingga kusut tak berbentuk. Pelampiasan rasa sakit yang seperti merajam hatinya.
"Kuat, kamu harus kuat. Jika mereka berbuat menjijikan, berati Tuhan ingin menunjukan padamu kalau Kai bukan lelaki yang pantas kamu perjuangkan," bisiknya lirih pada diri sendiri.
Tangan gemetar itu menyelipkan kartu masuk, hingga kunci pintu terbuka sendiri. Dia tinggal mendorong pintu dan akan terkuak apa yang terjadi.
Dia menguatkan diri untuk masuk ke dalam. Saat kembali menutup pintu, telinganya dapat mendengar suara de sahan saling bersahutan. Ya, Tuhan ....
Deg! Hancur! Dunia seolah mendadak hancur. Pemandangan di atas ranjang hotel membuat tubuhnya menegang seketika. Bola mata melebar dengan air mata tak henti merangsek keluar.
'Tuhan, inikah yang sesungguhnya? Inikah kelakuan Kai di belakangku selama ini? Inikah fakta yang ingin Kau tunjukan secara langsung padaku. Sakit, Tuhan ....'
'Kuat. Kamu pasti kuat!'
Kedua manusia yang masih asyik berperang birahi masih tidak menyadari keberadaan seseorang, sampai suara 'bruk' orang terjatuh menyita perhatian keduanya.
"Kyra?!"
__ADS_1
Isak tangis Kyra tumpah seketika mendengar suara Kai memanggilnya. Kai gegas mencabut si jekki, sedangkan Lidia meraih selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Menjijikan Kai! Kamu benar-benar menjijikan. Sungguh bejad kelakuanmu" Kyra berusaha kuat. Dengan pelan dia mencoba berdiri. Tatapan matanya menyorot tajam. Dia hapus air mata dengan gerakan kasar. Tidak perlu menangisi perbuatan bejat suaminya.
Sesudah berdiri dengan seimbang, Kyra berkata. "Aku akan kembali ke rumahku. Jangan paksa aku untuk pulang. Kita akan bertemu nanti di pengadilan." Dengan cepat, dia berbalik dan keluar.
Tetapi Kai setengah berlari menjangkau lengan Kyra, menahannya di belakang pintu.
"Kita tidak akan bercerai," tegas Kai.
"Aku pastikan pihak pengadilan tidak menerima gugatan ceraimu."
Nyatanya Kai tidak risih dengan tubuh polosnya.
"Apapun caranya, kita akan tetap berpisah. Setelah menyentuh wanita lain, lalu kau menyentuhku. Menjijikan!" desis Kyra yang menyentak tangan Kai hingga cengkraman itu terlepas. Setelah itu dia berusaha keluar, tetapi Kai tidak membiarkannya.
"Lidia, pergilah!" bentak Kai.
__ADS_1
"A-aku?" di atas tempat tidur, wanita bernama Lidia itu terkejut karena Kai justru mengusirnya.
"Pergi!" ulang Kai.
"Kai, lepas! Bukan dia yang harusnya kamu usir, tapi aku! Maka senang hati aku akan pergi," sela Kyra. Kai tidak membalas.
Lidia memunguti pakaian yang berserak di lantai, dia bahkan sampai mencari-cari pakaian da lamnya yang ternyata berserak di bawah kolong tempat tidur. Dia berlari ke kamar mandi untuk memakai pakaian dengan lengkap dan keluar dengan cepat.
"Jangan bilang setelah ini kamu akan berganti menjamahku! Kalau kau lakukan itu, aku akan melapor ke polisi dan nama baikmu akan tercemar."
"Kau mengancamku?!"
"Menurutmu?!"
Kai mengunci pintu dan membawa kartu akses itu bersamanya. Dengan santai memunguti pakaian seperti yang dilakukan Lidia tadi dan memakainya di situ juga.
Kyra yang malu dengan apa yang dilakukan Kai, hanya membuang muka. Sekaligus meneteskan air mata. Saat ini, betapa hancur, remuk redam hatinya melihat langsung skandal suaminya bersama wanita yang bernama Lidia. Pantas saja Kai tak pernah memperlakukannya layaknya seorang istri, bahkan melakukan kewajiban sebagai suami pun terhitung hanya dua kali. Miris sekaligus ironi. Mungkinkah karena skandal ini?!
__ADS_1