
Kai merogoh ponsel dan lekas menghubungi nomor Kyra, namun sedang di luar jangkauan. Pria itu memijat kepalanya sebentar. "Dasar ...! Bisa gak sih gak merepotkan!" desisnya dengan nada kesal. Tanpa mengganti baju, Kai kembali keluar rumah, menuju garasi untuk kembali mengendarai mobil.
"Kemana dia pergi?" gumamnya bertanya sendiri. Meski kesal, namun diiringi kecemasan. Dia memang membenci setiap berada di dekat Kyra, tapi tak sampai hati bila terjadi sesuatu dengan wanita itu.
Kei melajukan mobil dengan kecepatan sedang, juga sesekali menolehi pinggir jalan. Siapa tahu menemukan Kyra yang tengah berjalan. Tetapi nihil, sepanjang yang dilewati tak ada seluet Kyra yang ditangkap.
Selama menjadi istrinya, Kyra jarang keluar rumah. Wanita itu hanya menghabiskan waktu berjibaku dengan urusan memasak dan bersih-bersih rumah. Semua itu karena pesan almarhum mertunya, bila Kyra menikah, dia harus mengabdi dan menjadi istri yang baik dengan menjadi wanita yang hanya berada di rumah.
Kai buntu, tak ada tempat yang bisa diterka untuk keberadaan Kyra saat ini. Dia mencoba menghubungi Kyra lagi, namun jawabannya masih sama. Nomor yang Anda hubungi sedang di luar jangkauan ....
Kai menyusuri jalan tanpa adanya tujuan pasti. Pria yang lelah karena baru saja pulang kantor dan harus berkeliling tak tentu arah itu akhirnya menepikan mobil di pinggir jalan, sambil memikirkan kemungkinan kemana Kyra pergi.
__ADS_1
"Apa dia pulang ke rumahnya?" Kai menerka-nerka. "Tapi perjalanan ke rumah Kyra yang dulu sekitar 2 jam. Apa aku ke sana sekarang? Sangat jauh," keluhnya. "Iya, kalau dia ada di sana. Kalau enggak?!" Kai bermonolog sendiri. Tampak menimang dan jelas ragu-ragu.
Dia bingung, sesaat diam sejenak. Ingin mengabaikan Kyra, tetapi dasar hatinya justru menggebu dengan kecemasan. Apalagi kondisi Kyra dikatakan belum cukup baik, kemungkinan ada hal buruk yang bisa saja terjadi. Akhirnya Kai melajukan mobilnya menuju jalanan rumah Kyra.
Memasuki Jalanan Numbangan, Kai membelokkan setir ke arah kanan, sekitar 2 kilo meter akan sampai di rumah Kyra yang dulu. Sampai di sana waktu sudah menunjukan pukul 8 malam karena Kai tadi sempat berhenti di pom bensin juga rest area untuk mengistirahatkan otot dan menghilangkan kantuk.
Kai turun dari mobil dan berdiri di depan pagar rumah, ternyata dalam keadaan digembok. Apa itu artinya Kyra tidak pulang ke rumahnya?
Pria yang awalnya kesal itu menoleh ke kanan dan kiri, namun sepi. Tiba-tiba hawa dingin menyelimuti. Bulu kuduk cukup meremang.
Kai bukanlah pria yang gampang parno. Hanya saja dia yakin, setiap siapapun yang berada di situasi sekarang pastilah mengalami apa yang dirasa yaitu merinding. Karena sekeliling lumayan sepi dan tak ada aktifitas warga yang berada di luar rumah. Terlebih lagi, bangunan yang ada di hadapannya saat ini sudah lama kosong, dia menebak jika ada penghuni lain yang menempati.
__ADS_1
Sebenarnya dia sedikit aneh, karena masih pukul 8 malam tetapi warga tidak ada yang terlihat.
Sreet ...! Kai melebarkan bola mata saat telinganya mendengar sesuatu. Ingin bergerak tapi seolah otot-ototnya terasa kaku, hingga dia tetap berdiri dengan ketakutan.
Whuussh ... brak!
"Anj*ng! Hantu!" teriak Kai dan berlari terbirit-birit dan justru meninggalkan mobilnya di pinggir jalan depan rumah Kyra.
"Meong-meong ...." Bukan Kai saja, kucing yang juga terkejut dengan teriakan Kai, ikut berlari ke arah berlawanan. Padahal, suara benda jatuh barusan berasal dari kucing yang gagal melakukan lompatan dan menjatuhkan pot bunga milik Bu Yanti. Depan rumah Kyra, namun menimbulkan suara cukup keras.
Kai terus berlari hingga menemukan sekelompok orang berkerumun. Dia berhenti dengan jarak sekitar 10 meter. Pria itu mengatur napas yang terengah-engah. "Bedebah! Hantu sialan! Aku sampai berlari ratusan meter. Hah ... hah ...."
__ADS_1