
Renko menjatuhkan diri di ranjang king size empuknya. Bibirnya tak henti menyungging senyum kala mengingat hari ini sudah berhasil mengajak Andini pergi berdua, meski hanya pergi ke gedung fakultas dan mampir ke cafe sudah membuatnya senang bukan kepalang.
Ia memikirkan langkah selanjutnya untuk bisa lebih mengakrabkan diri, syukur-syukur bisa lebih dari itu. Melakukan pendekatan dan mengajak ke pelaminan. Hem ... sungguh indah khayalannya.
~
Sesudah membersihkan diri, Kyra menuju ruang tengah dan menghampiri Kaina yang asik bermain di pangkuan Bu Idah.
"Kaina, sini, ikut Bunda." Kyra mengambil alih Kaina dan memindahkannya ke pangkuannya. "Bu, sepertinya berat badan Kaina lebih ringan. Ibu tidak lupa 'kan meminumkan vitamin?"
"Tidak Non. Masa Non Kecil ringan? Padahal makannya lahap dan sering nambah, tuh. Mungkin perasan Non saja. Toh, akhir-akhir ini Non jarang bersama Non Kecil," kata Bu Idah.
Kyra menghela napas panjang, dia menciumi wajah Kaina dengan harum khas minyak khusus anak kecil. "Maafin Bunda, ya, Kaina. Sekarang Bunda semakin sibuk, jarang ada waktu buat kamu. Tapi ini semua demi masa depan kita. Doakan Bunda sukses, Bunda akan usahakan mencari dokter hebat buat nyembuhin Kaina." Kyra merengkuh tubuh Kaina. Sudut matanya meneteskan air mata. Sungguh, hatinya diambang perasaan sedih yang teramat. Perjuangannya belum dimulai tapi dia merasa telah mengabaikan Kaina, dadanya terasa sesak. Kaina tak mendapat kasih sayang dari seorang ayah, bahkan kini dia pun mulai tak ada waktu untuk putrinya.
__ADS_1
Kaina memang tak bisa merengek, tak bisa menyuarakan keinginannya, tetapi sebagai ibu, dia pun peka terhadap keinginan putrinya. Setiap kali dia berpamitan untuk pergi, Kaina seolah bersedih. Sungguh, maafin Bunda, Nak.
"Non, Ibu tahu ini berat, tapi Non harus tegar demi masa depan Non sendiri juga Non Kecil. Setelah Non berhasil menyelesaikan kuliah dan bisa menjadi orang sukses, Non bisa mengganti waktu Non bersama Non kecil. Selain itu, Non juga bisa membalas mantan suami Non," ujar Bu Idah memberi masukan, melihat Kyra menangis, dia mencoba menebak apa yang dipikirkan Kyra.
"Ya ... mungkin perkataan Bu Idah benar, tapi Kyra sedih setiap kali tak punya waktu bersama Kaina. Walau Kaina belum bisa bicara, tapi Kyra tahu kalau dia pun ingin punya waktu bersamaku."
"Setiap malam Non juga sudah bersama Non Kecil."
"Assalamu'alaikum, Mi."
'Walaikum salam, Kyra. Mami merindukan kalian.'
"Aku dan Kaina juga merindukan Mami. Mami apa kabar?"
__ADS_1
"Mami baik, Sayang. Kamu dan cucu Mami baik juga, kan?"
"Iya, baik."
"Sesudah Mami dan papi pulang dari Paris, kami akan mengunjungi kalian," ujar Hana.
"Mi, seperti permintaan Kyra. Kita jangan bertemu dulu, aku takut Kai mengikuti Mami dan akhirnya tahu kalau aku dan Kaina tinggal di sini. Ku mohon Mi, ini demi kebaikan aku dan Kaina."
Di seberang Hana menghela napas berat. Bahkan deru napasnya terdengar aneh, mungkin sedang menahan tangis.
"Mami sudah nggak ada kontak dan tidak pernah bertemu Kai, dia tidak mungkin memata-matai Mami. Kemarin Kai datang ke cafe, tapi Mami tidak menemuinya. Sepertinya dia kecewa," cerita Hana.
"Mi, biarkan Kyra dan Kaina yang menjauh dari Kai, tapi Mami dan papi sepertinya tidak perlu. Mami dan papi tetap sebagai orang tua." Kyra memang menginginkan kehancuran Kaisang Adipta Wiratama, tetapi sekarang dendamnya sudah tidak lagi membara. Melihat Kaisang bukan menjadi siapa-siapa, semua sudah cukup baginya.
__ADS_1