
Sesudah mengenakan pakaiannya kembali, Kai mendekati Kyra dan menyuruhnya untuk pulang bersama.
"Aku gak sudi tinggal satu atap lagi denganmu, Kaisang Adipta Wiratama!"
"Jangan paksa aku berbuat kasar padamu, Kyra," timpal Kai. Keduanya saling beradu tajam.
"Setiap hari kau sudah berbuat kasar, Kai. Sangat dan sangat kasar. Bahkan yang barusan sudah melampaui batas. Istri mana yang sudi kembali setelah melihat secara langsung suaminya berbuat tidak senonoh dengan wanita lain!?" Kyra menatap tajam, meski kedua matanya memerah, dia berusaha menghalau kristal bening agar tidak berdesakan tumpah.
"Jika bukan demi dia, saat ini juga aku sudah membuat perhitungan denganmu," imbuhnya.
Kai bergeming dengan sorot mata membalas tatapan Kyra. Bibir itu bungkam, namun hatinya bermonolog tiada henti.
'Tuhan, maafkan aku telah menyakiti Kyra lagi. Aku tahu saat ini hatinya mungkin sangat hancur. Kau bodoh, bangsat, bajingan, Kai. Benar kata Kyra, kau itu monster,' batik Kai berkecamuk.
__ADS_1
'Haruskah aku ikut menyusul Revan agar semua kenangan buruk itu bisa lenyap.'
'Aku kehilangan arah. Aku menyayangimu, Kyra. Tapi, rasa bersalahku lebih besar dan mengalahkan perasaan yang ada. Sejujurnya aku takut kehilanganmu, tapi aku juga lebih takut setiap kali teringat kemarahan Revan padaku. Kau tak tahu, aku sedang terombang-ambing dengan perasaan bertolak belakang.'
Menatap kedua mata Kyra yang basah dengan air mata, dasar hati Kai benar-benar tidak tega. Namun, apa yang harus diperbuat, semua sudah terlanjur porak poranda.
"Kyra ...." Kai memanggil lirih. Tepat saat itu, air mata Kyra menetes. Membuat Kai langsung merengkuh tubuh kurus Kyra, namun mengontrol jarak sedemikiannya agar tidak menyakiti calon anaknya.
"Kamu jahat, Kai! Jahat! Tolong lepaskan aku, kalau kamu tidak bisa membalas perasaanku, setidaknya bebaskan aku. Kamu gak tahu bagaimana kesakitan dan tersiksanya aku selama berada didekatmu. Aku harus berperang dengan perasaanku sendiri. Kau benar-benar menghancurkan aku, tapi kenapa aku tidak bisa membalasmu. Kenapa?!" Kyra menumpahkan segala yang dipendam. Dia benci dengan perasaanya sendiri, bukankah hatinya sudah hancur berkeping-keping, tapi kenapa merasa nyaman dalam pelukan suami brengseknya itu. Dia menerutuki keadaan yang bertolak belakang antara hati dengan perasaanya.
Tak sepatah katapun keluar dari mulut Kai, pria itu justru mengucap kata maaf berulang kali di dalam hati.
Hanya waktu dan isak tangis yang bergulir di tengah-tengah mereka hingga Kyra tersadar dengan keadaan.
__ADS_1
"Lepas, Kai. Tolong lepaskan aku," pintanya dengan lirih tetapi justru membuat Kai melemah dan melepas pelukannya.
"Aku akan berusaha tidak menyakitimu lagi ...."
"Bohong!" timpal Kyra cepat. Tangan Kai sudah akan menyentuh pipi Kyra, tetapi segera ditepis.
"Kita pulang sekarang," ucap Kai. Pria itu menarik tangan Kyra dan mengajak untuk keluar. Kyra yang tidak bisa menolak, hanya mampu mengikuti langkah Kai.
Di sepanjang perjalanan keduanya hanya membisu. Kai tetap melajukan mobil ke rumahnya. Sampai di rumah, Kai lagi-lagi membawa Kyra masuk ke dalam. Bi Mur dan yang lain terkejut melihat majikannya pulang, tetapi tidak berani mencegat keduanya.
"Jangan pergi ke manapun! Dan jangan pulang kembali ke rumahmu!" Kai memberi peringatan.
Kyra yang dongkol hanya mendekus. Namun, dalam hati berencana akan kabur bila ada kesempatan.
__ADS_1