Aku Yang Kamu Buang

Aku Yang Kamu Buang
Seperti Orang Frustasi


__ADS_3

Bagus benar-benar tak memberi toleransi pada Kai. Jabatan CEO justru dialihkan pada sekretarisnya sendiri. Sedangkan putra semara wayangnya itu tidak lagi menjabat apapun di Perusahaan Wiratama, meski Kai memiliki nama akhiran Wiratama tetapi tak berpengaruh apa-apa.


"Sial-sial!" Kai menendang angin dengan perasaan kesal. Padahal, usahanya itu hanya menunjukan betapa dia seperti orang bodoh yang sedang frustasi. Bahkan, sesekali dia menjambak rambutnya sendiri.


Apakah tidak ada yang mengenali Kaisang Adipta Wiratama? Tidak! Karena waktu menunjukan pukul 1 dini hari. Kai berjalan gontai menyusuri trotoar yang sepi kendaraan. Dia baru saja keluar dari apartemen sederhana yang dia beli dengan uang tabungannya. Tabungan dengan nominal 200 juta rupiah. Uang segitu, hanya seharga jam tangannya saja. Tetapi, kali ini dia harus bertahan hidup dengan sisa pembelian apartemen.


Pria itu tak henti memaki, mengucap sumpah serapah. Dengan sesekali mendongaki langit untuk bertanya di mana Kyra berada. Bukan hanya rindu, tetapi dia butuh Kyra untuk berkeluh kesah. Betapa kini merasa menyesal, kenapa dulu berbuat jahat pada wanita itu.


"Van, apa kamu puas liat aku begini? Dulu aku menyakiti Kyra hanya karena rasa bersalahku padamu. Saat ini aku hancur gara-gara rasa itu, Van. Aku hancur! Kamu tega, Van." Tak terasa air mata telah merembes keluar. Kai menjatuhkan diri di samping trotoar. Pria itu ingin meraung, menangisi takdir hidupnya.


"Mami, bahkan Mami juga tega jauhin Kai." Dia tidak bisa menghubungi nomor Hana karena sudah tidak aktif. Mungkin sudah diblokir.


Setelah semua titik terendah, Kai sendiri belum tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya.



Kyra sedang mengendarai motor matic menuju gedung 'Fashion Busana & Jewelry' di mana dia mengadu nasib untuk mencari rezeki. Sesudah menempel kartu absensi, Kyra masuk ke ruangannya dan meneruskan pekerjaan yang kemarin.


"Pagi, semuanya," sapanya ramah.


"Pagi, Andini caem-caem," sahut Raihan dengan senyum khasnya.


"Pagi, Mas Rai."


"Uhui, Mas Rai, baru ini dipanggil Mas. Kirain nunggu nanti kita halal baru manggil Mas."


"Elah, nih berdua romantis amat," celetuk Desta. Sedangkan yang lain tidak menanggapi dan sibuk membuka laptop masing-masing.


"Harus, Ta. Kalau berjodoh, kalian bakal dibuat iri dengan kebersamaan kami tiap harinya."


"Mas Rai apaan?" Kyra menyipitkan mata tanda tidak setuju.


Tok ... tok ...! Setelah terdengar pintu diketuk, tak lama Bu Nisa masuk.


"Siapa yang desain pakaian casual kemarin?" tanyanya dengan meneliti wajah yang ada di ruangan satu per satu.

__ADS_1


Kyra, Alvin dan Desta saling pandang. Karena mereka bertiga yang menyelesaikan rancangan dengan model baru dan juga hasil paduan mereka sendiri.


"Hei, kenapa kalian suram durja begitu? Justru perusahaan mendapat pemesanan melonjak dari hasil desain kalian. Baju yang kalian rancang sangat laku di pasaran," katanya antusias.


"Beneran, Bu?"


Bu Nisa mengangguk dan tersenyum. "Nanti satu jam lagi Pak Renko ingin bertemu kalian."


"Wuih, dapet bonus nih," kata Alvin.


"Ya, semoga aja."


Satu jam berlalu, mereka bertiga menuju lantai 10. Di mana ruangan Pak Renko sang pemilik perusahaan berada.


"Selamat pagi, Pak." Desta yang mengucap, sedangkan yang lain tersenyum dan menundukkan kepala sebentar.


"Pagi. Silahkan duduk!" Tak seperti bayangan, ternyata pria yang dipanggil Pak Renko masih muda dan terlihat berkharisma.


Karena kursi tunggal di depan mejanya hanya ada 2, Renko menyuruh ke tiga karyawannya untuk duduk di sofa saja.


"Langsung saja. Siapa yang mendesain pakaian casual kemarin? Ide dasarnya?" tanya Renko.


"Apa kamu bisa membuat desain baru yang bisa mendobrak pasaran lagi? Saya butuh designer untuk pembuatan fashion terbaru," kata Renko. Tatapannya tertuju pada Kyra.


"Tapi, Pak, saya karyawan baru di sini, rancangan saya tidak sebagus yang sudah lebih dulu bekerja." Bukan ingin menolak rezeki dengan naik jabatan atau apa. Kyra tidak enak dengan Desta, Alvin dan team desain bagian dua yang lebih dulu bekerja di situ. Dia yang bekerja belum genap 10 hari sudah ditawari pekerjaan lain.


Meski karyawan lain sudah bekerja lebih lama, tetapi dia butuh dan suka dengan desain Kyra yang mampu mendobrak pasaran. Maka dari itu menawari Kyra pekerjaan lain, tanpa mempermasalahkan itu karyawan baru atau lama.


"Andini, terima aja. Nanti kita tetap bantu," kata Desta lirih.


"Tapi, Mbak?"


"Gak papa, kita dukung kamu."


"Saya tidak mempermasalahkan kamu karyawan yang masih training atau karyawan tetap, saya butuh ide desain kamu lagi untuk menghasilkan fashion terbaru."

__ADS_1


"Baiklah, Pak. Saya akan coba untuk membuat rancangan baru," kata Kyra menyetujui.


"Saya kasih waktu 3 hari, dan nanti hasilnya langsung kasih ke saya langsung."


"Baik, Pak."


Renko mengangguk. "Silahkan kalian kembali bekerja."


"Wala-wala, Pak Enko ganteng banget, ya. Ya ampun, sedap gitu dipandang lama-lama." Desta berkata dengan gemas.


"Biji mata itu jelalatan!" Alvin menyahuti. Sedangkan Kyra hanya tersenyum simpul.


"Ih, gak apa. Jelalatan sama yang ganteng, berarti biji mata gw masih normal, Vin."


"Gw juga ganteng, Ta."


"Ganteng kalau liatnya dari atas rooftop sana."


Kyra menggeleng kecil mendengar keduanya saling melempar ejekan. Ternyata seperti ini rasanya punya teman. Meski letih dalam bekerja, tetapi ada kesenangan saat bersama mereka.


Perdebatan kecil mereka terhenti saat pintu lift terbuka dan mereka masuk ke dalam untuk turun ke lantai 4. Lantai tempat desain bagian dua berada.


Sore hari, Kyra melajukan motornya di jalan raya padat kendaraan. Dia berhenti sebentar di toko kue untuk membelikan Kaina kue coklat kesukaannya. Sesudah itu, langsung kembali melajukan motornya pulang ke rumah.


25 menit, dia telah sampai di depan rumah.


"Assalamu'alaikum ...."


"Waalaikum salam." Bu Idah menjawab salam dengan menggendong Kaina.


"Hai, Kaina. Nungguin Bunda pulang, ya? Nih, Bunda bawa oleh-oleh untuk Kaina." Kyra menenteng bag kecil berisi kue. Dia memberikan itu pada Bu Idah dan beralih menggendong putrinya.


Lelah sehabis bekerja tak dihiraukan, dia tetap menggendong tubuh Kaina dan membawanya masuk.


Terkadang Kyra merasa sedih, kenapa putrinya harus terlahir dengan keadaan kurang sempurna. Bila anak lain sudah bisa berjalan dan mulai aktif dengan ingin tahu apa yang ada disekitarnya, tetapi Kaina hanya bisa berbaring dengan segala keterbatasannya.

__ADS_1


"Papapa ...," Kaina berceloteh.


Setiap kali mendengar Kaina berkata seperti itu, membuat Kyra teringat dengan Kai. Tidak tahu bagaimana keadaan pria itu pasca terakhir kali menghebohkan publik dengan skandal video tak pantas.


__ADS_2