
Bi Mur membantu untuk mengemasi barang-barang Kai ke dalam koper. Pria itu mendapat jadwal kunjungan ke Singapore untuk bertemu klien. Meski berat hati untuk pergi, tapi tak punya pilihan lain. Itu perintah langsung dari Bagus. Bi Mur meninggalkan kamar, saat pekerjaannya sudah selesai.
"Kyra ...." Kai mendekati Kyra yang sedang duduk di sofa, wanita itu sibuk merapikan rambut juga asyik menonton televisi. Kaina, dia sudah tertidur lelap di ranjang khusus miliknya.
Kyra menoleh sekilas, dan tidak menanggapi. Meski begitu, Kai duduk di samping Kyra dengan tatapan lekat menyusuri wajah istrinya.
"Entah kenapa aku berat meninggalkanmu, Kyra."
"Kenapa harus berat? Selama ini kamu tidak keberatan menyakiti aku dan Kaina."
"Jangan bicara soal anak itu."
'Ya Tuhan, masih saja Kai tidak menyukai Kaina. Keputusan untuk berpisah memang sudah tepat, meski berat, aku tidak ingin kau terus-terusan menyakiti Kaina,' batin Kyra.
•
Keesokan paginya, Kai sudah bersiap dengan pakaian formal. Pria itu akan melakukan perjalanan bisnis selama 3 hari.
Kyra yang duduk di meja makan dengan Kaina, langsung menoleh saat Kai menuruni anak tangga. Dari radius berapa meter hidungnya dapat mengendus wangi maskulin yang sangat memabukkan. Masih sama, pesona Kai tidak pernah terbantahkan.
Sesudah Kai duduk di kursi meja makan, Kyra tak henti menatap Kai. Menikmati setiap inci ketampanan suaminya agar tercatat dalam memori.
'Cinta dan benci itu berbeda tipis, Kai. Terlalu cinta pada akhirnya bisa menjadi benci. Dan sebaliknya, terlalu benci akan berubah menjadi cinta. Aku masih seperti yang dulu, Kai. Tapi kau yang memilih berubah. Setelah ini, aku pun akan mencoba untuk berubah.'
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Kyra? Jangan berpikir akan berhasil pisah denganku. Aku pastikan jaksa tidak menaikan gugatan ceraimu kepersidangan."
__ADS_1
Kyra sibuk mengambil makanan untuk Kai, walau hubungan mereka hambar, tetapi Kyra berusaha menjalani kewajibannya sebagai seorang istri. Kecuali tidak untuk di atas ranjang.
"Kai, boleh aku bertanya. Alasan apa kamu menahanku di sini tanpa kepastian. Kau jadikan aku istrimu, tapi kenapa kau tidak peduli denganku."
"Aku hanya perlu menghilangkan sesuatu yang menghantuiku, Kyra."
Kyra mengernyit tidak paham, tetapi Kai terlihat tidak ingin menjelaskan lebih lanjut. Pria itu menikmati sarapannya. Lagi-lagi Kyra mengamati wajah Kai, menikmati waktu terakhir kali bersama pria itu.
'Setelah ini, walau sudah keputusanku sendiri, tapi kenapa terasa sangat berat.' Kyra menatapi Kai sampai ujung matanya mengembun.
"Aku hanya pergi 3 hari, Kyra. Kau tidak perlu sesedih itu."
Kyra tersenyum kecut, menutupi perasaan yang sesungguhnya. "Aku bahkan sangat senang tahu kamu akan pergi, Kai," dustanya.
Kai diam. Ada perasaan hangat yang menjalari sampai ke hati. Damai dan senang, seolah rumah tangga mereka sangat baik-baik saja.
"Kyra, boleh aku cium keningmu?" tanya Kai, kata itu keluar begitu saja dari mulutnya, seolah tanpa kesadaran.
Dan, tanpa diduga, Kyra mengangguk. Kai tersenyum dan maju satu langkah untuk mendekat. Lagi-lagi ada perasaan hangat saat bibirnya menyentuh kening Kyra.
Saat itu Kyra memejamkan mata diiringi tetesan kristal bening. Andai semua keadaan ini normal, dia pasti sangat bahagia.
'Biar aku menikmati ini, Kai. Aku ingin menikmati,' batin Kyra menjerit.
Entah terpikirkan apa, Kyra justru merapatkan tubuhnya dengan memeluk Kai lebih dulu. Kai dibuat terkejut dengan itu, sekaligus merasa aneh. Tapi, keanehannya lebih kecil dari rasa bahagia.
__ADS_1
Kai tahu bila sampai gugatan cerai Kyra diterima pengadilan, cepat atau lambat mereka bisa terpisah. Namun, dia sendiri sudah berjanji tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dia sudah memprediksi Kyra tidak punya keluhan kuat untuk mengajukan gugatan. Dia akan mengerahkan kuasa hukumnya untuk mengurus semuanya sampai pihak jaksa tidak menyetujui perceraian mereka.
'Andai kau dapat menunjukan kasih sayangmu padaku dan Kaina, aku pasti betah bersamamu, *Kai.'
'Tidak, Kyra! Jangan melemah. Sudah lama kau memberi waktu, tapi Kai tidak pernah berubah. Jangan bodoh dan menyiakan diri, kebahagiaan Kaina adalah segalanya*.' Kyra mengalami pergolakan batin.
"Papapapa ...." Suara Kyra mengalihkan Kai dan Kyra, hingga pelukan itu melonggar.
"Apa, Sayang?" Kyra tersenyum pada putrinya. Lalu kembali menolehi Kai. "Kai, Kaina memanggilmu, mungkin dia juga ingin di ucap kata perpisahan," kata Kyra.
Kai melirik sinis. "Aku tidak mau berdekatan dengan anak itu. Dia tidak paham dengan apapun, dia juga tidak paham dengan ucapan perpisahan. Kecuali kamu setuju dia di buang ke panti asuhan, saat itu aku baru mau mengucap kata perpisahan."
Deg!
Perkataan Kai meluruhkan semua harapan Kyra. 'Keputusanmu benar, Kai. Keputusanmu, benar!'
Air mata Kyra berjatuhan, sesak dan sakit namun dia menahan isak tangis. "Pergilah, Kai."
"Aku juga sudah akan pergi." Kai berbalik dan berjalan beberapa langkah.
"Papapapa ...." Suara Kaina seolah memanggil Kai. Tetapi pria itu sama sekali tidak menolehi anak kecil itu. Sungguh tega.
Setelah tubuh Kai menghilang di balik pintu, saat itu Kyra menjatuhkan diri di depan Kaina. Isak tangis yang sedari tadi ditahan akhirnya pecah juga. "Kaina Sayang, pelukan Bunda sehangat pelukan ayah. Bunda yang akan memeluk Kaina dengan erat." Bahu Kyra sampai bergetar. Dia ciumi pipi Kaina juga memeluk tubuh putrinya yang spesial.
Hati Kyra begitu teriris dengan sikap yang ditunjukan Kai. Keputusannya kembali bulat dan sangat tepat, dia tidak akan membiarkan psikis Kaina hancur karena sikap Kai. Dia akan membawa putrinya jauh tanpa Kai bisa menemukannya.
__ADS_1