
Kyra kembali ke ruangannya dengan terus memikirkan ucapan Renko. Memikirkan tentang kesempatan emas yang diberikan, akankah diambil atau ditolak. Tapi sayang ...
Ketika memasuki ruangan dengan wajah bengong, seseorang menepuk bahunya hingga dia terlonjak. "Astaga ... Mbak Desta."
Perempuan bernama Desta itu menyengir. "Abisnya kamu bengong aja. Ada apa? Abis ketemu Pak Renko kok kayak orang linglung. Kehipnotis sama ketampanan Pak CEO, ya?" Perempuan itu berseloroh sambil menaik turunkan alisnya.
"Apaan, sih, Mbak. Enggak." Kyra menggeleng.
"Hayolo, ngaku aja. Di kantor ini, siapa sih yang nggak terpesona sama aura si Bos. Tapi ya gitu ... nggak ada yang berhasil. Dan parahnya, termasuk aku. Ha ha ha ...." Desta tergelak dengan ucapannya sendiri.
"Nasib lu emang ngenes, Ta," sahut Alvin yang mendengar percakapan Kyra dan Desta.
"Ye ... mulut! Minta ditampol!" Desta berubah bersungut. Namun dalam artian tidak bersungguh-sungguh.
"Ekhem ... bidadari-bidadari khayangan pada ngobrolin apa sih?" Reihan yang tadinya sibuk di depan laptop berdiri lalu mendekati Desta, Kyra, dan Alvin.
"Elah, datang lagi nih mulut satu playboy," ujar Desta.
Kyra sedari tadi hanya senyum-senyum menanggapi candaan dan saling lemparan ejekan dari teman-teman barunya itu. Sungguh seru dan menyenangkan.
"Aku batalin nyebut kamu bidadari khayangan, nggak pantes perempuan kayak kamu jadi bidadari ... adoooohh!" Reihan berteriak saat Desta menonjok lengan tangannya dengan lumayan keras.
"Busyet, sakit banget pukulanmu, Ta. Ini mah bukan perempuan, manusia jadi-jadian kalee," kata Reihan yang terus mengusap lengan bekas pukulan Desta.
"Eh, kok jadi panjang gini. Dah, yuk! Balik kerja." Kyra menimpali agar candaan mereka tidak berlanjut dan ujungnya malah korupsi waktu bekerja.
•
Di sebuah apartemen kecil dengan satu kamar tidur dan fasilitas tak semewah apartemen VVIP. Pukul 11 siang seseorang baru terjaga dari tidurnya. Pria itu memijat pelipis yang terus berdenyut, menghela napas panjang demi mengingat keadaan barunya, yang bisa dibilang ... menyedihkan. Pengangguran dan luntang lantung dalam ketidak pastian hidup.
Mulai membuka mata biasanya dia hanya tinggal memerintah, maka semua akan siap tersedia. Tapi hari ini dan seterusnya ... No!
Kai turun dari ranjang dan menuju kamar mandi. Di sini, tak ada siapapun yang akan melayaninya seperti raja. Semua harus dilakukan sendiri, dengan tangannya sendiri.
__ADS_1
Sesudah membasuh wajah, Kai menuju dapur sempit dan mencari bahan makanan yang bisa diolah. Tetapi hanya menemukan: mie instan, telor, roti, dan kol saja. Bahan itu bonus dari penyedia apartemen. Damn it! Apaan ini?!
Seumur, baru kali ini dia akan mengolah makanan sendiri. Sedari kecil hidupnya sudah seperti sultan, tak pernah melakukan pekerjaan remeh, seperti memasak atau membersihkan rumah.
Kai mengambil penggorengan, menaruh di atas kompor dan menghidupkan apinya. Perlahan menuang minyak goreng dengan takaran sebanyak dua gelas, lalu memasukan telur yang sudah dikocok.
Dia mengernyit bingung karena telur itu tak bereaksi untuk berkembang. Menunduk untuk melihat apinya. Berpikir terlalu kecil, lalu dia besarkan.
Baru wajahnya menengadah ke atas. "Aw! An****! Setan keparat!" Dia berteriak marah sambil memegangi keningnya yang terkena cipratan minyak panas.
Meringis-ringis kesakitan. "Mau makan aja sengsara." Mengomel sambil mendengus.
Sesudah sarapan dengan ala kadarnya. Dia termenung. Apakah hidupnya akan terus-terusan begini? Dia bisa mati kelaparan karena sisa uangnya semakin menipis.
Terbesit untuk mencari pekerjaan, tapi semua orang hampir mengenalinya, alih-alih mendapat pekerjaan, semua orang justru menertawai nasibnya. Sudah seperti ini, siapa yang akan dimintai bantuan?
"Atau, coba aku temui Mami. Siapa tahu Mami bisa bantu buat bujuk Papi." Harapan kembali muncul. Seperti mendapat ide cemerlang, Kai buru-buru berganti pakaian dan pergi mengendarai taksi online untuk menemui maminya di cafe. Dia yakin di jam-jam seperti ini mami Hana sedang sibuk mengawasi cafe.
Sampai di cafe, Kai langsung masuk begitu saja. Namun dari ruangan Hana, yang juga perempuan itu sedang memandang kota mengetahui kedatangan putranya.
"Ada apa, Nyonya?"
"Dengar, aku akan sembunyi, dan kamu katakan pada putraku kalau aku sedang meting di luar kantor. Oke!"
Karyawan itu terkejut dan bingung. Hana mengusir karyawan itu dan mendorong bahunya untuk segera mencegah Kai.
Hana kalang kabut menyembunyikan tas dan barang lainnya, supaya jika nanti Kai memeriksa ruangannya akan percaya kalau dia sedang di luar.
Di depan pintu karyawan perempuan itu menghadang langkah Kai. Meski tidak begitu mengenali, karena memakai topi juga masker wajah, tapi dia bisa menebak jika itu adalah Kai.
"Maaf Tuan, Nyonya sedang tidak ada di sini."
Kai menghentikan langkah.
__ADS_1
Karyawan tadi berkata lagi. "Nyonya sedang bertemu rekannya di suatu tempat, tapi saya tidak tahu di mana."
Kai menyipitkan mata, seolah tidak percaya dengan ucapan karyawan itu. Dia membuka handel pintu ruangan khusus maminya. Dan ketika dibuka, benar saja tidak menemukan siapapun.
Tanpa sepatah katapun Kai berbalik dan meninggalkan cafe. Semangat menggebu untuk meminta bantuan maminya lenyap seketika. Bahkan sang mami benar-benar tidak mau menemuinya.
Bukan dia tak tahu kalau ada rekayasa antara Hana dan karyawan tadi, hanya saja Kai sudah terlanjur kecewa karena tahu Hana memilih menghindarinya. Bagaimana mungkin mami pergi tanpa membawa ponsel. Yang dia tahu tadi terletak di atas meja.
Tak mendapat hasil apapun, Kai kembali menyusuri trotoar tanpa tahu arah tujuan. Luntang lantung tanpa kejelasan. Di sela keputusasaan, dia masih berharap menemukan Kyra.
Di ruangannya, Hana keluar dari tempat persembunyiannya dan menanyakan apakah Kai sudah pergi. Ketika karyawan itu menjawab 'sudah'. Sudut mata Hana memanas dan menggenang cairan bening.
Ada setitik perasaan tak tega, namun demi memberi pelajaran pada putranya sendiri. Hana harus memperkuat tekad untuk membiarkan Kai hidup sendiri dan bisa merenungi kesalahan.
Dia memikirkan Kyra. Mungkin, apa yang dialami Kyra lebih sengsara dari yang dialami putranya sekarang.
Tepat saat itu bagus menelpon.
"Pi, Mami benar-benar nggak tega," semburnya mengadu.
"Kai datang ke cafe?" tebak Bagus.
"Iya, tapi aku malah main petak umpet."
"Kok bisa malah main petak umpet?" Bagus belum paham dengan maksud perkataan Hana.
"Maksudku, aku malah sembunyi. Aku nggak nemuin dia," jelas Hana.
"O ... Bagus. Ya memang harus begitu."
"Kok begitu, sih, Pi. Kasihan tau! Kai pasti sedih dan kecewa. Mungkin dia butuh aku."
"Kai butuh kamu karena dia tidak bisa mandiri dan membutuhkan uang. Jangan melempem. Biarkan dia usaha. Anggap saja kita sedang menghukum anak yang nakal. Bahkan lebih dari itu."
__ADS_1
Hana menghela napas. Dia terkadang bimbang, tak tega dengan Kai. Tetapi sebelah sisi, harus memberi pelajaran untuk putranya Ah, entahlah.