
Kyra duduk di tepi ranjang. Mulutnya tak henti mengucap makian untuk Kai. Pria itu bukan hanya membuat sakit hati, sekarang membuat marah dengan adanya penjagaan ketat di rumah itu. Sepertinya Kai sudah memiliki firasat kalau dia akan kabur, maka dari itu menyuruh beberapa pria untuk berjaga di setiap sudut ruangan.
Kyra dibuat bingung, apa tujuan Kai menyiksanya lahir batin. Kalau memang membenci, kenapa menolak untuk berpisah. Dan untuk masalah kematian Revan, tidak sepatutnya dia menyalahkan dirinya, karena bagaimanapun dia tidak tahu kalau menerima perjodohan itu membuat Revan berpikir pendek dan memutuskan untuk mengakhiri hidup. Harusnya Kai bisa berlapang dada, kematian Revan bukanlah seratus persen kesalahan mereka karena semua yang terjadi di bumi, sekecil apapun masalahnya sudah menjadi garis takdir dari Sang Maha Kuasa. Harusnya Kai bisa berpikir begitu.
Dari siang sampai malam, Kyra tak mendapat celah sedikitpun, sampai malam hari dia tidak mendapat peluang untuk kabur dari istana bak neraka itu. Dia hanya dibiarkan berkeliaran di dalam rumah, tetapi para penjaga tidak membiarkannya melangkah ke halaman rumah. Ya Tuhan, dia sudah seperti tahanan di rumah itu.
Kyra duduk di ruang tamu, tangannya menopang dagu dengan otak berpikir keras bagaimana caranya untuk melarikan diri. Jika berhasil pergi, dia tidak akan kembali ke rumah lamanya, melainkan mencari tempat tinggal baru dan berusaha hidup mandiri. Lebih baik hidup sendiri, daripada hidup dalam penjara sang suami.
"Non ...." Suara Bi Mur membuat Kyra sedikit kaget.
"Bi," balasnya.
"Susunya di minum dulu," ucap Bi Mur, lalu menaruh segelas susu hamil di hadapan Kyra.
"Iya, Bi. Makasih, ya." Kyra tersenyum. Ketika Bi Mur akan kembali ke belakang, dia mencegah. "Bi, bisa bantu aku keluar dari rumah ini tanpa diketahui oleh mereka." Kyra berkata lirih, dengan wajah mengiba.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu diam, terlihat kebingungan. Pasalnya, sebelum Kai kembali ke kantor, majikan prianya itu sudah berpesan agar Bi Mur ikut menjaga Kyra dan tidak membiarkannya pergi. Tetapi saat ini, melihat wajah Nona Mudanya memelas, dia sungguh tidak tega.
"Aku mohon, Bi, bantu aku cari jalan keluar. Kyra akan sangat berterima kasih kalau Bibi bisa bantu aku." Baru saja Kyra selesai berucap, ponsel di dalam saku bajunya berdering. Ternyata Kai menghubungi. Kyra membiarkan ponsel itu tanpa mau menjawab. Seperti tidak menyerah, Kai terus-terusan menghubungi. Dan Kyra sungguh tidak peduli.
Hanya selang 10 menit dari Kai menelpon, terdengar deru mesin mobil mendekat. Kyra bangkit untuk mengintip dari balik jendela, sudah pasti Kai yang datang. Dia segera menghabiskan susu hamilnya, sudah itu cepat-cepat pergi ke kamarnya. Dia tidak mau bertemu tatap dengan Kai.
Bi Mur membuka pintu untuk tuannya. Pria itu langsung menodong pertanyaan. "Di mana dia?!"
"Nona? Em, Nona sudah masuk ke kamar, Tuan." Bi Mur menunduk, tidak berani membalas tatapan Kai.
"Bibi masih ingat ancamanku tadi! Kalau berani membantu Kyra pergi, tanggung akibatnya!"
"Bagus." Kai berlalu, menuju tangga dan akan masuk ke kamarnya. Tapi setelah menekan handel pintu dia tidak bisa membuka, pintu terkunci dari dalam.
"Kyra, buka pintunya!" Kai menggedor pintu, dia tahu Kyra tidak tidur. "Kyra!" Meski sudah berteriak, tetap tidak dibuka, dia menyuruh salah satu pengawal untuk mendekat, pengawal yang tadinya berada di dekat anak tangga, segera mendekat.
__ADS_1
"Ada apa, Tuan?"
"Dobrak pintunya!"
Pengawal memasang wajah bingung. "Mendobrak pintu?" ulangnya.
"Iya. Bodoh! Cepat dobrak sekarang!" perintah Kai dengan wajah mengeras.
'Aku yang bodoh atau Anda yang bodoh, Tuan. Sampai badan saya remuk, tidak bisa mendobrak pintu setebal itu.'
Pengawal itu mencoba beberapa kali, tetapi pintu belum juga terbuka.
"Hei, bodoh! Dobrak yang kuat!"
'Jangan asal memerintah saja, Tuan. Coba Anda yang mendobrak, bisa atau tidak!' Pengawal itu sedari tadi hanya membatin kesal.
__ADS_1
"Dasar tidak becus, apa aku harus memanggil petugas damkar untuk mendobrak pintu itu, hah?! Apa gunanya berbadan besar tapi tidak bertenaga!" Kai memarahi pengawal dengan tatapan mengerikan. Tangannya terkepal kuat, bahkan hampir saja melayang, tetapi berhenti di udara ketika melirik pintu yang sudah dibuka.
"Kyra?!"