
Atas paksaan dari Kai, akhirnya Kyra duduk bersebelahan dengan pria itu. Mobil yang dikendarai Kai melaju ke arah jalan tol, mereka akan kembali pulang ke rumah Kai.
"Aji sudah ku suruh menunggu di Jalan Kenanga. Kamu pulang di antar dia. Aku mau langsung ke kantor, ada meting pagi," kata Kai membuka suara setelah dari tadi hanya deru mesin mobil yang terdengar.
'Meting? Cih, bilang aja udah gak sabar pengen bertemu Lidia' batin Kyra kesal sekaligus memanas. Namun, dia harus berpura-pura biasa saja.
"Bagus, Pak Aji malah lebih perhatian dari pada suami sendiri," ketus Kyra.
"Hei, itu aku yang menyuruh. Tolol!"
"Kai! Berhenti mengatakan aku bodoh, totol, dan lemah. Kau yang bodoh juga buta hati, tidak bisa membedakan antara kebaikan dan kebodohan seseorang. Aku diam karena masih menghargaimu."
"Oh begitu? Tapi aku tidak butuh kau hargai."
'Lupakan, Kyra. Buang perasaanmu padanya. Dia tidak pernah menginginkanmu. Kau akan tersiksa kalau masih bertahan dengan perasaanmu. Kau sungguhan bodoh bila bertahan dengan Kai. Bisa, harus bisa melupakan dia.'
Sesuai yang dikatakan Kai tadi, Kyra berpindah menaiki mobil yang dikendarai Aji, sopir pribadi di rumah Kai.
Dari balik kaca mobil, Kyra menatapi kepergian mobil Kai. Ujung-ujung mata memupuk kristal bening. Kyra kembali pilu mengingat panggilan Lidia untuk Kai. Meski belum ada bukti kuat bahwa keduanya bermain belakang, tetapi entah kenapa perasaannya sudah sangat yakin bahwa keduanya terlibat hubungan tak biasa.
__ADS_1
•
Pria yang hanya mengenakan celana hitam dan kemeja putih itu langsung masuk ke ruangannya. Begitu juga langsung disambut oleh sang gundik, dengan tidak tahu malunya Lidia mendarat tubuh di atas paha Kai. Duduk dengan santai dengan kedua tangan melingkari bagian leher.
"Ke mana saja, pesan dan telponku tidak kamu balas," ucapnya dengan nada manja. Bibir yang dipoles dengan warna pink itu mendaratkan ciuman di bawah telinga Kai.
"Lidia, jaga sikap! Aku belum mengunci pintu, kalau ada yang masuk gimana," sentak Kai.
Lidia setengah memberengut langsung beringsut turun. Membuang pandangan dan tidak membalas tatapan atasannya.
"Kapan meting di mulai?" tanya Kai kemudian.
"Come on, My girl. Aku sudah sangat pusing dengan sikap Kyra, kau jangan menambahi," ujar Kai setelah melihat raut Lidia yang tertekuk.
"Kasih cium dulu, baru suasana hatiku baik," rajuk Lidia.
Kai mengunci pintu lewat tombol otomatis, lalu merentangkan tangan agar Lidia mendekat. Detik berikutnya keduanya terlibat ciuman panas. Saling membelit dan menukar saliva. Kai memejamkan mata, fantasi liarnya tetap tertuju pada gadis berbibir tipis yang tak lain adalah Kyra. Kerap kali melakukan suatu terlarang bersama Lidia, namun dalam bayangannya membayangkan wajah Kyra. Ironis, bukan? Sayang, namun terkendala dengan masa lalu dan rasa bersalah.
"Oh ****! Aku tidak tahan," ujar Kai dengan suara berat. "Kau memancingku. Kalau tidak ada pertemuan, kau pasti mendes ah habis di bawahku." Pria itu menyeringai. Dia harus meredam nas fu padahal si jekki mulai tegang.
__ADS_1
Lidia terkekeh dan menjauh. "Kita bisa melanjutkannya nanti, Sayang. Bersabarlah." Wanita itu mengedipkan sebelah mata juga mengulum bibir.
Keduanya bersiap untuk pergi meting. Keluar dari ruangan, keduanya berlagak profesional seperti atasan dan bawahan pada umumnya.
Dua jam kemudian. Sesudah menyelesaikan pertemuan dengan pemimpin perusahaan lain, Kaisang dan Lidia memasuki sebuah kamar hotel.
Satu orang yang menyaksikan keduanya memasuki kamar hotel begitu syok. Kedua tangan tampak terkepal kuat hingga urat-urat mencuat ke permukaan kulit. Emosi begitu membumbung tinggi. "Awas saja! Kalau sampai berani berbuat macam-macam, bersiaplah menjadi menjadi gembel, Kai."
.
.
.
.
.
Hayo, tebak. Kira-kira siapa ya?
__ADS_1