
10 bulan kembali terlewati tanpa perubahan drastis. Keadaan masih sama, Kai begitu sibuk dengan urusan kantor, hingga tak ada kelonggaran waktu untuk mengurusi Kyra dan Kaina. Apalagi, 1 bulan terakhir dia sering uring-uringan melihat kondisi putrinya. Di mana gadis kecil itu tak bisa melakukan sesuatu apapun dan hanya bisa telentang sambil bergumam saja.
2 bulan lalu, dokter memvonis Kaina memiliki penyakit langka. Kaina tidak bisa duduk dan bergerak lincah seperti balita lainnya. Tulang tangan dan kaki sangat lemah, bahkan tulang Kaina seperti tidak tumbuh. Begitu kecil dan hanya terbalut kulit. Meski suplai gizi terpenuhi, tetapi tubuh Kaina tidak bisa gemuk seperti lainnya. Menjadikan kondisinya memprihatinkan.
Kyra, sebagai ibu yang melahirkan Kaina tentu sangat terpukul. Dunianya benar-benar hancur kala Kai seolah tidak peduli dan justru terlihat tidak suka dengan putri kandungnya sendiri. Dia sudah terbiasa dengan sikap acuh dan dingin dari Kai. Namun, saat melihat ketidakpedulian Kai pada putrinya, dia begitu kesakitan. Kaina butuh dia sebagai ayahnya, balita berumur satu setengah tahun itu butuh kasih sayang dari Kai. Tetapi, nyatanya ...
Setiap hari Kyra berjuang sendiri untuk mengurus Kaina, bahkan menggendongnya ketika hendak pergi ke manapun, termasuk keluar rumah untuk berjemur matahari pagi atau mengajak Kaina ke taman kota agar putrinya mendapat hawa segar.
"Kai, kau baru pulang?" sambut Kyra dengan menggendong Kaina. Kai melepas jas dan melirik sekilas.
"Mau ku buatkan minum?" tawar Kyra.
"Kau bisa membuat minuman dengan menggendong anak itu?"
__ADS_1
"Anak itu?" Kyra terkejut. "Dia anakmu Kai, anak kita."
"Anakku? Anak kita?" Kai justru menirukan nada Kyra. "Benar anak kita, tetapi tidak pantas untuk keluarga Wiratama. Dia hanya mencoreng nama baik keluarga."
Kyra menarik napas dengan cepat. Secepat emosi dan kesedihan menghinggapinya. Kyra menggeleng-geleng pelan dengan tatapan tajam penuh air mata.
"Papapapa ...." Kaina memanggil tidak jelas.
Kai melirik tidak suka. Air mata Kyra luruh tak terbendung. Ini puncak kesakitannya menjadi istri Kaisang Adipta Wiratama. Rasa sakitnya melebihi waktu dia melihat Kai melakukan hubungan suami istri dengan Lidia. Ya Tuhan ... sakit.
Bagai petir di siang bolong, Kyra hampir saja menampar mulut Kai, andai tak ada Kaina di dekapannya.
Pria di hadapannya ini bukanlah manusia. Dia berhati iblis. Sungguh menyesal, dia masih bertahan selama itu bersama pria yang telah meremuk redamkan hati dan psikisnya.
__ADS_1
"Kamu mau buang dia?! Buang aku sekalian Kai! Buang! Aku sudah tidak tahan lagi. Ini menjadi puncak kekecewaan dan kesakitanku," lontar Kyra dengan tatapan nyalang.
"Aku menerimamu Kyra, tapi tidak dengannya. Tuhan telah salah mengirim dia di tengah keluarga kita. Aku dan kamu sempurna, tapi dia memiliki kelainan. Andai bisa disembuhkan, aku rela mengeluarkan triliunan buat biaya pengobatannya asal dia bisa normal." Panjang lebar Kai berkalimat, tetapi hanya menambah luka di hati Kyra. Wanita itu sampai sedu sedan di depan Kai.
Bi Mur mendekati Kyra, dia berinisiatif mengambil alih Kaina untuk dibawa ke kamar.
"Bahkan kamu tidak mau menyebut nama anak kita, Kai!? Apa kamu jijik menyebut namanya!?" Kyra setengah berteriak. Kai paham Kyra tidak bisa mengontrol emosi, dia menarik Kyra ke kamar. Setidaknya, tidak ada pekerja rumah yang mendengar perdebatan mereka.
"Lepas!" Kyra menyentak tangan Kai dengan kasar. "Bahkan aku memberinya nama Kaina, supaya kamu selalu ingat bahwa kamu sudah menjadi seorang ayah! Dalam namanya ada namamu, Kai. Setega itu kamu dengan putri kandungmu sendiri. Kamu bukan manusia, tapi jelmaan iblis terkutuk. Tidak ada ayah berpikiran jahat sepertimu! Kamu gila, Kai! Kamu sudah tidak waras!" Kyra berteriak menggila. Kai hanya menatapinya saja.
Kyra menunduk, meremas dadanya yang terasa sesak. Dia hampir tidak kuat menahan ini. Dia bertahan untuk Kaina, dia tersenyum bahagia bila bersama Kaina, tetapi begitu hancur saat ada orang lain merendahkan dan menghina keadaan putrinya. Terlebih itu Kai, ayah kandung yang membuat Kaina hadir di antara mereka.
"Semua anak tidak bisa memilih dari rahim mana dia akan tumbuh, tidak bisa memilih dari orang tua mana dia akan hadir. Semua itu takdir Allah, harusnya kita bersyukur dengan hadirnya Kaina, berarti Allah menganggap kita mampu untuk menjaga titipan-Nya yang spesial. Bukan malah membuangnya.
__ADS_1
Dan, bukan salah Kaina hadir di antara kita, kamu yang memaksa Kaina ada?!"