
Sesudah bertemu dengan Veronika, Kai menenangkan diri di hotel. Kali ini sendirian, tanpa Lidia atau anak buah lainnya. Sejak tadi dia hanya diam dan merenungi apa yang sudah terlewati. Surat yang selama ini disimpannya bisa menjadi satu perkara yang menyebabkan Revan meninggal, beruntung dia menyembunyikan surat itu.
Bukan hanya dia saja yang akan terseret polisi, tetapi Kyra juga. Karena di surat itu Revan mencantumkan namanya dan Kyra, juga mengatakan sangat frustasi dan sakit hati karena pernikahan mereka.
"Argh ...!" Kai menjambak rambutnya sendiri. Sampai kapan dia akan terus bersembunyi dari bayang Revan.
Dering ponsel menyita perhatian Kai, dia melihat siapa yang menelpon. Ternyata nomor rumah. Keningnya berkerut, dia bingung kenapa nomor rumah menghubungi apa ada hal penting. Kai langsung menekan tombol terima.
"Tu-Tuan, Nona Kyra sedang ke rumah sakit karena Nona Kaina tiba-tiba demam tinggi." Suara Bi Mur dari seberang panik saat memberitahu.
"Baik, aku akan menyusul ke rumah sakit." Sesingkat itu dan Kai sudah mengakhiri panggilannya. Dia bergegas meninggalkan hotel. Hanya sekitar 45 menit, dia telah sampai di depan rumah sakit. Rumah sakit di bawah naungan perusahaan Wiratama.
Baru sampai di lobi, Kai sudah disambut oleh Aji.
"Mari, Tuan, saya antar."
Kai mengangguk. Menuju lift dan menekan tombol 5. Pak Aji menunjukan lewat berapa lorong yang mereka lewati hingga dari jarak 10 meter mata Kai melihat Kyra duduk di kursi tunggu seorang diri. Nampak menunduk dengan bahu bergetar. Tak jauh dari Kyra, ada 2 pengawal yang memang selalu mengikuti kemanapun Kyra pergi. Semua itu atas perintahnya.
"Bagaimana Kaina?" tanya Kai yang sudah berdiri di depan Kyra, wanita itu baru mendongak karena tidak tahu kedatangan Kai.
"Kai, Kaina, Kai!" ucapnya panik.
"Tenanglah, jelaskan perlahan." Kai menggeser posisi ke samping Kyra. Wajah Kyra sangat sendu berlinangan air mata.
Bukannya tenang, Kyra justru kembali terisak. Bahunya bergetar hebat, Kai bergerak kaku untuk membimbing Kyra ke dalam pelukannya. Sebenarnya takut bila Kyra menolak, seperti yang terjadi selama ini.
__ADS_1
Tetapi, untuk kali ini. Yah, kali ini, Kyra begitu menurut dan menyadarkan badannya di dada Kai.
"Sejak siang tadi Kaina demam, dia rewel, aku susui juga tidak mau. Dia diam dan tidur sesudah aku minumin obat, tapi pas dia bangun badannya malah tambah panas dan dia kejang-kejang. Aku takut, Kai. Aku takut." Kyra masih terisak.
Kai sedikit terkejut, Kyra mau memeluk tubuhnya, walau mungkin Kyra tidak sadar tapi Kai sangat senang. Dia memberi kode lewat anggukan kepala agar pengawalnya pergi dari sana.
"Tidak perlu takut, Kyra. Putri kita pasti baik-baik saja." Kai menangkan. Berapa detik larut menyelami pelukan dari Kyra, namun pelukan mereka melonggar saat dokter keluar.
"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" tanya Kyra tak sabaran. Selama ini, dia bertahan dengan keadaan yang menyiksanya hanya karena keberadaan Kaina. Kebahagiaan yang dimiliki hanya untuk Kaina.
"Tuan dan Nyonya bisa ikut ke ruangan saya," kata dokter paruh baya itu. Kai dan Kyra mengikuti di belakang.
"Silahkan duduk, Tuan dan Nyonya." Setelah Kai dan Kyra duduk. Dokter itu mulai membuka catatan riwayat Kaina.
"Nyonya, saya akan langsung bertanya. Apakah dalam umur Kaina mengalami pergerakan terbatas? Kaina juga belum bisa tengkurap?"
"Memang benar pertumbuhan anak tidak sama, tapi di sini saya lihat ada yang aneh. Sepertinya Kaina begitu kaku dalam menggerakkan anggota tubuhnya. Saya belum bisa memastikan, hanya saja, semoga apa yang saya duga tidak terjadi. Saya lihat, berat tubuh Kaina yang kurus juga tulang tangan dan kaki sepertinya tidak mengalami perkembangan dengan baik.
"Maksud Dokter?!" Kai bertanya sedikit meninggi.
"Maaf, Tuan. Sepertinya Kaina memiliki kelainan. Hanya saja, kita belum bisa memastikan sampai Kaina bisa berjalan."
Deg! Jantung Kyra seolah terhenti. Dia mematung untuk mencerna kata-kata dokter. 'Sepertinya Kaina mengalami kelainan.' Dunia Kyra seolah hancur. Ibu mana yang sanggup mendengar kenyataan itu. Kyra menunduk, dia kembali terisak perih.
Kai memegang bahu Kyra dan mengusapnya lembut.
__ADS_1
"Itu baru dugaan, Kyra. Belum tentu terjadi."
Benar kata Kai, tetapi selama ini Kyra pun sangat aneh dengan Kaina yang seolah berbeda dari bayi seumurannya. Dia selalu menepis pikiran buruk itu, tetapi perkataan dokter barusan membuat hatinya teriris.
Kai mengajak Kyra keluar dan langsung menuju kamar rawat Kaina. Di sana, bayi berumur lima bulan itu tidur lelap dengan tangan yang terdapat infus juga alat bantu pernapasan. Kyra meredam isak tangis, dia tidak mau menganggu tidur putrinya.
Meski Kaina tercukupi dalam gizi, tetapi tubuhnya memang terlihat kurus. Kyra pun sangat janggal dengan itu.
Kai juga menatapi wajah putrinya, selama ini dia jarang ada waktu hanya sekedar menggendong Kaina. Karena ingin menghindari Kyra, dia selalu pergi pagi dan pulang malam. Waktu untuk Kaina hanya sangat sedikit.
Kai sudah mengabari kedua orang tuanya tetapi mereka sedang melakukan perjalanan bisnis, dan 3 hari baru bisa pulang.
"Kaina sudah tenang, kamu tidurlah," titah Kai pada Kyra.
"Aku tidak bisa tidur. Aku mau nunggu Kaina, siapa tahu dia terbangun."
"Kalau dia terbangun, kamu pasti tahu. Sekarang aku bisa menjaganya. Tidurlah," paksa Kai.
"Lima bulan, baru ini kamu bisa menjaganya, Kai," sindir Kyra. Kai mendengus kesal.
"Tidurlah, Kyra!" Kai berkata penuh penekanan.
"Aku akan tidur di sini."
"Kalau kamu tidur sambil bungkuk, punggung dan pinggangmu akan sakit. Tidurlah di sofa, di sana sedikit nyaman."
__ADS_1
"Tidak usah mengaturku Kai. Sejak kapan kamu sok perhatian. Aku dan Kaina sudah terbiasa tanpa perhatianmu."
'Maafkan aku,' batin Kai. Dia diam tanpa berkata lagi. Membiarkan Kyra melakukan sesuka hati. Mungkin aneh bagi Kyra karena tiba-tiba peduli.