
"Kuat, Kyra! Jadilah wanita kuat. Kau mampu dan kau bisa berdiri sendiri!" Kyra meyakinkan diri.
Satu minggu pasca pertengkarannya dengan Kai. Kini dia membulatkan tekad untuk mengakhiri semuanya. Mengakhiri rasa sakit yang terus menerus diberikan oleh Kai.
Kyra akan menghitung mundur hari kebebasannya terlepas dari jerat tahanan Kaisang Adipta Wirata. Sekaligus menghitung mundur ke hancuran pria itu. Kai memberikan luka dan kesakitan, pria itu harus membayar semuanya. Kali ini hatinya takkan melemah, dia akan tetap melakukan rencananya.
Tap ... tap ... Deru langkah kaki mendekat, berbarengan dengan suara yang memanggil dengan nada tinggi. "Kyra!"
Kyra mendengar, tetapi tidak menyahuti. Dia tetap bermain dengan Kaina.
Srak! Amplop putih dilempar tepat di depan Kyra, dia sudah tahu surat itu berisi apa, tetapi dibiarkan saja.
"Apa itu, Kyra!"
"Kau bisa membacanya, Kai. Aku sedang bersama Kaina."
"Kau benar-benar melakukannya, Kyra. Kau mengajukan gugatan cerai!" Kai berkata dengan wajah penuh guratan marah. "Kita tidak akan berpisah. Kau tidak akan menang, tidak ada bukti apapun untuk menguatkan gugatan ceraimu."
Kai diam tidak menanggapi.
"Kyra!" bentak Kai.
"Diam, Kai! Kau ingin bercerai secara damai atau aku akan menghancurkan karirmu?!"
"Hei, apa maksudmu mengancamku, hah?!"
__ADS_1
"Kamu kira cuma kamu yang bisa mengancam? Aku sudah bukan Kyra yang kamu anggap bodoh, Kai. Aku bukan Kyra yang lemah karena perasaan cinta. Semua telah lenyap tak tersisa. Aku akan bangkit. Akan ku buktikan aku bisa lepas dari tahananmu!"
Kai mendekat dan menjambak rambut Kyra lalu mendekatkan wajah mereka, keduanya saling beradu tajam.
'Lihat mataku, Kyra, lihat. Ada cinta yang besar untukmu. Bersabarlah. Ku mohon bersabar,' ungkap Kai dalam hati.
•
Sore hari Kyra menelpon Hana, menanyakan perihal keberadaan mertuanya yang sudah kembali dari perjalanan bisnis atau belum. Dan Hana mengatakan baru pulang besok pagi. Kyra meminta kedua mertuanya untuk berkunjung ke rumahnya, dia pun mengatakan akan membicarakan hal yang sangat penting. Hana yang penasaran mendesak Kyra untuk mengatakan sekarang saja, tapi wanita itu tidak mau.
"Besok pagi saja, Mi. Kyra pengen ngomong langsung dengan papi dan mami." Itu terakhir yang dikatakan Kyra.
Keesokan paginya, pukul 9 pagi, mobil SUV terlihat memasuki pekarangan rumah Kai. Kyra menyambut dengan senyum gembira.
"Baik, Mi. Mami sehat?"
"Sangat sehat. Cucu Oma, dia sehat, kan, Ra?" Hana menciumi pipi Kaina yang kurus. Setelah pemeriksaan waktu itu, Kyra langsung memberitahu Hana dan Bagus tentang kondisi Kaina. Meski mereka sedih, tetapi mereka cukup berpalang dada menerima kekurangan Kaina.
"Papi sehat?" Kyra beralih menanyai Bagus.
"Sehat, Kyra. Papi seneng lihat kalian baik-baik saja."
Kyra tersenyum. "Mari Pi, Mi, masuk!" ajak Kyra. Mereka semua masuk dan Kyra menunjukan arahan untuk mengobrol di tepi kolam.
"Ra, semalam telepon kayak penting banget. Ada apa?" tanya Hana langsung karena sangat penasaran.
__ADS_1
"Tentang keinginan Kyra, Mi." Kyra melihat Hana dan Bagus secara bergantian. "Kyra sudah bertekad untuk berpisah dengan Kai."
"Kyra, ini gak lucu, Nak. Ada apa? Kenapa tiba-tiba ingin bercerai?!" Hana merespon dengan terkejut. Sama halnya dengan Bagus, namun pria berkacamata itu diam untuk menunggu kelanjutannya.
"Kyra sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan."
"Lho-lho ... ini beneran serius?!" Hana menoleh pada Bagus. "Pi?"
"Kyra, kamu bisa jelaskan, apa masalahnya sampai kamu ingin bercerai? Kai menyakitimu?" Kali ini Bagus yang bertanya.
"Bukan hanya menyakitiku, Pi. Tapi menyakiti Kaina juga. Selama pernikahan, dia terus menyakitiku, Kyra bisa diam, Pi. Tapi Kai sudah menyakiti Kaina juga, itu yang membuat Kyra tidak terima."
"Tunggu! Ini Mami belum paham," sela Hana.
Kyra menguatkan tekad untuk menceritakan semuanya. Dia tak lagi memikirkan kemurkaan mertuanya pada Kai. Bahkan tidak peduli setelah ini masa depan Kai akan hancur. Semua itu tidak lagi dia pikirkan.
Untuk sekarang dia hanya ingin terbebas dari Kai dan pergi sejauh-jauhnya.
Selama Kyra mengurai cerita tentang kelakuan Kai selama pernikahan mereka, Bagus dan Hana dibuat sangat terkejut dengan pengungkapan Kyra. Tangan Bagus terkepal kuat hingga rasanya ingin memukuli Kai, bila putranya itu ada di depannya.
"Kyra, kamu tidak perlu berpisah dengan Kai, Sayang. Harusnya dari awal kamu cerita masalah ini pada kami. Ya Tuhan, kamu sangat pandai menutupi semuanya. Mami gak bisa bayangin kesengsaraan kamu selama ini." Hana menangis dan memeluk Kyra. Keduanya sama-sama menangis.
"Kyra, Papi dukung kamu berpisah dengan Kai," ucap Bagus.
"Pi!" Hana menoleh.
__ADS_1