
Di kantor Fashion dan Jewelry.
Telepon di meja kerja Kyra berdering, meski perempuan itu tengah sibuk mendesain pakaian tetapi dia segera menjawab telepon tersebut.
"Halo?"
"Andini, kamu bisa ke ruanganku?"
"Bisa, Pak."
3 menit kemudian Kyra sudah berdiri di depan ruangan Renko. Lea --sekretaris Renko-- membantu membukakan pintu.
"Ada Andini, Pak."
Renko mengangguk dan Kyra langsung masuk. Mengambil duduk di depan meja kerja Renko, setelah mendapat mandat dari bosnya.
"Ada apa Pak Renko memanggil saya?"
"Tentang penerimaan tawaran kamu tadi. Gimana, kamu sudah memilih fakultas untuk mendaftar?"
"Belum sih, Pak. Saya masih mencari-cari referensi dari internet. Mencari yang nyaman dan cocok."
"Saya ada referensi Fakultas UNJ, bekas saya kuliah dulu. Kalau kamu mau, saya bisa bantu kamu mendaftar di sana. Dan kebetulan, saya juga kenal beberapa dosennya." Jemari Renko mengetuk-ngetuk meja sambil memasang wajah cool. Dengan perempuan lain dia tak pernah begitu, tetapi kali ini berbeda. Bahkan di depan Andini, dia ingin terlihat sempurna.
"Sebentar Pak, saya lihat dulu denah lokasinya, jauh nggak dari kantor. Kalau jauh, saya bakal capek di perjalanan."
"Tidak begitu jauh. Sekitar 40 menitan dari sini."
Kyra yang ingin mengecek lewat ponsel mengurungkan niat mendengar penjelasan Renko.
"Kalau kamu mau, sepulang kantor saya bisa antar kamu ke gedung Fakultas UNJ. Yah ... sekedar melihat-lihat bangunan gedungnya."
Kyra langsung mendongak. Merasa aneh dengan sikap Renko yang begitu antusias. Juga merasa tidak enak menerima setiap kebaikan pria itu.
"Sepertinya itu tidak perlu, Pak. Saya bisa ke sana sendiri."
Dari penolakan Kyra, Renko memutar otak supaya mau menerima tawarannya. "Em, kalau kamu kesana sendiri, belum tentu bisa masuk. Lebih baik saya antar saja."
"Tapi saya tidak enak kalau datang bareng Pak Renko."
"Kenapa tidak enak? Kan saya sendiri yang kasih kamu tawaran."
"Tidak enak kalau ada yang tahu saya pergi dengan Bapak."
__ADS_1
Renko tersenyum manis. Pria itu mengangkat sebelah tangan dan menopang dagu sebentar. "Nggak usah mikirin itu. Kalau ada yang tahu ya biarkan saja. Niat saya sungguhan mau membantu kamu." Kali ini tatapan Renko sungguh-sungguh, ingin membuat Kyra percaya.
"Jangan tolak kebaikan saya. Yang besar saja kemarin kamu terima, giliran yang kecil mau ditolak," ujar Renko lagi.
Akhirnya Kyra mengalah. Dia tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, nanti saya ikut Bapak. Sebelumnya, terima kasih ya, Pak," ucap Kyra.
"Terima kasihnya besok saja. Ini bukan apa-apa."
Kyra merasa canggung kala tatapan Renko terlihat berbeda. Bukan dia tak tahu bahwa bosnya itu memperlakukannya berbeda dari karyawan lain, hanya saja dia belum bisa menilai pasti tentang sikap Renko.
"Baiklah Pak, tidak ada lagi yang dibicarakan, kalau begitu saya permisi," pamit Kyra.
"Silahkan-silahkan."
~
"Bebeb Andini, makan siang bareng, yuk."
Baru masuk ke ruang desain 2, sudah ditodong penawaran dari Reihan. Pria itu menebar senyum terbaiknya.
"Cie-cie, jangan lembek, Bro! Pepet terus," seloroh Alvin.
"Playboy gadungan! Kamu gak kasihan sama Rani yang mendem perasaan sama kamu." Desta ikut bersuara.
"Ah kalian ini bikin suasana riuh aja. Diem Napa sih!" Raihan terlihat kesal dengan teman-temannya.
"Gimana, mau gak? Nanti Aa' traktir semua yang Eneng mau pesen."
"Kalau semua yang ada di sini juga ditraktir, aku mau," jawab Kyra bercanda.
"Traktir semua yang ada disini? Buset!!! Bisa jebol kantongku." Reihan menepuk kening. Yang mana membuat semuanya justru tertawa.
"Haha ... becanda, Mas, becanda," kata Kyra.
~
Sesudah Renko pergi, Kai tak lantas meninggalkan cafe. Pria itu menikmati makanan yang tadi di pesan dengan suasana sendirian.
Tiba-tiba dia dikejutkan dengan seseorang.
"Kak Kai."
"Zia?" Kai terkejut melihat Zia berdiri di samping mejanya. "Kamu nggak ikut Tante balik ke Italy?"
__ADS_1
"Enggak. Aku mau di sini lebih lama. Di sini ada kantor papa, aku bisa sambil mengawasi."
"Kakak makan sama istri Kakak? Di mana Kak Kyra?" Pertemuan tak sengaja kali ini, Zia lebih ramah dari sebelumnya.
"Enggak. Tadi makan sama teman, tapi sudah pulang."
"Sekretaris Kakak?" tebak Zia lagi.
"Bukan. Teman cowok."
"Oh." Zia mengangguk. "Boleh gabung?"
"Boleh."
Hubungan Kai dan Zia tidak terlalu akrab, hanya sebatas kenal dan tahu kalau Zia adalah anak angkat Veronika, ibunya Revan.
"Kamu di sini tinggal di mana?" tanya Kai membuka obrolan.
"Di samping apartemen Kak Revan."
"Kenapa di sana?"
"Biar aku bisa dekat dengan almarhum kakak. Aku sangat merindukannya."
Kai terdiam dengan wajah berubah sendu. Mengingat Revan, kembali mengingatkan pada Kyra. Istrinya pergi karena rasa bersalahnya terhadap Revan.
"Kakak kenapa?" Zia menyadari keterdiaman Kai.
"Eh, tunggu-tunggu! Tentang pemberitaan di jagat maya, apa itu benar?" Zia baru teringat kalau pria di depannya sedang terbelit skandal.
"Entah benar atau tidak. Tapi semua keadaan sudah terlanjur gak bisa diperbaiki."
.
.
.
.
.
Maaf belum selesai, nanti Akak Mei lanjut ya. Jangan lupa, penuhi kursi komenan.
__ADS_1