
Dua hari terbaring di atas brankar rumah sakit, akhirnya dokter sudah mengizinkannya pulang. Dia sangat bosan dan ingin kembali ke rumah. Namun, bukan rumah suaminya, melainkan rumah peninggalan almarhum kedua orang tuanya. Yah, Kyra telah memutuskan untuk pisah ranjang. Dia ingin menjauhi Kai sementara waktu sampai hati dan pikirannya kembali tenang.
Menurut dokter, keadaan tertekan, stres berkepanjangan, semua itu tidak baik untuk ibu hamil, sangat berpengaruh pada janinnya. Terbukti, gerakan-gerakan manis yang setiap kali dirasakan, kini tak se-kontras seperti sebelumnya. Mungkin, calon anaknya ikut merasakan.
Dan, selama dua hari dia di sana, tak ada siapapun yang menjenguk selain Kai sendiri ketika malam hari. Kyra amat sangat kesepian.
"Dok, boleh saya berkemas sekarang?" tanya Kyra.
"Boleh. Tapi, apa tidak sebaiknya menunggu Tuan Kai datang?" ujar dokter Mia.
"Kai selalu datang larut malam, aku ingin pulang sekarang, mumpung masih siang. Tidak apa, nanti aku telpon Kai," balas Kyra dengan berbohong, karena dia sudah berencana akan pulang ke rumah lamanya tanpa sepengetahuan Kai.
"Baiklah, jika keinginan Nona seperti itu, saya akan membuat surat izin kepulangan Anda."
Satu jam dari itu Kyra benar-benar meninggalkan rumah sakit, saat ini tengah menunggu taksi online yang dipesannya. Dia duduk di lobi dengan pandangan mengedar sekeliling. Ada pasang suami istri yang mana istrinya juga tengah hamil besar, bahkan kelihatannya sedang menunggu proses kelahiran.
Ketika matanya memperhatikan, harinya dihinggapi rasa iri, berapa sang suami terlihat sayang pada istrinya. Terus mendampingi dan mengeja kata penyemangat. Mengusap kening istrinya dengan lembut dan memberikan senyuman yang meski seolah terpaksa.
Dia menginginkan itu, dia iri dengan keadaan itu. Karena sedari awal menikah, Kai tidak pernah berlalu demikian, bahkan sebaliknya. Kyra mengelus dada, pun menundukkan pandangan. Matanya berembun dan air mata hampir menetes. Tak ada kebaikan Kai yang bisa diingat selama pernikahannya. Pria itu benar-benar seperti orang asing, bahkan bisa dikatakan seperti musuh karena setiap kebersamaan hanya ada pertengkaran atau kesunyian, tak ada kenangan indah yang dapat tercatat di memori, selain sewaktu mereka belum menikah.
"Hei, anak bu dokter, jutek aja. Gabut ya gara-gara ditinggal nugas. Anak mami banget sih, ibunya nugas ngikut terus."
"Kai, apaan sih. Rese' deh. Aku emang gabut di rumah karena libur kuliah, tapi bukan anak mami ya. Aku ke rumah sakit karena ada perlu."
Pria dengan kaos oblong putih juga jens sobek-sobek justru mengembangkan tawa.
"Gimana Revan?"
"Gimana apanya?"
"Kok balik tanya. Belum ada perkembangan?"
"Apa sih? Gak paham. Revan biasa aja."
"Dia belum ngomong sesuatu gitu?"
__ADS_1
"Ngomong apa? Aku gak deket sama dia, jadi jarang ngomong."
"Jadi perempuan jangan ketutup. Peka dikit dong. Dia suka sama kamu."
Wanita yang diberi tahu itu tidak terkejut. "Ya terus aku harus apa? Biarin aja."
"Dia ngomong sama aku pengen mepet kamu terus sampai halal."
"Hum, kalau aku gak mau?"
"Bodoh! Dia tampan dan pintar, gadis bodoh kalau nolak calon dosen seperti dia."
"Perasaan gak bisa dipaksa, Kai. Toh, aku juga sudah punya seseorang yang aku suka."
"Siapa?"
"Kamu." Kai mematung tanpa berkedip. Namun suara tawa Kyra membuatnya menoleh.
"Becanda. Serius amat nanggepin. Kamu adikku Kai," ulangnya.
Kyra tersadar dari ingatan lamanya saat ponselnya bergetar. Ternyata driver taksi online menghubunginya dan mengatakan sudah berada di parkiran. Kyra gegas keluar dan menuju parkiran.
"Mbak Kyra Andini?"
"Iya betul."
"Silahkan, Mbak." Sopir itu membukakan pintu, dan Kyra masuk ke dalam mobil. Setelah menanyakan alamat, sopir itu segera melaju ke alamat tersebut.
Bibir Kyra tersenyum samar saat mengingat kenangannya yang tadi. Betapa dulu dia dan Kai pernah dekat dan sangat humoris. Namun, kedekatan itu justru hancur setelah terjadinya pernikahan mereka.
2 jam lamanya taksi itu sudah sampai di depan rumah Kyra yang dulu, dia membuka pagar yang tidak di gembok. Ah, dia sampai lupa harus meminta kunci yang dititipkan pada tetangga sekaligus asisten yang bertugas membersihkan rumah itu setiap hari. Kyra berjalan ke depan rumah untuk menemui Bi Yanti dan meminta kunci rumah. Sebenarnya dia punya kunci sendiri, tetapi jelas berada di rumah Kai. Dan dia tidak ingin mengambil karena malas harus kembali ke rumah itu.
"Assalamualaikum, Bi!" Kyra berdiri di depan pintu.
"Eh, Non Kyra." Wanita paruh baya tergopoh-gopoh mendekati.
__ADS_1
"Bi, Kyra mau ambil kunci, karena kelupaan gak bawa," kata Kyra memberitahu.
"Oh iya, tunggu sebentar."
Manik Kyra di suguhi foto keluarganya saat memasuki ruang tamu, menjadikannya sangat rindu dengan kedua orang tuanya yang sudah tiada. Dia menyusuri setiap ruangan yang ada, sudah berapa bulan dia tidak pulang, dan saat ini begitu rindu dengan keadaan rumah.
Kyra masuk ke kamarnya yang dulu, semua masih sama. Dia tersenyum dan merebahkan diri di ranjang. Badan lelah juga inti tubuhnya masih terasa sakit. Namun, dia kembali tersenyum ketika merasakan gerakan dari perutnya.
"Nak, sementara kita tinggal di sini dulu, ya. Bunda ingin mencari ketenangan. Bunda juga lelah bertengkar dengan ayahmu, mungkin lebih baik kita menjauh." Tangannya terus mengelus lembut perutnya. Mengajak calon anaknya berinteraksi.
Di kantor, Kai mendapat notifikasi kalau atas nama Kyra Andini telah menarik beberapa jumlah uang yang lumayan. Dia hanya menebak kalau uang itu digunakan untuk membayar biaya rumah sakit, Kai tidak peduli, pria itu meneruskan kegiatan panasnya bersama Lidia.
Sepulang kantor, Kai membelokan setir mobil menuju gedung rumah sakit. Dia tahu Kyra sudah membayar rumah sakit, namun tidak terpikir bila istrinya itu pulang ke rumah. Harusnya menunggu dia datang.
Kaki Kai baru melangkah di depan lobi, namun disambut dengan perawat yang berada di meja pendaftaran.
"Tuan Kai."
Pria berkemeja hitam itu menoleh.
"Maaf, apa Anda akan menemui Nona Kyra?" Perawat itu bertanya.
"Iya," balas Kai singkat.
"Istri Anda sudah pulang jam 2 tadi."
"Dia beneran pulang tanpa menungguku. Dasar ...," desis Kai lirih dan kesal. Tidak mengatakan apapun, Kai berputar dan keluar rumah sakit. Dia segera pulang ke rumahnya.
"Dia gak bisa gak merepotkan. Pulang gak bilang, tahu gitu aku langsung ke rumah," gerutunya.
"Bi! Di mana wanita itu?!" Kai yang baru masuk rumah langsung menanyakan Kyra pada asisten rumah tangganya.
"Maksud Tuan, Non Kyra?" tanya Bi Mur memastikan. "Bukannya Nona di rumah sakit? Nona belum pulang, Tuan."
"Belum pulang?!" Kai mengernyit bingung. Bagaimana mungkin Kyra belum sampai? Kemana wanita itu? Mendadak dia cemas.
__ADS_1