Aku Yang Kamu Buang

Aku Yang Kamu Buang
Kesempatan Emas


__ADS_3

Saat ini Kyra tengah menuju ruangan Pak Renko. Dia membawa lembaran kertas berisi desain pakaian terbaru, seperti permintaan Pak Renko satu Minggu lalu.


Tok ... tok ...! Lea, sekretaris Pak Renko membantu Kyra membuka pintu.


"Maaf, Pak, menganggu. Ada Andini," ucap Lea.


"Andini?!" Renko mengerutkan kening. Siapa Andini?


"Desain bagian dua."


"Oh, iya. Suruh masuk." Ketika Lea menjelaskan Andini desain bagian dua, barulah Renko paham siapa Andini. Bahkan kedatangan Andini sudah ditunggu sejak kemarin-kemarin.


Kyra masuk ke dalam begitu Lea menyuruhnya. Dia langsung menaruh lembaran kertas di atas meja. "Maaf menganggu waktu Bapak. Saya ingin menyerahkan hasil desain saya."


Renko beralih melihat gambaran Kyra. Pria itu tampak terpukau melihat hasilnya. "Bagus. Aku rasa ini tidak kalah buming dari desain kemarin"


"Untuk desain cowok, sepertinya dibuat tidak berkerah mungkin lebih fashionable dan tidak ribet," usul Renko.


Kyra nampak berpikir. Dia meminta lembaran desain pakaian cowok. Lalu membuka peralatan gambarnya dan menghapus bagian gambar kerah. Mencoba ide dari Pak Renko.


"Ini, Pak."


"Nah, iya, begini. Ini lebih pas menurut saya," kata Renko. "Dan satu lagi. Bagian baju wanita, coba kamu tambahin desain aksesoris. Biar kelihatan hidup."

__ADS_1


Kyra mengangguk. Lalu mulai lagi menggambar sesuatu di sana. Ketika Kyra fokus mencoret-coret, pada saat itu Renko mengamati wajah Kyra. Menurutnya wajah itu berbeda, memiliki aura pembawaan yang tenang dan juga bersinar alami.


"Bagaimana kalau yang seperti ini, Pak?" Kyra mengangkat pandangan, dia terkejut Renko sedang menatapnya dengan intens.


"Pak ...?" Kyra memanggil lagi karena Renko bergeming.


"Iya-iya, bagaimana?" Renko setengah gelagapan. Suasana sedikit canggung. Kyra mengalihkan penglihatan agar tidak berbalas lagi dengan Renko.


"Bagaimana dengan yang ini," ulangnya sambil menyodorkan hasil gambaran.


Kening Renko berkerut. "Apa sebelum ini kamu pernah bekerja di perusahaan lain? Atau kamu pernah punya usaha sendiri?" tanyanya serius.


"Tidak, Pak. Di sini pengalaman kerja saya yang pertama. Saya juga tidak pernah mendirikan usaha apapun. Real baru di tempat ini saya mendesain pakaian-pakaian ini."


"Saya terlalu takjub dengan ide-ide kamu, Andini. Seperti sudah sangat berpengalaman. Harusnya kamu ambil kuliah lagi supaya kamu lebih maju."


"Kalau gaji saya sudah banyak. Nanti saya akan lanjut kuliah, Pak. Sekarang biar saya kumpul-kumpul dulu."


Jawaban yang bukan sesungguhnya, bahkan bisa dibilang asal karena tidak mungkin dia bisa melanjutkan kuliah. Selain memikirkan biaya, dia tidak mau terlalu sibuk dengan urusan dunia hingga mengabaikan Kaina.


Tidak! Kaina tetap yang paling utama. Kaina adalah segalanya. Belahan jiwa yang sempurna, meski fisiknya tak sempurna. Dia cinta dan kekuatan yang paling berarti dalam hidupnya. Cinta pada Kai, tak sebesar cinta pada putrinya.


"Kamu bisa kerja sambil kuliah lagi, Andini. Saya bisa pinjami kamu dana, asal kamu masih bekerja di perusahaan saya dan menyumbang ide untuk memajukan perusahaan."

__ADS_1


Kyra mengernyit. Dia melihat Renko sekilas yang kini tengah tersenyum simpul. "Penawaran Bapak bukan berati saya akan mengabdi seumur hidup dengan perusahaan Bapak, kan?"


"Ha ha ha ...." Renko tergelak. "Kamu lucu, Andini. Boleh saja kalau kamu mau mengabdi seumur hidup. Atau ... bisa juga mengabdi sebagai istri saya supaya kamu tidak pergi dari perusahan ini."


"Hah?!" Kyra terlonjak.


"Jangan ditanggapi serius. Becanda," ujar Renko.


Kyra tersenyum canggung. Ternyata Pak Renko bisa bersikap humoris. Berbeda dari pertama yang dilihat kemarin. Dingin dan tegas.


"Tapi untuk penawaran dana kuliah saya serius. Skill kamu oke, sayang kalau tidak dikembangkan. Padahal kamu bisa lebih sukses."


Kyra merasa tersanjung. Baru kali ini ada yang peduli dan men-suport untuk maju.


Kai? Em, kenapa dia harus teringat dengan pria itu. Sejauh bersama Kai, tidak sekalipun pernah mendukungnya. Bahkan cenderung melarang. Andai, hanya bisa berandai, bila yang ada di depannya saat ini adalah Kai. Entah sebahagia apa dirinya.


Ah ...! Kyra menggeleng-geleng kecil. Dan gerakannya di saksikan oleh Renko. "Bengong, geleng-geleng sendiri," ujarnya.


"Em, maaf, Pak."


"It's oke. Kamu pikir-pikir aja dulu. Kapanpun kamu siap. Tinggal bilang."


"Em, boleh saya tanya?" Kyra ragu-ragu. Renko mengangguk dengan memberi isyarat lewat tangan untuk mempersilahkan Kyra bertanya.

__ADS_1


"Saya karyawan baru di perusahan ini. Tapi, Bapak memberi saya kesempatan emas. Em ...." Kyra nampak bingung untuk melanjutkan kalimatnya. "Apa karyawan lain juga punya kesempatan seperti saya?"


"Siapapun punya kesempatan emas juga keberuntungan. Anggap saja kamu sedang beruntung."


__ADS_2