
"apapun usaha yang aku lakukan selalu tidak berarti di matamu,apa aku harus berhenti berusaha untuk mendapatkan mu?"
--Alzena Putri Amelia.
∆∆∆
"Nih,ambil"ucap Leo.
"Makasih kak"ucap Alzena,sambil meminum minuman yang di berikan Leo padanya.
"Tadi lo keren banget"ucap Leo.
Alzena tersenyum kecil,setidaknya kekesalan nya sudah terlontarkan tadi.
"Sejak kapan lo kenal Azriel?"tanya Leo.
"Waktu kemarin malam kalau gak salah"ucap Alzena,Leo mengangguk paham.
"Zen"panggil Leo.
"Kenapa kak?"tanya Alzena.
"Lo cinta banget sama Keenan?"tanya Leo ragu.
Alzena menatap kearah depan"suka ke dia nggk bisa aku jelasin,yang aku tau aku sayang dan suka sama dia."ucapnya.
Leo terdiam hatinya terasa tertusuk jarum"walau sekalipun dia jahatin lo?"tanya Leo lagi.
Alzena tersenyum"itu ujian buat aku kak,dan itu semua butuh perjuangan"ucapnya.
"Apa lo gak pernah mikir buat pergi dari kehidupan dia?"tanya Leo.
"Belum"ucap Alzena sembari menunduk.
"Belum saat nya aku pergi dari kehidupan dia,Keenan adalah alasan aku kenapa aku masih kuat ngejalanin ini semua"sambung Alzena.
Leo tersenyum tipis lalu menepuk puncak kepala Alzena"yaudah,gua ke kelas dulu"ucapnya.
Alzena mengangguk"terima kasih sekali lagi kak"ucapnya.
"Santai aja"ucap Leo.
Ia berjalan menuju koridor kelasnya,ia memegang dadanya yang terasa sesak.
"Apa lo gak pernah sekalipun mikirin gua?"Leo tersenyum miris. Ia meneruskan langkahnya menuju kelas.
Sedangkan Alzena memilih menuju tempat loker Keenan,ia mau menaruh beberapa cemilan yang ia beli.
"Semoga kamu makan ya Keenan"gumam Alzena sambil mengunci kembali loker tersebut.
__ADS_1
Alzena berjalan menuju kelasnya dan ia langsung menelungkup kan wajahnya di lipatan tangannya.
Hari ini masalah terlalu membuatnya pusing,ia tidak suka ada orang yang membicarakan yang tidak-tidak mengenai keluarganya.
Walaupun ibunya tidak pernah peduli padanya,ia tetap menyayanginya.
"Kapan ini berakhir?"gumam Alzena pelan.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi dan Alzena kini bersiap-siap untuk pulang.
Alzena duduk di taman sekolah,ia malas untuk pulang lebih cepat karena pada dasarnya ia pulang pun tidak akan ada yang mengkhawatirkan nya.
"Hey,sendirian aja"sapa Azriel.
Alzena menoleh sambil tersenyum tipis"ngapain?"tanya nya.
Azriel duduk di samping Alzena"jalan-jalan aja,kebetulan ketemu sama lo"ucapnya.
"Bolos lagi?"tanya Alzena di balas cengiran bodoh Azriel.
"Ketauan banget ya kalau gua bolos"ucap Azriel sambil tertawa kecil.
"Udah kelas dua belas juga,masih mau bolos"Alzena menggelengkan kepalanya.
"Kalau gak bolos sehari itu berasa kurang afdol"ucap Azriel.
"Kamu nya aja yang keseringan bolos"ucap Alzena.
"Tapi nggk berlebihan juga"sambung Alzena.
"Nakal gua standar kok,cuman bolos,ngerokok,ngerjain guru,gitu doang"ucap Azriel.
Alzena tertawa kecil"ya terserah kamu aja"ucapnya.
"Ngomong-ngomong lo mau gua anter pulang gak?"tanya Azriel.
"Kalau gak ngerepotin kamu"ucap Alzena.
"Ngerepotin apa? Kan gua yang nawarin,yaudah ayok!"
∆∆∆
"DASAR ANAK BODOH!!"
Saat Ferry baru memasuki rumahnya,ia mendengar suara bentakan dari ibunya.
"Ampun,ma! Zena gak sengaja"ucap Alzena sambil terisak.
"Kamu tau,itu mahal harganya. Kamu malah rusakin barang itu,dasar bodoh!!"ucap Rena,mama nya Zena.
__ADS_1
"Maaf ma,Zena gak sengaja."Alzena memeluk kaki ibunya namun tubuhnya langsung di dorong begitu saja.
"Pembawa sial! Anak bodoh!"Rena mengambil sapu dengan gagang kayu dan memukulnya kearah badan Alzena.
Bukk~
"Rasain!! Biar kamu kapok"ucap Rena.
"Sakit ma!"Alzena memeluk tubuhnya namun ibunya tidak berhenti memukul tubuhnya dengan kuat.
Bukk'
Ferry terhenyuh ,ia berjalan mendekati mereka.
Rena terus memukuli tubuh Alzena hingga gagang kayu tersebut patah,ia melemparnya.
"Dasar anak gak tau di untung"umpat Rena.
Ferry terdiam melihat jejak luka lebam di sekujur tubuh Alzena bahkan ada yang mengeluarkan darah.
"Ma"panggil Ferry.
"Udah jangan di pukul lagi"sambung Ferry,hatinya serasa di cubit melihat keadaan di hadapannya.
Rena menoleh"kamu udah pulang? Ayo Mama udah siapin makan untuk kamu"ucap nya.
"Dan untuk kamu anak bodoh,gak ada jatah makan buat kamu"sambung Rena,ia menggandeng tangan Ferry dan membawanya keruang makan.
Ferry menoleh ia melihat Alzena terisak menahan sakit sambil memeluk tubuhnya dengan erat. Kondisinya sangat memprihatinkan,rambut berantakan dengan kondisi tubuh yang terluka parah.
Hati Ferry tiba-tiba merasa nyeri,apalagi ia melihat Alzena berusaha bangun dengan susah payah.
Alzena berdiri dengan berpegangan pada meja kayu di sampingnya sambil terus terisak.
Alzena berjalan terseok-seok menuju tangga,ia menaiki tangga dengan perlahan dan masuk kedalam kamarnya.
Ia memperhatikan kondisi tubuhnya di cermin lalu kembali terisak,ia berganti pakaiannya lalu berbaring perlahan sambil meringis menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Alzena tidak mengobati lukanya karena tidak ada obat sama sekali yang ia punya di kamarnya.
Tadi ia tidak sengaja menyenggol vas besar yang berdiri di meja saat ia tengah membersihkannya lalu ibunya pun melihat dan langsung marah besar padanya.
"Kangen papa"ucap Alzena pelan,ia menangis lalu memeluk guling di sampingnya.
"Papa,Zena kangen"lirih Alzena.
"Laper"ucap Alzena,ia memeluk perutnya yang berbunyi dari tadi.
"Pa,apa salah Zena? Zena capek gini terus."
__ADS_1
∆∆∆
TBC