ALKENA(ALZENA&KEENAN)

ALKENA(ALZENA&KEENAN)
23.


__ADS_3

Alzena mengelap keringat di keningnya lagi-lagi ia di jahili oleh teman sekelasnya.


Alzena keluar dengan tubuh basah kuyup,ia menenteng tas miliknya lalu berjalan keluar gerbang sekolah.


Ia menatap Keenan dan Jeni yang berada di tempat parkir motor,mata Alzena bertemu dengan mata Keenan namun buru-buru ia mengalihkan pandangannya.


Nyut~


"Ahh"ringis Alzena,ia memegang pinggangnya yang terasa nyeri kembali.


Alzena mengigit bibirnya sambil memegang dinding di sampingnya.


"Sakit"lirih Alzena.


Keenan mengerutkan keningnya melihat Alzena yang tampak kesakitan,saat akan menghampirinya sebuah mobil jazz berhenti di hadapan Alzena.


Keenan menatap Ferry yang keluar dari mobil dengan wajah panik ia memapah tubuh Alzena masuk kedalam mobil.


"Sakit kah?"batin Keenan.


"Ken"panggil Jeni.


Keenan menoleh"ayo pulang"ucapnya.


Jeni mengangguk lalu menaiki jok belakang motor Keenan.


Ferry menghentikan mobilnya di sebuah rumah sakit lalu menggendong tubuh Alzena kedalam.


"Abang,sakit"lirih Alzena sambil meremas seragam Ferry.


"Tahan,bentar. sialan lah!! Mana dokternya coba"umpat Ferry,ia panik melihat adiknya seperti ini.


Tak lama kemudian dokter pun menghampiri mereka dan membawa Alzena ke dalam ruangannya.


Ferry duduk di depan ruangan tersebut sambil menatap cemas kearah pintu.


Cklek~


"Gimana keadaan adek saya?"tanya Ferry,ia langsung berdiri saat melihat dokter sudah keluar dari ruangan tersebut.


"Adik anda nggk boleh kelelahan,tidak boleh mengangkat beban yang berat kalau adik anda masih seperti itu hidup adik anda gak bakal lama lagi"ucap dokter. Jantung Ferry langsung berdetak tidak karuan.


"Kalau begitu sama permisi,pasien sudah bisa pulang. Anda bisa menembus obatnya di apotik"ucapnya.


"Arghhh....brengsek!!"Ferry memukul tembok di sampingnya dengan kuat.

__ADS_1


Ferry memasuki ruangan tersebut,ia menatap Alzena yang sudah duduk di bankar.


"Zen"panggil Ferry.


Alzena menoleh lalu tersenyum membuat hati Ferry terenyuh,ia memeluk tubuh Alzena dengan erat.


"Jangan pergi! Jangan tinggalin gua"ucap Ferry.


"Emangnya aku kemana?"tanya Alzena sambil terkekeh kecil.


"Pokoknya kalau ada apa-apa lo cerita sama gua"ucap Ferry.


"Iya abang"ucap Alzena.


"Gua gak mau kehilangan lo,gua cuman punya lo disini"ucap Ferry.


Alzena tersenyum lalu mencubit pipi Ferry"Zena gak apa-apa abang"ucapnya.


"Gak apa-apa lo bilang? Sampai lo kecapean lagi nyawa lo lewat tau!!"bentak Ferry kesal.


"Takdir Zena emang gini abang"ucap Alzena sambil tersenyum.


Ferry kembali memeluk Alzena dengan erat"gak,pokoknya gua gak bakal ngebiarin lo kenapa-kenapa lagi."


"Kita pulang"sambung Ferry sambil menuntun Alzena turun dari bankar.


∆∆∆


Alzena berjalan menuju taman di dekat rumahnya,langit tampak mendung dan mulai turun rintik-rintik hujan. Alzena tetap melangkah sambil menundukkan kepalanya.


Sebuah payung menutupi Alzena,ia langsung menoleh kearah orang yang sedang memegang payung.


"Kenapa hujan-hujanan?"tanya Azriel."nanti lo sakit"


Alzena tersenyum tipis"gak apa-apa,lagi pengen aja main hujan-hujanan"ucapnya.


"Ayo"Azriel menarik tangan Alzena pelan menuju kedai kecil di dekatnya.


"Kenapa? Ada masalah?"tanya Azriel,ia duduk di hadapan Alzena.


"Nggk ada"balas Alzena singkat.


"Yakin?"tanya Azriel lagi.


Alzena tersenyum"aku gak apa-apa"ucapnya.

__ADS_1


Azriel menghela nafas pelan"kalau ada masalah cerita aja,jangan di pendem gak baik"ucapnya.


"Aku tau,cuman aku ngerasa kayak gak berguna aja"ucap Alzena sambil menatap jendela.


"Lo ngomong apaan sih?!"ucap Azriel kesal.


"Aku hidup cuman dengan satu ginjal,apa menurut kamu aku bisa bertahan lebih lama?"ucap Alzena sambil tersenyum.


"Lo pasti bisa,gak boleh pesimis gitu"ucap Azriel marah.


"Umur gak ada yang tau"ucap Alzena.


"Lo ngomong gitu,berasa gua pengen buat Keenan babak belur"batin Azriel.


Azriel menjentik kepala Alzena dengan pelan"gak ngomongin umur,gua kesel dengernya"ucapnya.


"Anterin aku ke kuburan bisa?"tanya Alzena.


Azriel menatap bingung"kemana?"tanya nya.


"Ke makam papa aku sama Intan"ucap Alzena.


"Papa lo udah,emm--maksud gua itu--"Azriel menghentikan perkataannya.


Alzena tersenyum"iya papa aku udah gak ada,lima tahun yang lalu papa aku meninggal"ucapnya.


Azriel mengepalkan tangannya,kenapa hidup Alzena begitu menderita? Brengsek Keenan,ia harus membuat perhitungan padanya.


"Lalu ibu lo?"tanya Azriel.


"Di penjara karena kasus korupsi dan penipuan"ucap Alzena dengan nada pelan.


Azriel menatap Alzena dengan terkejut"maaf,gua--"


"Gak apa-apa,hidup aku emang kayak gini. Mau diapain lagi"ucap Alzena sambil tersenyum tipis.


"Ayo berangkat,nanti hujan lebat gak jadi"sambung Alzena.


Azriel mengangguk"ok ayo"ucapnya.


"Kita mampir di toko bunga bentar ya,aku mau beli bunga Lily buat Intan"ucap Alzena di balas anggukan kepala Azriel.


"Keenan,lo bener-bener brengsek!"


∆∆∆

__ADS_1


Tbc


__ADS_2