
"Aku pernah berharap untuk menghilang saja dari dunia ini. Dunia ini terlihat begitu gelap dan aku menangis sepanjang malam. Apakah aku akan merasa lebih baik jika aku menghilang?"
-Alzena Putri Amelia.
∆∆∆
Alzena keluar pukul tujuh malam untuk pergi membeli keperluan sekolahnya.
"Sepi banget"ucap Alzena saat melihat jalanan kosong hanya beberapa motor dan mobil yang lewat.
Bulu kuduk Alzena merinding ia mengeratkan jaketnya dan memeluk buku dairy miliknya dengan erat.
Alzena mempercepat langkahnya menuju toko buku tersebut saat sudah sampai ia bernafas lega.
Alzena mengambil buku tulis dan beberapa pena lalu ia menatap buku dairy bewarna biru dengan hiasan burung hantu terlihat sangat lucu.
Ia menatap buku dairy miliknya yang bewarna coklat,ia bernafas pelan bukan saatnya untuk membeli buku dairy yang baru.
Setelah membayar ia langsung bergegas pulang,ia sedikit takut apalagi tidak banyak orang yang keluar hari ini
Alzena berlari kecil menuju rumahnya namun sebelum sampai ia melihat dua motor saling menyalip satu sama lain membuat tubuh Alzena gemetar ketakutan.
Salah satu pengendara motor tersebut menendang motor di sebelahnya sehingga motor tersebut oleng dan terjatuh bersamaan dengan pengendara yang menggendarainya.
"Sialan!!"umpat pernah motor tersebut.
Ia terjepit diantara motor besarnya tampak kesusahan saat mengangkat motornya membuat Alzena langsung bergerak cepat membantu orang tersebut.
"Sini aku bantu"ucap Alzena.
Pria tersebut menatap Alzena dengan diam saat perempuan itu mulai membantu mengangkat motornya perlahan.
Alzena menggeser motor tersebut lalu membopong tubuh pria yang tertimpa tadi dan mendudukkan nya di tempat yang lebih aman.
Pria tersebut membuka helmnya menatap tajam kearah Alzena namun tatapannya menyiratkan kelembutan.
"Ada yang luka?"tanya Alzena.
Pria itu menggeleng,kakinya hanya terkilir terkena aspal tadi.
"Bisa ngomong kan?"tanya Alzena.
Pria itu mendengus apa perempuan di depannya ini menganggap dirinya bisu?
"Bisa"balasnya singkat.
"Bagus deh"ucap Alzena sambil tersenyum.
__ADS_1
"Nama kamu siapa?"tanya Alzena.
"Azriel"balas singkat nya,Alzena mengangguk paham.
"Perlu aku anter kerumah kamu?"tanya Alzena.
Azriel menggeleng"gak usah,gua bisa sendiri"ucapnya.
Alzena tersenyum tipis"yaudah kalau gitu aku duluan ya, hati-hati."ucapnya.
"Ini,buat jaga-jaga kalau kamu butuh."sambung Alzena sambil memberikan Azriel betadine miliknya.
Alzena langsung berlari tanpa memperdulikan panggilan Azriel padanya.
"Baru juga mau nanya namanya,malah langsung pergi"ucap Azriel.
Azriel berdiri ia menatap betadine pemberian Alzena tadi,ia tersenyum tipis mengingat betapa pedulinya gadis itu padanya padahal mereka tidak saling kenal.
Azriel berjalan dengan sedikit pincang namun langkahnya terhenti saat melihat sebuah buku kecil.
Azriel mengambilnya kemungkinan buku ini punya gadis yang menolongnya tadi.
Azriel menatap buku tersebut yang tidak terkunci lalu menatap sampul depannya.
"Alzena Putri Amelia,jadi itu nama lo."
∆∆∆
"Dimana ya? Ihh kalau hilang gimana?"ucap Alzena panik.
Ia sudah berulang kali mencari buku kecil miliknya namun sampai sekarang buku tersebut tidak ia temukan.
Alzena menatap lesu kemungkinan buku miliknya benar-benar hilang,buku kesayangannya. Buku yang almarhum ayahnya berikan padanya hilang begitu saja.
Alzena menatap jam dinding seketika ia terkejut bukan main saat pukul menunjukan jam tujuh pagi.
"YA AMPUN,AKU TELAT!!"Alzena mengambil tas miliknya dan berlari keluar rumah.
Ia langsung memberhentikan angkot dan mulai menuju ke sekolahnya.
Alzena menggigit kukunya,ia takut di hukum saat telat nanti. Baru hari ini ia telat,harusnya ia tidak mencari buku itu.
Lima menit kemudian ia sampai di sekolah tampak gerbang tertutup pertanda bahwa ia benar-benar telat.
"Pak,Pak satpam!"teriak Alzena.
"Loh,kamu telat nak?"tanya satpam tersebut.
__ADS_1
"Iya pak,bisa bukain gak pintunya. Zena hari ini ada ulangan matematika"ucap Alzena seraya memohon.
"Yaudah,bapak izinin. Ini juga pertama kalinya kamu telat, besok-besok jangan di buat lagi ya"ucap Satpam.
"Siap pak,makasih banyak"ucap Alzena lalu ia berlari menuju kelasnya.
Ia pun masuk,kebetulan guru yang mengajar belum masuk lagi-lagi ia bernafas lega.
Alzena mengikuti pelajaran dengan khidmat sampai bel pulang berdering,ia langsung bergegas pulang.
Ia melihat Keenan menuju parkiran motornya.
"Keenan"panggil Alzena,Keenan menoleh dengan tatapan datar.
"Ini,punya kamu. Aku balikkin"ucap Alzena sambil memberikan betadine yang pernah Keenan berikan padanya.
"Gak usah,gua gak mau barang bekas lo pakai"ucap Keenan dengan pedas.
"T-tapi--"
"Gua bilang gak usah,ya gak usah!! Denger gak?!"bentak Keenan.
"Gak usah sok akrab sama gua,gua sama lo gak pernah akrab. Inget itu"ucap Keenan,ia menaiki motornya lalu memasangkan helm miliknya.
"Jauhin gua,ngerti?! Sekalipun kita tunangan,dari dulu sampai sekarang gua gak pernah nganggep lo ada"ucap Keenan.
Alzena terdiam,matanya menatap sendu kearah Keenan"o-oh,kalau gitu hati-hati ya"ucapnya.
"Cih! Jangan sok peduli sama gua,jijik tau gak liat wajah polos lo itu. Bikin muak!!"ucap Keenan,ia langsung menancapkan gas motornya dan meninggalkan Alzena yang mulai terisak di tempat.
Alzena mengusap matanya yang perlahan mengeluarkan air mata. Alzena menatap betadine tersebut lalu membuangnya,bagi Keenan Alzena adalah sampah.
Bagi Keenan Alzena adalah pembunuh dan bagi Keenan Alzena adalah hal yang paling di bencinya setelah kebisingan.
Alzena melangkah keluar sekolah dengan langkah lunglainya. Ia menunduk lesu namun sebuah motor berdiri di hadapannya.
"Hey,kita ketemu lagi."Alzena menatap orang yang berada di motor tersebut.
"Lo Alzena kan? Yang kemarin nolongin gua"ucap nya.
"Gua Azriel lo inget?"ucap Alzriel. Alzena tersenyum tipis.
"Gua traktir mau? Buat balas budi karena lo udah nolongin gua kemaren."
∆∆∆
TBC
__ADS_1