
*Kisah dua insan manusia yang disatukan karena sebuah amanah.
Gadis bernama Naysila, awalnya sangat membenci pernikahannya dengan laki-laki bernama Zulfikar, karena baginya pernikahan mereka adalah sebuah keterpaksaan yang harus segera mereka akhiri. Dia tidak mencintai Zulfikar, begitupula sebaliknya.
Zulfikar sebagai seorang laki-laki yang sangat memegang teguh agamanya, selalu berusaha mempertahankan ikatan suci mereka meskipun Naysila terus saja mengecewakan usahanya dan meskipun di hatinya sejujurnya ada wanita lain yang sangat dia cintai.
Namun siapa sangka?
Karena ketulusan hati seorang Zulfikar, akhirnya Naysila luluh dan mulai menerima pernikahan mereka.
Cobaan pernikahan mereka tak selesai sampai di sana, rumah tangga keduanya selalu saja diterpa masalah bertubi-tubi.
Mulai dari kehadiran sosok yang ingin membalas dendam, sampai kehadiran cinta masa lalu Naysila dan Zulfikar yang membuat goyah perasaan masing-masing.
Akankah cinta Zulfikar dan Naysila bertahan*?
***
Awal kisah pertemuan mereka di mulai.
Pernikahan adalah sebuah penantian yang di dambakan oleh setiap manusia terlebih lagi bagi kaum wanita, karena pernikahan adalah harapan dan mimpi yang sangat di nantikan waktunya.
Namun tidak dengan NAYSILA PUTRI.
Wanita kelahiran tahun 1995 ini masih juga belum bisa membuka hati untuk laki-laki. Jangankan untuk menikah, melihat laki-laki saja dia sudah malas duluan. Entah apa yang menjadi penyebab dia tidak tertarik lagi pada laki-laki, padahal dulu waktu sekolah dan kuliah, dia sering sekali gonta ganti pacar sampai keluarganya was-was dengan pergaulan anak bungsu itu.
"Nay, menikah itu sunnah rasul, biar bagaimanapun suatu saat kamu pasti harus melaksanakannya." Hamidah menuangkan nasi di piring Aisyah lalu piring Naysila secara bergantian. Kebiasaan rutin ini sudah biasa mereka lakukan setiap mereka makan bersama.
"Kan cuma sunnah, Bu. Gak wajib kan? jadi ngga dosa donk kalo Nay tidak melaksanakannya." Sahut Naysila.
"Astagfirullah, Nay. Hati-hati kalo bicara!" Aisyah mengelus dadanya, "meskipun bukan kewajiban tapi menikah itu adalah sebuah keharusan. Kamu kira kamu bakal muda terus? ... siapa yang akan merawat kamu kalo sudah tua nanti? mendo'akanmu saat kau sudah tiada, kalo bukan anak-anakmu ... Lalu kamu pikir seorang anak itu lahir hanya dengan bersin saja?" Aisyah melanjutkan, dia memang sedikit bawel kalo bicara, tapi percaya dia sangat sayang terhadap keluarga.
"Nay bisa mungut anak di panti asuhan. Gampang kan?" Sahut Naysila kembali sambil menyuapkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.
"Capek emang kalo ngomong sama anak keras kepala tuh." Aisyah mendelik kesal. Sudah yang ke berapa kali peristiwa ini terjadi. Naysila tetap Naysila. Dia keras kepala.
"Sudah sudah, Nak. Biarkan saja adikmu itu memikirkannya kembali. Dia hanya butuh waktu." Hamidah sang ibu berusaha menengahi.
"Bu, tapi usia dia sudah 25 tahun. Anak-anak seusianya di kampung sudah momong anak semua, " tegas Aisyah, "bahkan adik-adik kelasnyapun sudah menikah rata-rata ... lah dia, deket sama laki-laki aja nggak mau. Aisyah cuma khawatir, Bu."
"Gak usah lebay deh, kak. Temen-temenku di kota aja belum pada nikah orang tuanya biasa-biasa aja. Malah ada yang lebih tua dariku mereka masih santai aja," jawab Naysila dengan nada kesal, "emang sih susah kalo pemikiran orang kampung mah, usia 25 tahun aja udah di katain perawan tua lah, ga laku lah, lanjut Naysila setelah itu ia menenggak air putih di gelas hingga tandas, "iat noh di korea nikah tuh usia wanitanya rata-rata 29 tahun."
"Astagfirullah, NAYSILA PUTRI! jaga ucapan mu itu!" Bentak Aisyah, "kebanyakan nonton film korea, jadi otaknya udah didoktrin sama korea semua." Aisyah mulai geram. Dia bahkan menatap kesal asik bungsunya itu.
"Udahlah... Nay jadi kenyang tiba-tiba." Naysila menaruh sendok dan garpu bersamaan, "pusing tiap hari yang di bahas itu terus, Nay mau pergi ketemu Hanifah assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam." jawab Hamidah dan Aisyah serentak sambil menggeleng-gelengkan kepala, melihat Naysila pergi meninggalkan rumah pagi-pagi sekali.
"Huft, bagaimana ini, Bu?" Aisyah sekali lagi menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Biarkan saja dulu! dia butuh waktu." Jawaban Hamidah yang selalu singkat namun menenangkan.
Iya, Naysila memang butuh waktu. Butuh waktu untuk melupakan semua kenangan masa lalunya.
***
"Assalamu'alaikum." seorang laki-laki paruh baya yang merupakan petugas kebersihan kampus masuk ke dalam ruangan dosen muda nan tampan bernama Zulfikar Wiratama.
"Wa'alaikum salam Pak, ada yang bisa saya bantu?" Sahut seorang dosen yang di paragraf atas disebutkan.
"Oh ini pak Dosen. Ada titipan bucket bunga dari mahasiswi Fakultas Teknik ... katanya buat Bapak." Sugi, si office boy memberikan sebuah buket bunga dengan tulisan
'Semoga harimu menyenangkan Padosgan'
"Oh. Siapa ya, Pak namanya?" Tanya Zulfikar heran.
"Saya kurang tahu Pak. Saya kan masih baru," jawab Sugi dengan polosnya, "cuma dia tuh cantik putih dan ada gingsulnya, pokoknya top markotop dah." Sugi mendeskripsikan wanita pemberi bunga itu dengan semangat juang 45.
"Wahh Bapak bisa aja. Yaudah kalo ketemu nanti bilangin makasih ya Pak! saya terima bunganya." Zulfikar meraih bunga itu dan menatap lekat seraya bertanya-tanya, siapa wanita pemberi bunga itu.
"Baik, Pak. Kalo gitu saya permisi dulu." Ucap Sugi sopan sambil menundukkan kepalanya.
"Iya silakan!" Jawab Zulfikar.
"Assalamu'alaikum." Ucap Sugi kemudian keluar dari ruangan Dosen.
"Widihhhhh, beda ya perhatian Mahasiswi kalo ke Dosen ganteng mah." Andre, sahabat Zulfikar menyiku bahu Zulfikar yang masih memandangi bucket bunga itu dengan penasaran.
"Apaan sih, Ndre? biasa aja."
"Nggak Zul, selama gue ngajar di kampus ini, belom pernah gue denger ceritanya Mahasiswi ngasih bunga ke Dosen. Apalagi lu hampir tiap hari dapet kiriman dari orang yang berbeda-beda pula," jelas Andre, "sumpah ya, gue iri sama lu." Andre merengut menarik bucket yang di pegang Zulfikar lalu mencium harum semerbaknya. Benar-benar bunga yang indah nan harum, pikirnya.
"Iri apanya sih Ndre? ada-ada aja lu." Zulfikar beralih ke tempat duduknya semula lalu mulai mengetik beberapa huruf di papan keyboardnya.
"Oiya Zul, ngomong-ngomong acara minggu besok gimana?"
"Alhamdulillah, sudah beres tinggal eksekusi aja."
"Penceramahnya siapa?" Tanya Andre.
"Ust. Hanan Attaki."
"Wihhhhhhh, keren ni. Wajib dateng banget ini mah dan pasti bakalan rame banget guys." Andre bersorak ria.
"Amiiinnn." Sahut Zulfikar.
"Bagian acara siapa?" Tanya Andre.
"Tika sama arifin."
__ADS_1
"Terus untuk masalah lapangan siapa yang ngatur?"
"Ya lu lah sama Farhan."
"Gue mulu perasaan. Sekali-kali gitu gue bagian konsumsi ke. Kan gue bisa makan sepuasnya di pojokan," tutur Andre, "oiya ngomong-ngomong kalo konsumsi siapa?"
"Nanya mulu lu, makanya ikut rapat, jadi panitia ko cuma muncul pas hari H doang."
"Yeee gitu aja sewot. Biasanya juga gue ikut. Kemaren kan gue nemenin bebeb Nina dulu shopping, bisa ngamuk dia kalo kemauannya ga di turutin."
Zulfikar hanya mendelik malas.
"Ehh siapa bro bagian konsumnya?" Andre kembali bertanya "gue mau ngasih tau tempat catering yang enak tapi murah banget dan itu bisa jadi opsi buat makan siang jama'ah nanti."
Zulfikar seketika menghentikan aktifitas mengetiknya lalu menarik panjang nafasnya. Andre yang melihat tingkah temannya mematung menunggu jawaban yang keluar dari mulut Zulfikar.
"Nurul." Jawab Zulfikar dengan datarnya.
Mendengar kata Nurul Andre langsung menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. "Upss .. sori bro, gue gak maksud."
Zulfikar mengambil sebuah buku pelajaran dan spidol yang ada di samping laptopnya "Yaudah, gue duluan ya. Ada kelas." Zulfikar berdiri dari kursinya lalu pergi meninggalkan Andre yang dengan rasa bersalahnya.
Sebenarnya Andre tidak bermaksud membuat mood Zulfikar pagi itu hancur gara-gara harus mengingat nama wanita yang saat ini masih ada di dalam hati zulfikar 'Nurul Azizah'
*Nurul Azizah adalah wanita cantik primadona desa, pasalnya selain cantik dia juga pintar dan sholehah, tak salah jika Zulfikar menyimpan rasa pada gadis itu semenjak mereka duduk di SMA.
Nurul sendiri mengetahui perasaan Zulfikar terhadapnya dari temannya yang bernama Nina, bagaimana tidak? setiap pengajian berlangsung Zulfikar sering mencuri curi pandang pada Nurul.
Namun karena Nurul adalah putri dari seorang kyayi yang merupakan guru mengaji Zulfikar, makanya dia tidak berani menyatakan cintanya pada Nurul. Takut akan menyakiti perasaan Pak Kyayi, terlebih Pak Kyayi sangat menentang dengan kata 'pacaran' sehingga akhirnya Zulfikar memilih menunda sampai waktunya tiba, dia berjanji kalau dia akan melamar Nurul kalo sudah lulus sarjana tekniknya.
Waktu terus berjalan seiring waktu. Zulfikar harus menelan kekecewaannya. Semua harapan dan impiannya pupus ketika Pak Kyayi mengumumkan bahwa dia akan menikahkan Putri bungsunya Nurul dengan laki-laki pilihannya.
Calon suami Nurul tak lain adalah anak dari sahabat Pak Kyai sendiri, namanya Luthfi Hasan.
Luthfi merupakan sarjana lulusan pendidikan Agama Islam yang saat ini sudah bekerja di Departemen Agama. Dan Ayahnya Luthfi adalah pemilik Pondok Pesantren.
Nurul yang waktu itu belum menyelesaikan pendidikannya di bidang Sastra dan Bahasa akhirnya menerima perjodohan itu dengan lapang dada, pasalnya dia adalah anak yang sangat patuh terhadap orang tuanya jadi apapun yang di perintahkan dia pasti akan menurutinya.
Nurul dan Luthfi akhirnya menikah , dan Zulfikar ... Jangan tanyakan keadaannya saat itu, dia bahkan tidak menghadiri acara pernikahan Nurul dan Luthfi, dia memilih pergi ke puncak gunung Pangrango bersama kawan-kawan fakultasnya.
Kasian memang , tapi bagaimana lagi, kalo bukan jodoh yaa mau bagaimana?
Bukankah Allah sudah memutuskan sejak kita dalam kandungan siapa yang akan menjadi jodoh kita kelak? Lalu kenapa kita harus tidak terima ? kan waktu itu kita sudah sepakat dan taken kontrak dengan Allah perihal hal jodoh, rezeki, bahkan maut sekalipun.
Ikhlas dan tawakal hanya itu yang perlu kita lakukan. Mungkin Allah sedang mempersiapkan yang terbaik di antara yang baik menurut hambanya, karena apa yang baik menurut hambanya belum tentu baik di mata Allah.
Percayalah! Skenario Allah jauh lebih indah dan lebih terstruktur dibandingkan skenario sutradara terbaik di dunia sekalipun.
Kita hanya perlu menjalaninya dengan ikhlas dan penuh tawakal*.
__ADS_1