Amanah & Cinta

Amanah & Cinta
Amanah & Cinta (010)


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang tak begitu besar, terlihat seorang wanita paruh baya yang sudah dua hari ini masih koma dan tak sadarkan diri. Kedua anak wanita di sampingnya duduk dan masih setia menemaninya, sementara seorang laki-laki yang duduk di kursi roda hanya bisa diam dan sesekali meneteskan air matanya.


"Bu, bangun Bu! Kenapa Ibu tidur terus sih?" Isak Naysila.


Naysila menatap lirih meratapi ibunya, sudah dua hari dua malam Naysila tidak tidur, menemani ibunya yang masih koma.


Sejak kecil Naysila memata sangat dekat dengan Ibunya, pantas jika saat ini dia adalah orang yang paling terluka melihat Ibunya terbaring lemah.


"Sudah Nay, semua ini sudah takdir Allah! Kita harus sabar!" Aisyah memegang pundak adiknya memberi kekuatan. Padahal jauh di lubuk hatinya, Aisyah juga sangat terpuruk. Namun dia berusaha menguatkan adiknya yang lebih cengeng darinya.


"Tidak!" sergah Naysila, "semua ini gara-gara, Bapak." Naysila menatap tajam laki-laki di hadapannya. Matanya mendadak merah, seperti menahan amarah. Sementara Lukman memutar-mutar matanya seolah berkata bahwa dirinya tidak bersalah.


"Astagfirullah Nay, jaga ucapan mu! ini bukan salah Bapak." Aisyah mencekalnya lalu memegangi bahu Lukman, memberikan pembelaan.


"Tidak Kak, penyebab semua ini adalah Bapak," ulang Naysila, "kalau saja Ibu tidak menolong Bapak, mungkin saat ini Ibu tidak akan terbaring disini."


Lukman berusaha menggeleng, namun lehernya kaku. Saat ini yang mampu dilakukannya hanyalah menundukan matanya. Dia ingin bicara bahwa kecelakaan itu murni bukan kesalahannya, namun lidahnya kelu, dia tidak bisa berkata apa-apa selain menitikan air mata dan menerima kenyataan bahwa putrinya semakin membencinya atas kejadian ini.


"Sudah Naysila, dia Bapakmu. Tidak pantas kamu bicara seperti itu," Bentak Aisyah.


"Dia Bapakmu. Bukan Bapak ku." Cekal Naysila sebelum akhirnya dia berdiri lalu pergi meninggalkan Ibunya , Aisyah dan Ayahnya yang masih menunduk sambil sesekali meneteskan air matanya.


Melihat kelakuan adiknya, Aisyah memeluk Lukman.


"Yang sabar ya, Pak!"


***


Setelah sebelumnya Naysila menenangkan dirinya ke sebuah kafe. Dua jam kemudian Naysila kembali ke rumah sakit setelah mendengar kabar bahwa ibunya telah sadar dari koma-nya.


Sesampainya di depan pintu kamar rumah sakit, ternyata sudah ada Pak RW, Pak RT, Nurul, Pak Kyai beserta Istrinya dan juga seorang santri laki-laki yang sepertinya pernah Naysila temui sebelumnya.


"Ehhh Nurul, sudah lama disini?" Sapa Naysila yang baru saja sampai.


"15 menit yang lalu, Nay." Nurul tersenyum manis ke arah Naysila sambil membalas pelukannya.

__ADS_1


"Oiya, aku turut berduka cita ya atas kepergian suamimu." Naysila melepaskan pelukannya, "yang sabar yah!" lanjutnya.


"Terimakasih Nay! Semua sudah takdir Allah. Insyaallah aku sudah ikhlas." Ucap lembut bibir wanita itu, "sudah sana masuk! Ibumu dari tadi nanyain kamu!"


Naysila mengangguk lalu pamit untuk masuk pada Pak Kyai dan yang lainnya.


"Ibu," Naysila yang baru saja datang langsung memeluk Ibunya, "Ibu kenapa baru bangun? aku sangat mengkhawatirkanmu."


"Ibu tidak apa-apa sayang." Jawaban Hamidah terdengar sangat lemah dengan bibirnya yang sangat pucat. Bohong jika dia berkata demikian, pasti dia sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Benar saja, tiba-tiba Hamidah memegangi dadanya, sepertinya akibat benturan hebat yang terjadi pada dadanya mengakibatkan luka dalam di sana.


"Bu, Ibu kenapa?" Aisyah yang melihat perubahan raut wajah Ibunya mendadak panik, begitupun Naysila dan juga Lukman yang hanya membulatkan matanya.


"Segera panggil dokter Nay!" perintah Aisyah. Naysila mengangguk dan baru saja hendak membalikan badannya, namun tangannya terlebih dulu di cegah oleh tangan Hamidah. Tangan Hamidah yang terasa lebih dingin dari biasanya.


Mendengar teriakan Aisyah, orang-orang yang berada di luar pintu satu persatu masuk ke ruangan.


"Tidak perlu, Nak!" ucap lirih Hamidah.


Hamidah menggeleng lemah, wajahnya sudah sangat pucat, "Ibu tidak perlu dokter, yang ibu butuhkan saat ini hanyalah...." Ucapan Hamidah terhenti, lalu ia beralih menatap seorang laki-laki yang berdiri di samping pintu. Beberapa orang yang hadir saat itu ikut melihat pergerakan mata hamidah.


'Zulfikar' semua mata menatap heran ke arah laki-laki itu, termasuk Nurul yang ikut bingung akan arti tatapan Hamidah.


Kenapa, Bu Hamidah menatap Zulfikar seperti itu?


"Ada apa dengannya, Bu?" ucap Naysila dengan penuh tanda tanya di kepalanya, "dia kenapa? dan dia siapa?" tanya Naysila yang tak sabaran.


Kenapa Ibu menatap laki-laki itu? Siapa dia sebenarnya?


Hamidah meraih tangan putrinya, dengan lembut ia menatap mata indah yang waktu dulu sering menangis ketika tidak bisa menghafal pelajaran dari gurunya.


"Kamu ingat? kalau Ibu dan Bapak ingin kamu menikah dengan seorang laki-laki pilihan kami?"


Teg

__ADS_1


Jantung Naysila seakan berhenti. Kenapa tiba-tiba Hamidah kembali membahas hal itu.


Apakah yang dimaksud Ibu adalah laki-laki itu?


Tidak. Ini tidak mungkin.


"Sayang, dia adalah Zulfikar ... laki-laki yang Ayah dan Ibu pilih untuk menjadi suamimu."


Naysila mendadak lemas, aliran darahnya terasa tersendat. Ia tak pernah menyangka kalau hari ini akan benar-benar datang secepat ini. Dia pikir dia masih punya waktu banyak untuk menolak rencana itu. Tapi ternyata takdir Allah berkata lain, hari itu terlalu cepat datang sampai Naysila kini dalam keadaan dilema yang luar biasa.


Allah, apa maksud semua ini?


Kenapa kau datangkan hari ini lebih cepat dari yang ku duga?


Naysila memutar badannya, melihat laki-laki yang bernama Zulfikar itu. ia tatap dalam-dalam wajahnya, dan ia kini ingat siapa laki-laki itu. Pertama ia melihat laki-laki itu ikut mengantar Lukman saat jatuh tempo hari bersama Andre dan yang lainnya, dan terakhir kalinya ia bertemu laki-laki itu di majlis taklim saat menghadiri acara pengajian bersama Aisyah.


Entah ini sebuah kebetulan yang memang disengaja, atau memang takdir Allah yang begitu sulit untuk diterka.


Laki-laki yang kesan pertamanya buruk di mata Naysila itu rupanya adalah laki-laki yang orang tuanya pilihkan untuk menjadi pendamping hidupnya.


Naysila kembali membalikkan badannya setelah puas menatap laki-laki itu. Kembali pada Ibunya, ia menundukkan kepalanya sesaat.


Kenapa harus dia?


Kenapa?


"Nay," panggil lirih Hamidah, membuat Naysila tersadar dari lamunannya.


"Iya, Bu." Naysila kembali menggenggam erat tangan Hamidah.


Bibir Hamidah terlihat semakin pucat, membuat Naysila semakin khawatir dibuatnya.


Kenapa bibir Ibu pucat sekali?


Ditatapnya wanita yang selalu jadi penyejuk dalam setiap kegelisahannya itu.

__ADS_1


Hamidah tersenyum. Senyumnya yang selalu terlihat sangat menyejukkan. Dia lantas mengusap lembut wajah Naysila, "Kamu mau kan, menikah dengannya?"


__ADS_2