
Dengan masih sedikit menerka-nerka siapa pemilik mobil itu, Zulfikar masuk ke dalam rumah.
Tok..tok..tok
"Assalamualaikum," Zulfikar mengetuk pintu.
"Wa'alaikum salam."
Seorang wanita cantik dengan hijab yang menjuntai membukakan pintu rumah itu dan itu membuat jantung Zulfikar tiba-tiba berhenti berdetak.
"Nurul," ucap Zulfikar tak percaya jika wanita di hadapannya adalah orang yang paling dicintainya. Iya, dia masih sangat mencintainya bahkan sampai detik ini, saat dia sudah menyandang status sebagai seorang suami dari wanita lain.
"Mahasuci allah dengan segala bentuk keindahan ciptaanya," Batin Zulfikar.
Hampir tidak ada cacat memang wanita di hadapan Zulfikar saat ini. Dia cantik, kulitnya putih bersih, hidung yang mancung, bibir tipis, dan cahaya dari sinar matanya sangat memancar sama seperti namanya 'Nurul'.
Bukan hanya kecantikan fisiknya saja yang membuat Zulfikar jatuh cinta, tapi akhlak yang dimiliki wanita tersebut menjadi alasan utama pria bernama Zulfikar ini mendambakan istri seperti Nurul untuk mendampinginya di surga Allah SWT kelak.
Terjadi adegan tatap menatap antara keduanya sampai suara Nina akhirnya membuyarkan tatapan keduanya.
"Nur, cepet bantuin dong, ini Naysila muntah-muntah" teriak Nina dari ruang tamu, sementara Bi Marni sedang membuatkan teh manis untuk Naysila.
Nurul langsung bergegas menemui keduanya di ruang tamu, di ikuti Zulfikar dengan rasa khawatirnya.
"Apa yang terjadi pada anak itu?" batinnya.
Tubuh Naysila lemah, bibirnya pucat pasi akibat maag nya kambuh, muntah yang keluar dari dalam perutnya hanya berupa cairan bening karena memang seharian ini tidak asupan makanan yang masuk ke dalam perutnya.
"Tuh kan, Neng, coba kalo tadi pagi sarapan dulu. Mungkin gak bakal gini jadinya, ini mah, Neng udah pasti maag," omel Bi Marni sambil memberikan satu sendok teh manis pada Naysila berharap bisa memberikan sedikit tenaga pada tubuhnya yang lemah.
"Emang tadi pagi dia gak sarapan bi?" Tanya Zulfikar.
Bi Marni menggelengkan kepalanya, "Maafin bibi, bibi yang salah, tadi pagi bibi belum sempat buatin sarapan buat si Neng, terus dia keburu pergi." Bi Marni menunduk lemah, dia merasa bersalah karena telah membuat Naysila menjadi seperti sekarang, padahal ini semuanya bukan murni kesalahannya.
"Nggak bi ini salah aku," sergah Nina. Kali ini Nina mengutarakan perasaannya yang sejak tadi bergelut. "Seharusnya tadi aku ngga ngajakin dia minum kopi," lanjut Nina.
"Jadi kamu ngajak Naysila ngopi?" Nurul terkejut dengan tindakan nekat temannya, padahal mereka sama sama tahu, kalo semenjak dulu Naysila paling anti dengan minuman yang bernama kopi, dia bisa sakit perut sampe muntah-muntah jika menyentuh minuman berkafein itu.
__ADS_1
"Iya maaf, aku lupa." Nina menunduk merasa bersalah.
Zulfikar yang melihat bibir Naysila semakin pucat jadi panik dan menghentikan aktivitas orang-orang di depannya yang sedang salah menyalahkan.
"Sudah-udah jangan saling menyalahkan, sekarang lebih baik kita bawa dia ke dokter saja" Zulfikar bersiap-siap untuk membopong Naysila, dia sudah menggulung sebelah lengan kemejanya, sementara Nurul dan Nina mengela nafas panjang bersamaan, melihat ekspresi keduanya Zulfikar menatap mereka bergantian.
"Kenapa?" Tanya Zul heran
"Kalo Naysila mau diajak ke dokter, 'gak bakalan aku minta Nurul nganterin kita kesini." Jawab Nina.
Zulfikar mengernyitkan keningnya.
"Jadi gini Zul, Naysila itu paling alergi sama yang namanya Dokter, dia paling 'gak mau kalo sakit di bawa ke rumah sakit, apalagi ketemu sama yang namanya jarum suntik, udah pingsan duluan dia, Kecuali emang udah urgent banget," lanjut Nina.
"Terus kalo udah kaya gini harus gimana? Kan ga mungkin kita diemin aja?" tanya Zulfikar kembali.
Nina mengangkat bahu dan tangannya secara bersamaan, sementara Bi Marni sibuk memijit tangan dan kaki Naysila.
Semua mata tertuju pada kondisi Naysila, sebisa mungkin mereka membantu Naysila agar menelan bubur yang sudah di buatkan Bi Marni sebelumnya. Nina menyuapinya perlahan sementara Zulfikar duduk di samping Naysila sambil menatapnya penuh kekhawatiran, Zulfikar sendiri tidak tahu sejak kapan dia begitu khawatir pada wanita itu sampai-sampai Nurul yang sedari tadi memperhatikannya pun tak ia hiraukan.
Nurul masih terfokus pada satu titik, titik dimana dia bisa melihat kesejukan, entah kenapa dia merasakan hangat yang begitu dalam saat berada di dekatnya, terasa sejuk dan menenangkan bisa sedekat itu menatap wajahnya, wajah laki-laki yang dulu ia harapkan akan jadi imamnya sampai surga.
"Terkadang allah mempertemukan dua insan hanya sekedar untuk saling mengenal, bukan untuk saling memiliki"
Nurul
"Ya allah, maafkan hambamu yang belum bisa sepenuhnya menerima takdir darimu," batin Nurul.
Hati nurul seperti tersayat-sayat, bagaimana mungkin dia bisa melihat laki-laki yang sangat di cintainya mengkhawatirkan wanita lain selain dia. Dia berfikir Zulfikar telah melukai hatinya, padahal dia lebih dulu melukai hati Zulfikar di hari pernikahannya dengan almarhum suaminya Luthfi, walau bukan karena keinginannya tapi tetap saja Zulfikar sangat terluka waktu itu.
"Nurul, ko diluar? Lagi apa?".
Kehadiran Kak Aisyah dan kedua anaknya sontak saja membuat Nurul kaget dan segera mengusap air matanya agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Ehh, Kak Ais, nggak kak, aku lagi cari angin aja kok." jawab Nurul lalu mencium tangan kak Aisyah.
"Ohhh, yaudah kalo gitu kak ais masuk dulu ya"
__ADS_1
"I..iya ka."
💦💦💦
Setelah jam menunjukkan pukul 22.00 Nurul dan Nina pamit izin pulang karena sudah terlalu malam, lagipula tidak baik jika wanita mengendarai mobil malam-malam, apalagi sekarang lagi musim begal sana sini dan tersangka tidak memilah dan memilih siapa korbannya.
"Kita pamit pulang dulu ya kak." Nurul menyalami tangan kak Aisyah lalu berganti pada Naysila "cepet sembuh ya!"
Naysila mengangguk, "Makasih ya udah nganterin aku balik."
"Iya sama-sama."
Sekarang tiba saatnya Nurul bersalaman dengan laki-laki yang sedari tadi sigap berdiri di samping Naysila, walau tidak bersentuhan karena memang bukan mahramnya namun Nurul dapat merasakan getaran terasa sangat kuat.
"Mau saya antar pulang?" tanya Zulfikar pada Nurul, Namun Nina langsung menyambarnya.
"Gak usah Zul, kita bisa balik sendiri ko, kamu jagain aja temen kita yang satu ini." Jawab Nina sambil mengelus lembut rambut Naysila.
Arghh, padahal Zulfikar bertanya pada Nurul, dan Nurul juga berharap Zulfikar benar-benar mengantarkannya pulang tapi sayang sekali Nina sudah menolaknya terlebih dulu.
"Yaudah kalo gitu saya antar sampai depan gerbang, mari!"
Nurul dan Nina mengangguk berbarengan lalu mengikuti langkah Zulfikar di belakangnya.
Zulfikar menatap kepergian Nurul dari depan pagar rumah sampai sosok wanita itu benar-benar lenyap dari pandangannya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
"Seandainya allah memberikanku satu harapan, aku hanya ingin kita terlahir kembali dalam keadaan yang tak serumit ini."
Zulfikar