Amanah & Cinta

Amanah & Cinta
Amanah & Cinta (018)


__ADS_3

Perlahan Zulfikar melangkahkan kakinya dengan penuh keraguan, bayangan kelam itu kembali menyelimuti dirinya, rasa bersalah itu kembali hadir seolah tak ingin dilupakan begitu saja.


"Nak, Zul."


Seorang satpam yang ditaksir usianya sekitar 50 tahun itu terkejut dengan kedatangan Zulfikar. Zulfikar menyambutnya dengan senyuman hangatnya, satpam itu langsung membukakan pintu gerbang.


"Masyaallah Zul, kamu kemana aja baru keliatan sekarang? Pak Umar kangen banget sama kamu."


Zulfikar langsung menyambut pelukan hangat dari laki-laki yang dulu sering di buatnya gondokan karena ulah nakalnya, "Zul juga kangen sama Bapak," balasnya, "oiya, Nenek ada Pak?"


Umar melepaskan pelukannya, "Ada, masuk aja! Ibu pasti seneng banget deh kalo tau kamu pulang."


Zulfikar tersenyum, "Yaudah kalo gitu saya masuk dulu ya, Pak."


Umar mengangguk lalu kembali menutup pintu gerbangnya.


Dengan segenap kekuatannya, Zulfikar akhirnya sampai di depan pintu rumahnya.


"Assalamu'alaikum," ucapnya seraya membuka pintu.


Seorang wanita yang tengah duduk di kursi goyang menghentikan aktifitas menjahitnya ketika mendengar suara yang tak asing di telinganya. Suara yang sudah tak terdengar sejak tiga tahun yang lalu.


"Wa'alaikum salam ... Zulfikar." Kain dan jarum di tangannya jatuh begitu saja seperti tak ada tenaga yang tersisa, dia begitu tak percaya dengan kehadiran sosok yang sangat di rindukannya.


"Nenek." Zulfikar langsung berlari dan bersimpuh di kaki neneknya.


"Bangun sayang!" Wanita tua bernama Luna itu menarik lengan cucu nya, dia memeluknya sangat erat, "Nenek kangen banget sama kamu." Tak terasa air mata Luna menetes.

__ADS_1


"Zulfikar juga kangen sama Nenek." Zulfikar menyekka air matanya lalu beralih mengusap air mata yang mengalir di pipi Luna dengan kedua ibu jarinya.


"Kenapa 'gak ngabarin nenek dulu kalo mau pulang? kan Nenek bisa siapin makanan buat kamu!" omel Luna. Tentunya sudah jadi kebiasaan Luna menyiapkan makanan untuk cucu tercinta.


"Gpp Nek, Zul emang sengaja mau ngasih kejutan sama nenek."


"Uhhh cucu kesayangan Nenek." Luna mencium Zulfikar berulang-ulang seakan tak ada hari lagi baginya untuk memberikan perhatiannya itu.


"Bang Robi dimana, Nek?" Zukfikar mengedarkan pandangannya.


"Dia sedang pergi menemui temannya. Mungkin pulang larut malam." jawab Luna sambil merapikan bekas jahitannya. Wanita lanjut usia itu memang sering menghabiskan sisa waktunya dengan membuat kerajinan tangan. Seperti saat ini, dia sedang membuat sebuah syal berwarna merah jambu.


"Malam?" Zukfikar mengulang perkataan Luna.


"Iya, abangmu yang satu itu akhir-akhir ini sangat giat sekali bekerja. Sampai sering lupa waktu, lupa makan, lupa segala-galanya ... Nenek juga kadang suka khawatir sama dia," keluh Luna.


"Ah, begitu ya?" Zukfikar mengangguk, "Nek, apa dia pernah membawa wanita ke rumah ini?"


Jelas saja Luna mengeluh, baik Roby maupun Zulfikar, dua-duanya sama-sama mempunyai sikap yang dingin terhadap wanita. Seolah perlu tak perlu dengan yang namanya kekasih. Luna sempat pasrah dan berharap suatu saat hanya keajaiban yang akan datang untuk merubah ke dua cucunya itu.


"Nenek udah pasrah, Zul sama kalian berdua ... Ya, syukur-syukur yang penting kalian nikah aja udah alhamdulillah banget. Masalah nenek bisa menghadiri atau tidak, itu mah urutan nomor kesekian."


Zulfikar tertawa mendengar ucapan keluhan sang Nenek. Luna belum tahu jika dia sudah menikah. Sepertinya ini akan jadi kabar yang membahagiakan bagi Luna. Tapi, apakah kabar ini layak disebut kabar bahagia? Entahlah, Zulfikar pun tak tahu.


"Zul," Luna menatap hangat cucunya.


"iya Nek."

__ADS_1


"Temui Bapakmu di kamar! dia sedang tidak enak badan."


Zulfikar menatap sebuah kamar dengan pintu yang terbuka. Dia memejamkan matanya dan mengingat kembali kenangan masalalunya di kamar itu. Perlahan Zulfikar menghampirinya. Dia melihat seorang laki-laki tengah menyandarkan tubuhnya di ranjang berukurang king, matanya terpejam dan terlihat raut kelelahan mengelilingi mata pandanya.


Apakah selama ini dia sudah beristirahat cukup?


Wiratama membuka matanya ketika mendengar suara langkah kaki menghampirinya, matanya berkaca-kaca melihat siapa yang baru saja datang di hadapannya.


"Bapak." Zulfikar yang sudah tidak bisa menahan emosinya langsung menghamburkan pelukan erat pada laki-laki yang sangat di rindukannya, "maafkan saya Pak! maafkan anakmu yang penuh dosa ini." Zulfikar terus-terusan meminta maaf pada Wira sedangkan Wira yang masih belum percaya dengan kedatangan putranya hanya menangis sambil menepuk punggung putranya.


"Bapak sudah memaafkannya, Nak. Sudah, Jangan mengingat masalah itu lag! Bapak tidak pernah membencimu. Kami semua sayang padamu." Wira melepaskan pelukannya lalu beralih menatap wajah anaknya yang kini sudah tumbuh menjadi sosok pria dewasa dengan karisma yang begitu sempurna.


"Ayo, Bapak antar!" ucap Wira. Laki-laki yang kini mulai ber'uban itu terlihat sangat rapuh. Entah karena kesehatannya yang menurun, atau karena rasa rindunya pada keutuhan sebuah keluarga.


***


Zulfikar dengan seikat bunganya kini sudah sampai di sebuah tempat dimana dia akan memberikan bunga itu pada orang yang sangat special di hatinya. Seorang wanita yang sudah lama tak pernah dia temui. Ditemani Ayah dan Neneknya, Zulfikar berjalan gontai menemui wanita itu dengan isak tangis yang sepertinya tak lama lagi akan pecah.


"Ibu, Zul datang." Hampir saja tubuh kekar itu ambruk di atas pusara makam, jika saja Wira tak menopang tubuh anaknya. Zulfikar menangis sejadi-jadinya memeluk dan menciumi batu nisan yang bertuliskan 'Yulia Wiratama'.


"Zul, datang untuk meminta maaf dan ampunan ibu." Tangisan Zulfikar pecah kembali, "Walau Zul tau ini semuanya sudah terlambat dan percuma." Zulfikar menahan sesak di dadanya. "Zul sudah memenuhi keinginan Ibu, semoga Ibu bahagia ya disana."


Luna tak sanggup melihat cucunya menangis, dia ikut terbawa suasana haru, sehingga Wira memberikan kekuatan dengan memeluknya.


"Oiya Bu. Zul datang kesini juga ada maksud lain. Zul mau ngasih tau Ibu sesuatu ..


Ibu pasti senang." Wira dan Luna saling bertatapan, mereka sudah lebih dulu mengetahui semuanya saat diceritakan Zulfikar di rumah.

__ADS_1


"Satu minggu yang lalu, Zulfikar sudah menikah. Iya lebih tepatnya kini anak Ibu sudah menjadi seorang suami." Ucapan Zul terjeda, dia menahan sesak lalu melanjutkannya kembali. "Do'akan Zul agar bisa menjadi imam yang baik dan suami yang bertanggung jawab, seperti yang Ibu mau. Do'akan Zul agar bisa membimbing istri Zul menjadi wanita seperti Ibu, yang solehah, penyayang dan penyabar ... iya, sabar Ibu yang tidak ada batasnya menghadapi anak sepertiku," Zulfikar kembali tak bisa menahan emosinya dia ingat betul bagaimana kelakuannya semasa Ibunya masih ada di dunia.


*** To be continued


__ADS_2