Amanah & Cinta

Amanah & Cinta
Amanah & Cinta (022)


__ADS_3

Rumah kembali sepi setelah Nina si cerewet itu pulang bersama Nurul. Naysila sudah merebahkan tubuhnya di kasur setelah sebelumnya di bantu Aisyah berjalan.


"Malem ini Kakak, nginep disini ya," ucap Aisyah sambil mengangkat sebuah tas yang lumayan besar, mungkin isinya baju-baju gantinya dan juga anak-anaknya.


Zulfikar dan Naysila saling bertatapan 'itu artinya mereka akan tidur satu kamar malam ini' batin keduanya.


"Kenapa kalian seperti itu? Ga boleh ya?" Aisyah memajukkan bibirnya.


"Bo..boleh ko ka." jawab Zulfikar gugup, sementara Naysila yang tak punya daya hanya menghela nafas panjang.


"Yasudah, kaka mau istirahat dulu. Ayo sayang kita bobo dulu!" Aisyah hendak menggendong Feby yang tidur di samping Naysila sambil berpelukan dengan adiknya itu.


"Gak mau, beby mau bobo sama aunty." Kedekatan keduanya memang sudah tidak diragukan lagi, anak kecil yang satu ini selalu saja bersikap manja bahkan saat Naysila sedang sakit.


"Tapi, aunty Nay nya lagi sakit sayang, besok lagi ya!" rayu Aisyah.


"Gak mau, pokoknya 'gak mau." Bukannya melemah, Feby malah mengeratkan pelukannya pada Naysila.


"Dasar Manja." Komen Rizky, Kakaknya Feby dengan muka ketusnya.


"Bodo weeeee." Feby menjulurkan lidahnya pada Rizky, sementara Rizky hanya mendelik malas.Tingkah keponakan baru Zulfikar itu membuat Zulfikar gemas di buatnya.


"Yasudah, Kak. Feby biar Zulfikar yang urus."


Aisyah menghela nafas, "Baiklah." lalu menggandeng Rizky untuk keluar dari kamar Naysila.


"Feby boleh bobo disini, asal 'gak boleh gangguin aunty ya! kasian soalnya dia lagi sakit." Zulfikar mendekati Feby sambil mengelus-elus rambut lurus anak kecil itu.


Feby mengangguk-angguk seolah mengerti lalu kembali menatap wajah auntynya, "Aunty sakit apa?" Tanya feby polos, Naysila tersenyum mendengar pertanyaan yang terlontar begitu saja dari anak kecil di depannya, bukannya menjawab dia malah mencubit pipi Feby gemas.


"Sakit," rengek feby manja lalu memegangi kedua pipinya, Naysila yang makin gemas langsung mendekapnya hangat. Zulfikar yang melihat kejadian di depan matanya menjadi ikut terhanyut dalam kehangatan yang ada, tak sadar dia menyunggingkan senyuman manis sambil menatap gadis di depannya. Sadar di perhatikan seseorang, Naysila menatap balik laki-laki di depannya dan sontak saja membuat yang di tatap balik jadi gelagapan.


"Aunty." panggil Feby


"Iya sayang, kenapa?" Jawab Naysila


"Beby mau cerita boleh?"

__ADS_1


"Yaudah cerita aja, Aunty dengerin sampe Beby selesai, tapi janji abis itu bobo ya!"


Feby mengangguk-angguk lucu sambil mulai bercerita dengan gemasnya.


"Kemaren Beby di ajak main ke rumah temen Beby terus di rumahnya dia ada dede bayi, lucuuuuuuuuu banget, pipinya tembem, bibirnya kecil terus matanya bulet, pokonya gemes banget." cerita Feby


Naysila dan Zulfikar sontak saja tertawa bersama, bukan karena ceritanya yang lucu tapi ekspresi Feby yang membuat mereka tertawa.


"Kok malah di ketawain si?" Feby memanyunkan bibirnya.


"Ia..ia maaf sayang, terus-terus?" Tanya Naysila terlihat antusiasme.


Ekspresi Feby kembali normal dan dia mulai melanjutkan ceritanya, "Terus Beby bilang sama Bunda, kalo Beby juga mau punya dede bayi yang kaya temen Beby, tapi ... Bunda bilang Bunda ga bisa punya dede bayi lagi soalnya...." Ucapan Feby terjeda dan melemah, Naysila menatap mata Feby dalam-dalam terlihat ada genangan air di sudut matanya.


"Soalnya kenapa sayang?" Zulfikar gantian bertanya.


"Soalnya kata Bunda, Ayah Beby udah 'gak di surga. Jadi, Bunda 'gak bisa kasih Beby dede bayi yang lucu." seketika saja tangisannya tumpah dan itu membuat Naysila juga Zulfikar menjadi iba, cerita yang awalnya terkesan lucu dan menggemaskan malah berubah menjadi pilu, karena anak sekecil itu harus menjadi korban keegoisan orang tuanya, Naysila memeluk tubuh kecil Feby sambil mengelus-elus rambutnya.


4 tahun yang lalu Aisyah bercerai dengan suaminya, entah apa yang terjadi di antara mereka yang jelas semenjak perceraian lewat telepon itu suaminya sudah tidak pernah pulang lagi walaupun hanya sekedar untuk menengok kedua buah hati mereka.


"Beby boleh minta sesuatu?"


"Boleh nggak, kalau Beby minta Dede bayinya dari Aunty Nay sama, Om Zul aja?"


Pertanyaan macam apa ini?


Naysila langsung menelan salivanya mendengar pertanyaan Feby. Dia menatap Zulfikar yang ternyata sudah lebih dulu menatapnya, apa yang harus mereka katakan pada anak sekecil ini, dia tidak akan faham jika bibi dan pamannya ini tidak akan mungkin memenuhi keinginannya, bagaimana bisa punya Dede bayi jika di sentuh saja Naysila tak sudi.


Karna tak ingin membuatnya sedih, Zulfikar berusaha mengalihkan pembicaraan itu, "Beby cantik, sekarang kamu bobo ya! soalnya auntynya mau istirahat." Zulfikar coba merayu sambil mencairkan suasana.


"Beby mau bobo tapi jawab dulu pertanyaan beby!"


Rasa rasanya sedikit sulit memang membohongi anak-anak di zaman sekarang ini, banyak yang sudah dewasa sebelum umurnya seperti anak kecil yang sedang menghakimi Zulfikar dan Naysila sekarang ini.


"Aunty, ko diem?" rengek manja Feby kembali membuyarkan lamunan Naysila.


"Kenapa? Gak mau ya? ... Bukannya kalo orang udah menikah itu bisa punya Dede bayi?"

__ADS_1


"Iya..iya, nanti aunty kasih ya, tapi sekarang Beby tidur ya!" pinta Naysila, sementara Feby yang mendengar permintaannya akan dipenuhi langsung mengangguk semangat dan langsung memejamkan matanya.


Naysila menghela nafas panjang, maaf jika kali ini dia harus berbohong pada anak selucu Feby, tapi mau bagaimana lagi? Cuma ini cara satu-satunya agar anak kecil ini mau tidur dan mereka bisa istirahat.


----


Melihat Feby dan Naysila sudah pulas, Zulfikar berencana memindahkan Feby ke kamar ibunya, takut nanti malam dia bangun lalu menangis itu akan membuat istirahat mereka terganggu, bukan mereka tapi lebih tepatnya Naysila. Zulfikar ingin Naysila tidur lelap malam ini agar kesehatannya cepat pulih kembali.


Dengan hati-hati Zulfikar menggendong tubuh kecil Febi dan mengetuk pintu kamar Aisyah


Tok tok tok


"Permisi ka, apa kak Aisyah sudah tidur?."


Tak lama, terdengar bunyi knop pintu terbuka.


"Ehh Zulfikar, bawa masuk aja!" ternyata Aisyah belum tidur seperti dugaannya.


"Maaf ya merepotkan." Sesal Aisyah sambi menyambut kedatangannya.


"Gpp ka, justru Zul yang harusnya minta maaf karena harus bawa Feby tidur disini. Soalnya Zul takut nanti malem dia bangun terus nangis." jawab Zulfikar yang sudah menaruh tubuh kecil Feby di samping abangnya Rizky yang sudah lebih dulu terlelap.


"Yasudah kamu balik gih! Naysila udah tidur?"


"Udah ka, yaudah Zul balik ke kamar dulu ya." Zulfikar menunduk hormat lalu meninggalkan kamar yang biasa dia pakai tidur sehari-harinya, untung pakaian dan perabotannya tidak terlalu banyak hanya beberapa baju di lemari yang sudah di kunci dan buku-buku juga beberapa koleksi musiknya, jadi Kak Aisyah tidak akan curiga jika kamar itu sejatinya adalah kamar tidur Zulfikar sehari-harinya.


Setelah kembali ke kamar sebelah, Zulfikar menutup pintu dan dia tak sengaja mendapati wajah gadis yang sedang lelap tertidur.


Perlahan Zulfikar melangkahkan kakinya mendekati gadis itu kemudian duduk di sampingnya, tak sadar dia memperhatikan dalam-dalam wajah gadis yang masih terlihat pucat itu, "tidur yang lelap, semoga lekas sembuh." cicit Zulfikar sambil tak sadar mengelus-elus rambut panjang Naysila.


Merasa ada sesuatu mengusik tidurnya Naysila menggerakkan tubuhnya lalu memutar badannya membelakangi Zulfikar. Zulfikar yang terkejut langsung menarik tangannya dan segera berdiri. Beberapa saat dia mematung sambil terus menatap punggung Naysila dan akhirnya memilih untuk shalat isya karena dia ingat jika dia belum shalat karena terlalu sibuk mengurus istrinya, istri yang tidak pernah menganggap dia suaminya.


"Ya allah, ampunilah segala dosa hamba juga keluarga hamba, jadikanlah hamba seorang suami yang bertanggung jawab terhadap istri hamba, jauhkanlah hamba dari godaan setan yang menjerumuskan, dan berikanlah hamba keikhlasan agar bisa mencintainya dengan setulus hati hamba begitupula sebaliknya amiin."


Do'a Zulfikar setelah shalat isya.


Setelah mengusap wajah dengan kedua tangannya Zulfikar menatap sendu wajah wanita yang terlelap di sampingnya

__ADS_1


"Lekaslah sembuh, ada banyak hal yang ingin ku bagi denganmu istriku," batin Zulfikar


Setelah melipat sajadah dan menyimpannya di dalam lemari, Zulfikar melihat Naysila melipatkan kedua tangannya. Sepertinya dia kedinginan, sontak saja Zulfikar langsung mematikan AC dan segera mengambil selimut baru yang lebih tebal untuk menutupi tubuh istrinya, dan lagi dia menatap wajah Naysila, entah sejak kapan dia jadi senang menatap wajah gadis di depannya, apa karena kecantikan Naysila yang baru dia sadari atau karena hal lain?? Entahlah hanya dia dan tuhan yang tahu.


__ADS_2