Amanah & Cinta

Amanah & Cinta
Amanah & Cinta (016)


__ADS_3

Setelah bergelut dengan perasaannya, Zulfikar akhirnya memberanikan dirinya menemui gadis itu.


Zulfikar merasa bersalah, karena sepertinya hal yang membuat gadis itu menangis adalah akibat perdebatan kecilnya dengan kakaknya. Dan Zulfikar merasa tidak enak hati karena kedatangan Aisyah sore itu juga atas permintaan dia walau tujuan utamanya hanya untuk membicarakan perawat untuk Lukman saja.


Dengan segenap keberaniannya Zulfikar coba mengetuk pintu naysila.


tok-tok-tok


"Boleh saya masuk?" ucap Zulfikar pelan-pelan.


Seorang wanita dari dalamnya, mencoba menyeka air matanya. Dia tak ingin Zulfikar tau kalau dia sedang menangis, terlalu gengsi baginya.


"iya masuk aja!" jawab Naysila pelan.


Zulfikar akhirnya masuk dan dia sengaja tidak menutup pintunya, takut Naysila risih jika berada dalam satu ruangan tertutup dengannya.


"Pintunya tutup aja!" pinta Naysila, "besok-besok kalo mau masuk, masuk aja! 'gak usah minta izin." Naysila mengubah posisi duduknya, kini dia sudah duduk di cermin rias sambil menyisir rambutnya.


Kenapa dia bicara seperti itu?


Ada apa gerangan dengan ucapan gadis di hadapannya?


Tapi saat ini Zulfikar tidak ingin mempermasalahkan itu, dia hanya ingin meminta maaf atas kejadian tadi sore. dengan segera Zulfikar menutup pintu sesuai permintaan Naysila,


"Maaf sebelumnya, saya tidak bermaksud untuk .... "


"Aku paham. Kamu ga usah minta maaf, aku yang salah kok. Aku yang seharusnya minta maaf." Naysila masih menyisir rambutnya tanpa menatap laki-laki yang berdiri di belakangnya, "tapi lain kali kalo ada masalah apa-apa seharusnya kamu bilang sama aku dulu, jangan langsung ngadu sama Kak Aisyah," jelas Naysila.


Zulfikar hanya menunduk sambil menghela nafas. Bagaimana mungkin Zukfikar mau menghubungi Naysila, jika dia saja tidak memiliki nomor teleponnya.


"Iya, saya minta maaf untuk itu," jelas Zulfikar, "awalnya saya ingin menghubungimu, tapi saya tidak punya nomor teleponmu."


Astaga, Naysila ingat jika mereka berdua tidak pernah bertukar nomor telepon sebelumnya.


"Yaudah nanti aku kasih," sahut Naysila.


Zulfikar hanya mengangguk.


Setelah selesai menyisir rambutnya, Naysila kembali ke atas kasur untuk tidur. Dia menarik selimutnya sampai leher, Zulfikar yang melihat Naysila sudah memejamkan mata akhirnya memilih untuk keluar dari kamar itu sebelum suara lembut Naysila menghentikan langkah Zulfikar.


"Kamu mau kemana?"


Langkah Zulfikar terhenti lalu menatap gadis di belakangnya, "saya mau istirahat."


"Tidur disini saja!" perintah Naysila, yang bicara tanpa membuka matanya.


"Maksud kamu?" tanya Zulfikar heran.


Naysila bangun dari tidurnya lalu menarik panjang nafasnya, "mulai malam ini kamu boleh tidur di kamarku."


Alis Zulfikar saling bertaut, matanya disipitkan dan otaknya bekerja lebih keras untuk lebih mencerna dengan jelas apa yang barusan Naysila ucapkan.

__ADS_1


"Jangan memandangku seperti itu! aku tidak suka," tegas Naysila yang merasa risih saat Zulfikar memandangnya dengan tatapan pekat.


Mengerti maksud wanita itu, Zulfikar terlihat memberikan sebuah senyuman penuh arti, "jika kamu melakukan ini karena permintaan Kak Aisyah, lebih baik tidak usah. Saya bisa tidur di kamar sebelah, kamarnya cukup nyaman kok."


Zulfikar benar, Naysila memang terpaksa melakukan ini semua karena perkataan Kak Aisyah.


"Bagus jika kamu sudah tahu itu ... tapi terlepas dari itu semua, aku hanya berusaha menjalankan amanah sekaligus kewajibanku sebagai seorang istri."


Terlihat garis senyum di bibir Zulfikar lagi, akhirnya istrinya itu menyadari kesalahannya selama ini, namun senyuman Zulfikar tidak bertahan lama ketika Naysila kembali melanjutkan perkatannya.


"Tapi aku ada syarat."


"Syarat?" Zulfikar terkejut, kenapa harus ada persyaratan? dan persyaratan apa yang diminta istrinya?


"Syarat apa?" tanya Zulfikar.


Suasana hening, sampai akhirnya terdengar bibir mungil Naysila mulai mengeluarkan kata-kata.


"Kamu juga pasti tahu kalo pernikahan kita ini bukan didasari dengan cinta," Naysila menatap Zulfikar dalam-dalam. Dia kemudian membuka selimutnya.


"Kamu tidak mencintaiku kan?" ucapan Naysila terjeda seolah meminta Zulfikar mengiyakan pertanyaannya barusan, "dan begitupula aku, aku juga tidak mencintaimu ... sedikitpun," Naysila benar, tidak ada cinta di hati mereka untuk hidup bersama seperti ini. Semua terjadi karena sebuah kebetulan yang sama-sama saling merasa dirugikan.


Naysila beranjak dari tempat tidurnya beralih ke arah jendela yang sudah tertutup tirai, "aku berharap pernikahan kita ini hanya sebatas untuk menggugurkan kewajiban saja," jelas Naysila.


Mata Zulfikar membulat sempurna, apa yang barusan Naysila katakan.


Hanya sebatas menggugurkan kewajiban


Apa dia sedang mempermainkan sucinya sebuah ikatan pernikahan?


Zulfikar sudah mengorbankan hati dan perasaannya terhadap Nurul hanya untuk menikahinya, tapi apakah ini balasannya?


"Saya tidak setuju," bantah Zulfikar dengan tegasnya, "walaupun pernikahan kita bukan atas dasar cinta, tapi kita tidak berhak mempermainkn janji suci yang telah kita ucapkan." lanjutnya.


"Kenapa tidak?" sahut Naysila lagi, "aku tidak mencintaimu dan kamu tidak mencintaiku, kita hanya sama-sama korban disini, Zul ... Dan aku harap jangan sampai ada pihak yang dirugikan disini."


Rugi?


Kerugian apa maksudnya?


"Maksud kamu?" Tanya Zukfikar heran.


Naysila menghirup nafas dalam-dalam. Mencoba menjelaskan secara detail agar laki-laki itu mengerti.


"Ya ... misalnya, aku harap kamu tidak berfikiran untuk melakukan hal-hal yang biasa di lakukan suami istri pada umumnya, karena itu akan merugikan aku sebagai wanita". Lanjut Naysila.


Zulfikar benar-benar kehabisan akal sehatnya untuk berfikir, apa yang barusan di ucapkan Naysila benar-benar di luar daya nalarnya. Jauh di lubuk hati Zulfikar dia memang sama sekali tidak mencintai Naysila dan tidak tertarik pada gadis itu, karena hati dan perasaannya hanya untuk Nurul, terlebih Naysila bukan termasuk tipe wanitanya. Memang parasnya cantik, tapi akhlaknya jauh dari kata baik. Dia tak menutupi auratnya dengan benar dan berpakaian semaunya tanpa bertumpu pada ajaran agamanya, sangat jauh jika di bandingkan dengan Nurul.


Tapi Zulfikar bukan tipe laki-laki pecundang yang begitu saja melalaikan kewajiban dan tanggung jawabnya. Dia paham benar ajaran agamanya, bagaimana mungkin dia akan melalaikan amanah yang diembannya begitu saja.


"Tidak ... Saya tidak setuju," bantah Zukfikar.

__ADS_1


"Loh kenapa?" Naysila menautkan kedua alisnya, "apa kamu berfikir kita akan melakukannya?" Naysila menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


Zulfikar diam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan naysila.


"Jawab Zul!"


"Tentu," jawab Zulfikar singkat yang sebenarnya dia sendiri tidak yakin akan hal itu.


"Jangan macam-macam Zul! aku tidak sudi disentuh laki-laki yang tidak aku cintai?" Tatapan Naysila berubah jadi panik.


Zulfikar berusaha menahan amarahnya, dia memejamkan mata lalu menarik nafas dalam-dalam tanpa membuka mulut sedikitpun.


"Zul, ingat! pernikahan kita hanya karena sebuah amanah bukan karena cinta. Jadi jangan pernah berharap lebih!" tegas Naysila, "kamu pasti punya wanita yang kamu kagumi bukan? ... begitupun aku. Apa tidak sebaiknya kita sama-sama memperjuangkan cinta kita? Kalo kita sudah sama-sama memilikinya kita tinggal mengakhiri pernikahan ini, simple kan?" Naysila kembali memberikan solusi yang menurut Zukfikar tidak masuk akal.


Solusi apa maksudnya?


Jelas ini bukan solusi.


Zulfikar tersenyum miris mendengar ocehan Naysila yang semakin menjadi-jadi. Walau awalnya Zulfikar termakan ucapan Naysila untuk memperjuangkan cintanya pada Nurul, tapi hati dan keyakinan Zulfikar tetap berpegang teguh pada akidahnya, "saya tetap tidak setuju."


Naysila mendecak kesal, "jika kamu tetap berpegang teguh pada pendirianmu, maka aku juga akan tetap pada pendirianku, kita akan bercerai jika salah satu diantara kita sudah menemukan cinta sejati kita!"


"Apa katamu? Jadi kamu menganggap pernikahan kita ini hanya untuk perantara?" Tanya Zulfikar tidak percaya.


Naysila mengangguk penuh keyakinan,


sementara Zulfikar tidak percaya, bagaimana mungkin sucinya ikatan pernikahan hanya untuk sekedar mainan.


Zulfikar menarik nafas dalam-dalam, sepertinya tidak akan ada ujungnya berbicara dengan wanita keras kepala di hadapannya. Terlebih lagi setelah kejadian tadi sepertinya otak Naysila benar-benar sudah geser dari letaknya, Zulfikar harus mengalah sementara waktu.


"Saya akan tetap menjalankan amanah dan tanggung jawab saya sebagai seorang suami. Terserah kamu mau seperti apa silahkan! terpenting bagi saya adalah Allah tidak murka pada saya. Jika kamu tidak mau melayani saya sebagai suami juga tidak masalah, saya masih bisa mengurus hidup sendiri, tapi saya cuma minta satu_"


"Apa?"


"Hargai keberadaan saya disini sebagai suamimu."


Bukan permintaan yang sulit sepertinya. Naysila hanya perlu menghargainya, dia tidak perlu susah payah melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri. Dengan begitu Naysila bebas melakukan keinginannya di luar sana,


"Oke fiks deal, urus semua keperluanmu sendiri dan jangan harap aku akan merawatmu," tegas Naysila.


Zulfikar mengangguk mengiyakan kesepakatan mereka.


"Oh iya, masalah kita tidur satu kamar sepertinya kita tidak perlu melakukannya setiap hari. Kita akan melakukannya jika Kak Aisyah datang kemari," ucap Zulfikar.


Hati Naysila bersorak gembira bagaimana, mungkin laki-laki di hadapannya sangat cerdas sekali.


"Wow, ide yang sangat brilian ... ternyata selain tampan, kamu juga sangat pintar, oke aku setuju."


"Baiklah kalau begitu saya akan kembali ke kamar." Tanpa memperpanjang obrolan, Zulfikar memilih pamit lalu pergi meninggalkan Naysila dengan perasaan yang sangat kacau. Dia benar-benar bingung apa yang harus dilakukannya untuk menghadapi wanita keras kepala seperti Naysila.


"Ya Allah bukakanlah pintu hatinya dan berikanlah aku kesabaran agar bisa menghadapi semua ini, amiin"

__ADS_1


Isi do'a Zulfikar dalam tahajudnya


__ADS_2