
Dokter masih sibuk menangani pasien yang belum sadarkan diri, sementara Hamidah beserta Zulfikar dan kawan-kawannya masih setia menunggu di luar kamar.
Aisyah yang terlebih dulu keluar dari kamar itu kini sudah berada di kamar sang adik, Naysila. Dengan hati-hati dia duduk di samping kasur bermotif sederhana itu.
"Nay" Aisyah memanggil lembut adiknya yang sudah terlentang mengenakkan selimut.
"Kenapa ka?" Sahut Naysila, "Kalo, Ka Ais minta Nay buat ketemu Bapak Nay gak mau." Naysila menutup rapat seluruh tubuhnya dengan selimut.
Aisyah mendengus pelan saat mendengar pernyataan yang terlontar dari mulut adiknya itu. "Mau sampe kapan kamu kaya gini? Dia itu Bapak kamu loh."
"Terus apa masalahnya?" Sahut Naysila kembali. Tapi kali ini nada bicaranya sedikit lebih tinggi.
Aisyah menarik selimut sampai menunjukkan wajah cantik yang bersembunyi di baliknya. "Bapak sedang kena musibah, dan dia daritadi manggil nama kamu, terus kamu masih mau bilang apa masalahnya?" pertanyaan Aisyah terdengar memberikan penekanan.
Mata Naysila mendelik malas, namun kalau boleh jujur, sejatinya hati Naysila hancur dan terluka melihat keadaan laki-laki yang sudah membesarkannya tersebut dalam keadaan sekarang. Hanya saja ego yang terlalu tinggi membuatnya enggan untuk menunjukkan rasa sayang dan pedulinya.
"Sekali ini saja kakak mohon ya." Pinta Aisyah kembali dan akhirnya berhasil membuat luluh hati adiknya, Naysila bersedia menemui Bapaknya, asalkan sebatas menemui, tidak lebih dari itu! Dan Aisyah menyetujui itu.
Setelah sekitar 15 menit menunggu akhirnya dokter keluar dari kamar Lukman.
"Bagaimana keadaan suami saya, dok?" Tanya Hamidah tak sabar, namum wajah dokter sepertinya tidak memberikan cuaca yang baik.
"Mohon maaf, Bu Hamidah. Akibat benturan keras yang terjadi pada kepala pak Lukman mengakibatkan pecahnya pembuluh darah otak beliau dan Bapak terkena struk." Jelas sang dokter muda itu.
"Astagfirullah, BAPAK." Teriak histeris Hamidah. Tubuhnya langsung ambruk ke lantai, Zulfikar dan kawan-kawannya langsung membantu menggotong tubuh Hamidah ke sofa diruang tamu yang tak jauh dari kamar utama itu.
"Ibu," Naysila dan Aisyah yang baru keluar dari kamar langsung berlari menghampiri kerumunan orang di sofa.
"Apa yang terjadi dengan Bapak saya, dok? Kenapa Ibu saya begitu shock?" Tanya Aisyah pada sang dokter sementara Naysila membuatkan teh hangat untuk ibunya yang tak lama siuman.
Dokter pun menjelaskan semuanya pada Aisyah. Aisyah menitikkan air matanya menerima kenyataan bahwa laki-laki yang sangat di sayangnya kini tengah terbaring kaku dan kemungkinan besar tidak bisa beraktivitas seperti biasa kembali. Tidak akan ada canda tawa lagi mengiringi hari-hari mereka, mulai hari ini dan seterusnya hanya ada sepi sebagai sekat di antara mereka.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Uucap sang dokter sopan sambil menundukkan sedikit badannya yang diikuti sang perawat di belakangnya. Setelah itu Aisyah mengantarkannya sampai ke depan pintu gerbang.
"Itu anak bungsunya Pak Lukman ya, Ndre?" Tanya Zulfikar sambil berbisik.
__ADS_1
"Iya, kenapa? Lu suka? Dia emang primadona kampung banget, udah cantik, mulus, kerjanya di kota. Tapi lu harus saingan sama Farhan kalo naksir sama dia." Jelas Andre sambil menyikku pelan tangan Zulfikar.
Zulfikar mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah mengerti. "Nggak, bukan gitu. Dari tadi aku perhatiin dia cuek dan masabodo banget kayaknya sama keadaan Bapaknya."
"Masa sih? Perasaan lu aja itu mah." Sahut Andre.
Firasat Zulfikar memang benar. Apa yang di katakan Zulfikar memang keadaan yang sebenarnya. Semenjak dia dan teman-temannya datang Naysila memang sama sekali tidak menampakkan raut wajah khawatir dan kesedihan akan keadaan Ayahnya. Raut wajahnya datar bahkan dia tidak menunggu dokter yang menangani Lukman, justru dia malah masuk ke kamarnya sambil membawa sebuah buku di tangan dengan santainya.
Zulfikar diam-diam menatap wanita yang biasa dipanggil Naysila itu.
"Cantik."
Satu kata yang tiba-tiba muncul dalam hati Zulfikar , lalu Zulfikar yang sadar bahwa dirinya sudah terlalu jauh memikirkan wanita di hadapannya langsung kembali fokus pada keberadaannya. "Astagfirullah." Zulfikar mengusap wajahnya.
"Kenapa, Zul? lu kesambet?" Tanya Andre.
"Gpp. Yaudah yuk kita balik aja! Biarkan Pak Lukman dan keluarga istirahat! masih banyak yang harus kita bereskan di majelis." Ajak Zulfikar pada Andre dan yang lainnya.
Melihat yang lain bergegas untuk pamit, Farhan justru memajukan bibirnya kesal. Karena dia masih belum puas berada di rumah wanita pujaannya itu.
"Yah, gue masih betah disini. Masih kangen sama ayang, Nay. Gimana donk?" Rengek Farhan, sementara wanita yang di maksud menatap Farhan malas.
"Dihhhh najong banget gue. Amit-amit deh ulekan bengkok. Sempet-sempetnya ya lu." Cela Andre diikuti gelak tawa dari Arifin dan juga Zulfikar.
"Bu, ayo aku antar ke kamar! Lebih baik Ibu istirahat di kamar saja." Ajak Naysila pada Hamidah yang diikuti anggukan oleh sang Ibu.
Setelah ibunya benar-benar pulih akhirnya Naysila mengajak Hamidah meninggalkan keramaian tanpa melihat ekspresi kekecewaan Farhan yang di tinggalkan, bayangkan mukanya seperti kue apem bantat yang seminggu kelupaan di taro di kolong kasur (buluk).
"Tuh kan, Neng geulisnya kabur loh Han, gara-gara lu sih." Andre mengolok-olok farhan.
"Yah, ko pergi sih." Farhan kecewa berat melihat Naysila menjauh darinya.
"Iya udah, kalo gitu kita permisi dulu Kak Aisyah." Ucap Andre, "masih ada keperluan yang belum di bereskan di majelis." Lanjutnya pamit lalu menyalami tangan Aisyah yang diikuti oleh Zulfikar dan yang lainnya.
"Iya sudah. Terimakasih banyak ya sudah mengantar Pak Lukman kesini, saya ga tau harus bilang apa lagi sama kalian." Ucap Aisyah.
__ADS_1
"Sudah jadi kewajiban kita sebagai umat manusia untuk saling menolong, Kak." Zulfikar tersenyum manis.
"Sama-sama Kak Ais, kalo mau balas budi gampang kok. Besok, Kak Ais sama Neng geulis hadir ke acara kita ya!" Farhan lagi-lagi mengambil kesempatan sambil menyengir kuda.
"Yeeeee ... Itu mah mau nya lu kuda ompong." celetuk Andre lagi. Lagi-lagi Andre senang sekali membuat Farhan malu.
"Yee, sirik aja lu cuhcur. Namanya juga usaha. Iya ngga Kak?" Sahut Farhan dengan sewot, sambil mengharapkan anggukan dari calon kaka iparnya, pikirnya.
"Hustt!! Sudah Sudah yuu! " Zulfikar menghentikan pertikaian keduanya, "kami pamit dulu ya Assalamualaikum." Zulfikar pamitan pada Aisyah sambil menengahi kedua temannya yang masih adu mulut lalu menggiring keduanya keluar dari rumah itu.
Setelah semuanya pergi, kini hanya ada seorang laki-laki tengah terbaring tak berdaya di atas kasur di temani 3 bidadari di sampingnya.
Istrinya Hamidah Adawiyah.
Anak pertamanya Aisyah Putri.
Dan anak bungsunya Naysila Putri.
Lukman terkena struk setelah kepalanya terbentur keras ke teras majelis, selain karena alasan itu, riwayat darah tinggi yang di deritanya juga memicu penyakit itu lebih cepat menyerangnya.
"Bu, ibu yang tabah ya!" Aisyah memeluk erat tubuh ibunya.
"Ibu gak nyangka kalau ini akan terjadi pada Bapak." Hamidah kembali terisak. Dia merangkul Aisyah dan memeluknya lebih erat.
Sedih dan terluka. Itu adalah kenyataan yang pasti dirasakan Hamidah sebagai istri dan juga Aisyah sebagai anak. Keduanya saling berpelukan dengan perasaan kalutnya masing-masing. Sementara satu putri bungsu mereka, Naysila tidak begitu mendekatkan jaraknya dengan Bapak dan keduanya, dia memilih berdiri dengan jarak sekitar 2 meter sambil menatap laki-laki yang saat ini tak memiliki kekuatan untuk berdiri sekalipun.
.
.
.
.
.
__ADS_1
"Kenapa aku harus sedih melihat kondisimu seperti ini?"
Naysila Putri