
flash back on
"Ibu ga tau lagi mau ngomong apa sama kamu? ... sudah berapa kali Ibu ingatkan kamu, jangan main dengan teman-teman kamu itu! mereka tidak baik." Bentak Yulia. Hari ini Yulia terpaksa kembali menghadap guru BK di sekolah Zulfikar.
"Halahh apaan sih Bu, gitu aja lebay banget. Zul cuma main apa salahnya? lagian kan temenan ga boleh pilih-pilih, Ibu sendiri yang ngajarin gimana si?"
"Tapi mereka itu tidak baik, semenjak kamu berteman dengan mereka kamu jadi nakal seperti ini. Nilai ulangan kamu bahkan anjlok sangat jauh, guru-gurumu sering menelpon Ibu karena kelakuanmu di sekolah juga sudah mulai ikut-ikutan jadi preman sekolah, mau jadi apa kamu?" bentak Yulia.
"Jadi seperti apa yang ku inginkan, sama kaya Ibu dan Bapak yang selalu menentukan kehidupan Zul sesuka hati kalian, PUAS?" Zulfikar meninggalkan Ibunya yang masih tidak percaya dengan tingkah laku anaknya, semenjak mereka pindah keluar kota, Zulfikar berubah menjadi anak yang pembangkang. Pekerjaan Ayahnya sebagai seorang pemborong memang memaksakan mereka untuk berpindah tempat tinggal kapan saja.
Tiga bulan sejak kejadian itu, Yulia di vonis menderita TBC. Entah karena lingkungan rumah mereka yang begitu dekat dengan pabrik yang menghasilkan limbah yang cukup berbahaya bagi kesehatan, atau karena tekanan batin dengan anaknya, Zulfikar. Anak SMP kelas 2 yang sudah sering mondar mandir masuk kantor polisi karena kerap didapati mabuk-mabukan di pinggir jalan dengan teman-temannya.
Tekanan batin yang di dapati Yulia membuat kesehatannya semakin hari semakin memburuk, sampai suatu hari akhirnya Yulia benar-benar dalam kondisi yang sudah di bilang sangat sulit untuk sembuh. Dia kerap kali batuk sampai mengeluarkan darah. Wira sebagai suami sudah pasrah melihat Istrinya yang tak kunjung membaik di rumah sakit.
Karena sudah habis kesabaran dan berharap mengurangi beban istrinya, Wira meminta adik kandungnya Hasan dan Istrinya untuk membawa Zulfikar tinggal bersama mereka di kampung. Dia berharap jika Zulfikar sekolah di kampung, pergaulan dia tidak akan separah di kota dan Hasan pun menyetujuinya dengan senang hati, mengingat Hasan belum juga di karuniai putra.
Walau awalnya Zulfikar menolak keras rencana itu, namun pada akhirnya sebagai anak, Zulfikar lagi-lagi harus mengikuti keinginan orang tuanya.
Selama tinggal dengan pamannya, Zulfikar mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Di tempat Hasan tinggal merupakan tempat pengajian anak-anak muda seusia Zulfikar, sehingga setiap malam Zulfikar di didik benar-benar oleh paman dan bibinya itu.
Lambat laun seiring berjalannya waktu, hati Zulfikar semakin meluluh. Dia semakin memahami apa artinya sebuah harapan orang tua kepada anaknya, dia sadar jika selama ini bentuk perhatian orang tuanya adalah karena menginginkan dia tumbuh menjadi anak yang berguna dan tidak menyesal di kemudian hari.
Hingga suatu ketika, akhirnya Zulfikar memohon untuk kembali pada orang tuanya, dia ingin tinggal kembali dengan ayah dan ibunya. Hasan dan istrinya pun menyetujui karena bagaimanapun Zulfikar berhak atas itu.
Satu tahun sudah setelah kepergian Zulfikar, keadaan Yulia sempat membaik apalagi setelah mendengar kabar jika Zulfikar sudah berubah. Namun tidak lama kemudian penyakit Yulia kembali kambuh karena produksi limbah pabrik di sekitar rumahnya tiba-tiba membludak.
Tepat di hari kepulangan Zulfikar, Yulia kembali masuk rumah sakit. Hasan yang baru saja sampai di bandara langsung membawa Zulfikar ke rumah sakit.
"Kenapa kita ke rumah sakit paman? siapa yang sakit?" tanya Zulfikar kecil heran. Anak laki-laki yang sekarang tidak pernah melepas peci hitam di kepalanya itu memandang sang paman penuh tanda tanya besar.
"Ayo, Nak cepat!" Hasan menuntun Zulfikar untuk berlari karena sedari tadi kakaknya, Wira, terus menelpon Hasan untuk segera datang ke kamar tempat Yulia di rawat. Zulfikar kecil yang masih bingung hanya ikut berlari sampai akhirnya mereka sampai di sebuah kamar IGD.
__ADS_1
Dia melihat sudah ada Neneknya, Luna, yang sedang menangis di pelukan Ayahnya, "sedang apa mereka disini?" batin Zulfikar 'Ibu' Iya, Zulfikar ingat, anggota keluarganya yang belum dia lihat adalah Ibunya, "dimana Ibu?" Pikirnya.
"Bapak, Ibu mana?"
Wira hanya memeluk Zulfikar erat, dia tidak bisa berkata-kata banyak.
"Bapak kenapa nangis, Ibu mana?"
Belum sempat Zulfikar mendapat jawaban dari ayahnya, seorang dokter keluar dari kamar IGD membuat orang-orang langsung menyambutnya dengan penuh kepanikan
"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Luna tak sabaran.
"Pasien ingin bertemu dengan anaknya, apakah anaknya ada disini?" tanya Dokter.
"Siapa yang dia maksud, Yah?" Zulfikar menatap pekat ayahnya, sementara Wira berusaha menyekka air matanya yang sudah berulang kali jatuh lalu menggenggam tangan kecil Zulfikar untuk masuk ke dalam ruangan IGD.
Zulfikar begitu terkejut melihat sosok yang di carinya sedari tadi sedang terbaring lemah dengan selang infusan di tangannya "Ibu," mata zulfikar berkaca-kaca "apa yang sebenarnya terjadi dengan ibu?"
Setelah di rasa cukup Zulfikar melepaskan pelukan Ibunya lalu berganti menatap wajah Ayahnya "apa yang sebenarnya terjadi dengan ibu, Yah?"
Wira sebagai seorang ayah berusaha menenangkan Zulfikar kecil untuk tidak menangis. "dengarkan Ayah baik-baik sayang, Ayah ingin kamu tahu sebenarnya alasan kami meminta kamu untuk tinggal di rumah paman, karena kami ingin kamu berubah menjadi anak yang baik dan berguna kelak. Tapi kalo emang kamu ngerasa keberatan gpp, Ayah dan Ibu sekarang tidak akan lagi memaksa,"
Zulfikar menggelengkan kepalanya sambil terisak, "Ngga ko, Yah. Zul malah seneng tinggal sama paman Hasan disana, tapi Zul boleh kan pulang kalo Zul kangen sama Ayah sama Ibu, gpp ko kalopun cuma beberapa hari disini, Zul janji ga bakal nakal lagi." Zulfikar kecil mengacungkan dua jari membentuk huruf V sebagai tanda janjinya. Tentunya air mata terus mengalir di matanya. Rasa sedihnya tak bisa disembunyikan lagi.
"Sayang, kemari!" Suara lembut penuh kasih itu terdengar samar di telinga Zulfikar sampai akhirnya dia menyadari jika suara itu berasal dari ibunya.
"Kenapa Bu, Ibu sakit? apa yang sakit? biar Zul pijitin." Entah penyakit apa yang bersarang di tubuh Ibunya, Zulfikar hanya melihat perubahan yang sangat drastis dari tubuh ibunya, tubuhnya kini jauh lebih kurus dari terakhir dia bertemu.
Yulia menggeleng pelan, bibirnya sudah pucat pasi.
"Berjanjilah pada Ibu! Kamu harus jadi anak yang berbakti pada keluarga! kamu harus tumbuh jadi manusia yang memegang teguh agama! ... dan Ibu juga berharap kelak kamu akan menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab atas keluargamu, menerima segala kekurangan pasanganmu, sama seperti Ayah menerima kekurangan Ibu selama ini." Luna menatap sayu laki-laki di belakang Zulfikar yang sudah menemaninya hampir 15 tahun itu.
__ADS_1
"Iya Bu, Zul janji! Zul akan memenuhi semua keinginan Ibu, tapi ibu juga harus janji kalo Ibu akan menemani Zul sampai Zul menggapai semua mimpi-mimpi Ibu." Zulfikar terisak menahan tangisnya agar tidak pecah, sebagai laki-laki dia tidak mau terlihat cengeng di depan wanita yang sangat di cintainya.
Zulfikar kembali memeluk ibunya, terlihat samar senyum Yulia di balik alat berwarna transparan yang membantunya bernafas, "Ibu sayang sama kamu melebihi apapun yang ada di muka bumi ini, maafkan Ibu kalo Ibu belum bisa jadi orang tua yang baik buat kamu sayang," Yulia tak mampu menahan air matanya untuk tak jatuh, Zulfikar yang melihat itu langsung mengusap air mata Ibunya.
"Ibu jangan ngomong gitu! Ibu adalah malaikat yang Allah patahkan sayapnya untuk melindungi Zul di muka bumi ini, dan Ibu sangat berharga bagi Zul. Zul sayang Ibu." Zulfikar kembali memeluk Ibunya.
Sepertinya ini saatnya Yulia pergi untuk selama-lamanya, walaupun berat meninggalkan suami dan anaknya namun setidaknya Yulia tenang karena anaknya itu tidak akan terlalu menyusahkan keluarga seperti dulu sehingga dia bisa pergi dengan tenang.
Tiiiitttt
Bunyi menyeramkan itu datang dan membuat Zulfikar kecil kehilangan Ibunya, wanita yang paling di cintainya.
"Yulia!" Mata Wira berbinar, dia segera berlari keluar mencari dokter barusan.
"Ibuuu....." Zulfikar berteriak "bangun Bu! bangun! Zul janji ga bakal nakal lagi Bu! Zul janji ga bakal bikin Ibu sedih lagi, tapi aku mohon bangun Bu! bangun Bu!"
Sekuat apapun Zulfikar berteriak, wanita bernama Yulia Wiratama itu tidak akan kembali bangun untuk mengusap air matanya. Bahkan Zulfikar belum sempat memberitahu Ibunya jika dia sudah bisa menghafal beberapa surah-surah pendek dan ayat qursi yang sering Ibunya bacakan ketika Zulfikar akan tidur.
💦💦💦
Luna hanya bisa memeluk anaknya erat ketika melihat cucunya 'Zulfikar' tak mau meninggalkan pemakaman dimana ibunya di istrirahtkan untuk yang terakhir kali. Anak itu terus-terusan mengaji sambil sesekali mengajak bicara tanah merah yang di atasnya ditaburi bunga mawar, "Ibu dengerin Zul ya! sekarang Zul mau bacain Ayat Qursi buat Ibu," ucapnya seolah berbicara dengan Yulia secara langsung, "dulu kan biasanya ibu yang bacain ini buat Zul kalo Zul mau tidur, meskipun Zul suka nutup kuping." Sedikit tertawa, Zulfikar coba menahan sedihnya, "Sekarang gantian Zul yang bacain Ibu. Ibu mau tidur kan? tapi jangan tutup kuping ya, Bu! suara Zul bagus ko, kan Ibu sendiri yang bilang waktu itu." Sambil terisak Zulfikar kecil mulai melantunkan bacaan ayat qursi dengan bacaan yang belum sepenuhnya fasih.
"Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qoyyum ...."
Belum selesai Zulfikar membacakan ayat Kursi itu, tubuhnya ambruk begitu saja di atas tanah merah. Wira yang panik langsung membopong tubuh Zulfikar ke dalam mobil dan membawanya pulang.
Semenjak Yulia meninggal, Zulfikar tumbuh menjadi anak yang pemurung. Apalagi sejak dia tahu jika Ibunya meninggal karena terkena penyakit TBC, dan yang menyebabkan TBC tersebut karena tekanan batin selama mengurusnya.
"Ibu lu meninggal itu gara-gara lu yang nakalnya kebangetan."
Kalimat yang terlontar dari sepupu Zulfikar itu terus terngiang-ngiang di telinganya dan membuatnya semakin yakin jika dialah penyebab kepergian ibunya.
__ADS_1
Wira yang tidak tahan melihat Zulfikar selalu murung di kamar setiap hari, akhirnya dengan berat hati meminta Hasan dan Istrinya untuk kembali membawanya ke desa dengan harapan agar dia bisa kembali ceria seperti dulu dengan teman-teman di desa, dan semenjak itu Zulfikar tinggal di desa sampai menyelesaikan S2 nya. Tumbuh menjadi seorang dosen muda yang sukses dengan karirnya.