Amanah & Cinta

Amanah & Cinta
Amanah & Cinta (012)


__ADS_3

Seminggu setelah kepergian Hamidah, Naysila terus mengurung dirinya di dalam kamar. Untuk sekedar makan saja Aisyah harus bersusah payah membujuknya.


"Nay, makan dulu!" ucap Aisyah lembut, "udah seminggu ini kakak jarang banget liat kamu makan," lanjut Aisyah. Namun usahanya lagi-lagi gagal, karena sang adik hanya menggelengkan kepala serta menutup rapat-rapat mulutnya.


Semenjak kepergian Hamidah, Naysila memang berubah menjadi pendiam. Menjadi anak bungsu, tentu membuat Naysila menjadi anak yang lebih baper di antara yang lainnya. Orang tuanya yang selalu memanjakan dirinya sejak kecil, membuat dia tumbuh menjadi pribadi yang mudah menangis dan mudah terbawa suasana. Seperti hari ini, dia gcdjgshbh


Aisyah sudah selesai merapikan tempat yang biasa di pakai tahlilan. Dia beralih merapikan beberapa pakaian miliknya dan juga anak-anaknya. Seminggu sudah dia menginap di rumah orang tuanya, sekarang dia harus pulang. Kasihan kedua anaknya yang harus berangkat lebih pagi ke sekolah karena jarak sekolahnya menjadi lebih jauh di tempuh.


Aisyah sekarang akan pamit pada Bapak dan adiknya. Dia berjalan melewati ruang tamu menuju kamar Naysila.


Langkah Aisyah terhenti ketika melihat seorang laki-laki yang mengenakkan baju koko lengkap dengan sarung dan peci hitam di kepalanya tertidur di sofa dengan posisi yang sepertinya sangat tidak nyaman.


"Sepertinya Zulfikar sangat kelelahan setelah seminggu ini tahlilan, dia pasti kurang tidur," cicit Aisyah lalu melanjutkan langkahnya ke kamar Naysila.


Aisyah mendapati adiknya sedang duduk di depan cermin rias sambil terus menatapi bingkai fhoto berukuran 10x10. Disana ada gambar seorang wanita lengkap dengan kerudung yang di balut sederhana, membuat siapapun yang menatapnya melihat keteduhan di sinar matanya.


"Nay." Aisyah memanggil Naysila dengan lembut, membuat wanuta itu terperanjat dari lamunannya, namun tetap mempertahankan tubuhnya.


"Hmppp," jawab Naysila tanpa mengalihkan mengalihkan tatapannya.


"Kak Ais harus pulang." Aisyah memegang pundak adiknya.


Mendengar ucapan Aisyah, Naysila buru-buru menaruh bingkai di atas nakas lalu beralih menatap kakaknya.


"Kenapa buru-buru sekali?" protes Naysila, "Kak Ais, kan bisa nginep disini beberapa hari lagi!" Wajah Naysila terlihat tidak setuju.


Aisyah menggeleng pelan sambil tersenyum lalu duduk di samping Naysila, "kasihan Rizki sama Feby, mereka tiap hari mengeluh capek katanya, sekolahnya kejauhan kalo dari sini."


"Nay, bisa antar jemput mereka kok kalo mau." Naysila berusaha merayu.


Aisyah menggelengkan kepalanya kembali "tidak perlu! kami pulang saja ... lagipula acara tahlilan di rumah kan sudah selesai," lanjutnya, "tapi tenang saja, nanti kakak sama keponakan kamu bakal sering-sering main kesini kok."


"Tapi Kak, Nay bakalan makin sepi donk disini kalo gak ada Kakak sama anak-anak."


"Siapa bilang?" tanya Aisyah, "ada Bapak kan di rumah? kamu bisa bawa jalan-jalan Bapak keluar! kasihan bapak setiap hari ngelamun terus."


Mendengar kata Bapak, Naysila mendadak bad mood.


"Nay gak mau!" ucap Naysila sambil melipat kedua tangan di dadanya, "biarin aja Bapak ngerasain gimana rasanya kehilangan ibu."

__ADS_1


"Astagfirullah." Aisyah menghela nafas panjang, "jangan begitu! biar bagaimanapun, dia bapakmu!" lanjut Aisyah.


Tak ada jawaban lagi dari Naysila. Aisyah yakin adiknya itu memang sudah sangat kepalang tanggung membenci ayahnya, sehingga akan sulit dirayu sedemikian rupa apapun. Naysila ya tetap Naysila. Dia tetap keras kepala.


"Yasudah, kalo gitu Kak Ais, pulang dulu ya! kasihan Rizky sama Feby sudah nungguin di luar."


Naysila kembali fokus pada wajah Kakaknya, setelah topik tentang ayahnya itu berganti.


"Yasudah kalo emang itu mau Kakak," sahutnya pasrah, "tapi janji ya! nanti sering-sering main ke rumah!" pinta Naysila manja.


Aisyah mengangguk lalu memeluk adik kesayangannya itu, "Iya, Nay."


Aisyah berjalan lebih dulu, sementara Naysila mengekor dibelakangnya.


Aisyah yang sudah sampai di pintu kamar Naysila kembali membalikkan badannya "Nay."


"Iya kenapa, Kak? apa ada yang ketinggalan?" tanya Naysila, Aisyah menggeleng.


"Jangan lupakan kewajibanmu ya!"


Apa yang di maksud Kak Aisyah? kewajiban apa maksudnya?


Meskipun Naysila sudah terbawa kebiasaan dan gaya hidup wanita moderen namun dia tidak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslimah dia selalu shalat 5 waktu walau kadang sering tak tepat waktu.


"Maksud Kakak, Sholat?"


Aisyah menggeleng-gelengkan kepalanya lalu kembali mendekat dan memegang kedua tangan adiknya, "bukan yang itu!".


"Terus apa?" tanya Naysila dengan polosnya.


"Kamu harus ingat, jika sekarang kamu sudah berstatus sebagai istri! Jangan lupakan tugas dan kewajibanmu!"


Istri?


Kewajiban?


Aisyah menuntun mata Naysila menatap keluar pintu kamar. Terlihat jelas Zulfikar yang masih tertidur pulas dengan raut wajah lelahnya. Naysila mengikuti arah mata Aisyah, dia baru ingat kalau dia sudah berstatus seorang istri, bagaimana bisa dia lupa dan laki-laki disana itu ... adalah suaminya.


Naysila menelan salivanya susah payah, kalau saja waktu bisa di ulang mungkin dia tidak akan meminta laki-laki itu untuk menikahinya, dan kalo bukan karena permintaan Ibunya Naysila tidak akan sudi menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak di cintainya itu.

__ADS_1


"Ahhh i_iya, Kak," jawab Naysila canggung.


"Yasudah, Kakal pulang dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam,"


***


Setelah mengantar sang kakak sampai pintu gerbang, Naysila kini sudah berdiri tepat di hadapan laki-laki yang seminggu lalu menjadi suaminya.


"Ckk," Naysila berdecak, "hey!" Naysila berusaha membangunkannya dengan menarik pelan tangannya namun tidak ada respon ternyata.


"Duhhh, gimana ini?" umpatnya kesal, "lagian ngapain sih, tidur bukannya di kamar malah di sofa," gerutunya kesal. Dia mencibirkan bibirnya karena malas pagi-pagi sudah dibuat bad mood.


Jangan salahkan Zulfikar!


Sebenarnya Zulfikar bukan sengaja tidur di sofa. Semenjak menikah, Naysila tidak pernah sekalipun memperhatikannya. Jangankan untuk mengajak di tidur di kamar berdua, menawarkan segelas air putih saja tidak. Zulfikar yang mengerti kondisinya saat itu hanya berusaha sabar dan menunggu kesadaran dari istrinya itu.


Merasa ada suara orang mendecak kesal Zulfikar perlahan membuka matanya.


"Astagfirullah," Zulfikar kaget dengan kehadiran Naysila di hadapannya yang secara tiba-tiba.


"Biasa aja kali, kaya ngeliat setan aja," Ketus Naysila, "kalo mau tidur tuh di sana! jangan disini. Disini tempat duduk, bukan tempat tidur." omel Naysila sambil menunjuk sebuah kamar di samping kamar miliknya.


Setelah Aisyah benar-benar pergi, Naysila berinisiatif memberikan sebuah kamar bekas Kak Aisyah itu, sebagai kamar sementara suaminya itu.


Kamar itu dulu pernah di tempati Aisyah dan suaminya sebelum mereka pindah ke rumah barunya di desa sebelah.


"Loh, bukannya kamar kamu itu yang sebelahnya ya?" sahut Zulfikar.


Meskipun belum pernah masuk kamar istrinya, tapi Zulfikar tau mana kamar istrinya karena terpampang jelas di pintu kamar itu tulisan 'Kamar Cewek Cantik' di sambung dengan sebuah gantungan yang terbuat dari kayu di bawahnya, 'Naysila'. Jadi, Zulfikar yakin benar jika kamar istrinya itu adalah kamar pertama, bukan yang ditunjuk tadi olehnya.


"Loh emangnya kenapa?" tanya balik Naysila dengan wajah tak suka.


Melihat sikap Naysila yang seperti itu, Zulfikar menggelengkan kepalanya, lalu bangun dari sofa, "Gpp kok. Yasudah, saya istirahat dulu," ucapnya terdengar sedikit nada kekecewaan. Ia kecewa karena ternyata sikap Naysila jauh dari harapannya.


"Iya, silahkan." Naysila mempersilahkan.


Zulfikar meninggalkan istrinya yang masih berdiri di belakangnya, sepertinya Naysila juga masih memperhatikan dirinya.

__ADS_1


Sejak kapan kamar suami dan istri itu terpisah?


__ADS_2