
Hanifah yang mengetahui Naysila pulang kampung, langsung menghubungi anak yang di cap Bu Toyib itu untuk ketemuan di salah satu kafe langganannya waktu sekolah dulu.
Bagaimana Naysila tidak di cap Bu Toyib, jika dalam setahun saja bisa dihitung berapa kali Naysila pulang kampung. Padahal jarak antara kota dan kampung kelahirannya tidak memerlukan waktu yang begitu lama. Hanya sekitar empat jam saja itu pun sudah paling lama beserta macet dan antek-anteknya.
Hanifah langsung menyambut dan mencium pipi Naysila kiri dan kanan begitu sahabatnya itu datang. "Wih, makin cantik aja kamu Nay sekarang,"
Naysila berputar-putar bak model sambil mengibas-ngibas rambut di depan sahabatnya.
"Gila sumpah modis banget." Hanifah benar-benar takjub dengan penampilan sahabatnya yang sudah hampir setengah tahun itu tidak berjumpa.
"Heeeee, makasih loh Fah. Tapi ini bukan karena kamu minta traktiran kan?" Naysila langsung duduk di kursi yang kosong di samping Hanifah.
"Hishhhh ya ngga lah. Tapi kalo kamu mau traktir, aku sih ikhlas, hahaha," gelak tawa Hanifah mengisi kafe yang sedikit ramai itu, "aku sempet ragu kamu mau ketemu aku," lanjut Hanifah, "aku kira kamu udah lupa sama aku."
"Mulai deh lebatnya kumat." Celetuk Naysila.
"Ya abis kamu sibuk banget kayaknya di kota, ga pernah pulang, Bang Toyib mah lewat di bandingin sama kamu."
"Sesibuk sibuknya, aku ga bakal lupa sama sahabatku." Jawab Naysila lalu meraih gelas minuman berisi jus jeruk di depannya.
Wajah Naysila berubah muram ketika dia selesai meneguk jus jeruk yang sudah di pesankan hanifah sebelumnya itu.
"Kenapa tuh muka? asem amat." Hanifah memandang heran Naysila.
"Pusing aku." Naysila mengacak-acak rambutnya frustasi. Pagi ini mood nya sudah hancur karena pertanyaan tentang menikah yang lagi-lagi membuat dia malas.
"Kenapa lagi sih, Nay? Bos kamu marah-marah lagi? Atau jangan-jangan si Farhan bikin ulah lagi?"
"Ngga." Naysila memutar bola matanya malas.
"Terus kenapa?"
Naysila tiba-tiba menaruh kedua tangannya di atas meja lalu menatap Hanifah erat-erat, dan Hanifah di buat heran dengan tingkah laku sahabatnya itu.
"Nay, kamu ga kerasukan dedemit kan?" Hanifah sedikit takut melihat sorot mata Naysila yang tak berkedip sedari tadi.
Beberapa detik tak menghiraukan perkataan Hanifah, kini dengan satu tarikan nafas Naysila menjelaskan.
"Kamu tau ga sih hatiku tuh sakit, sakit banget, tiap aku pulang kampung nih ya. Nggak orang tua, sodara-sodaraku, tetangga, temen SD, temen SMP, temen SMA, bahkan nih ya semut-semut aja yang ga kenal sama aku, semuanya tuh ikut ngehakimin. Nanyain kapan Naysila nikah? Emang ga mau apa punya momongan? Gila ga sih? Emang mereka pikir aku gak sakit hati apa ditanyain begitu terus. Sumpah rasanya aku ga mau balik kampung dapet 5 tahun aja. Biar aku pas pulang tau-tau anakku udah bisa lari, biar pada diem tuh orang." cerocos Naysila dengan benar-benar tak memberi Hanifah jeda untuk berbicara.
"Astagfirullah," Hanifah menggeleng-gelengkan kepalanya, "hati-hati loh kamu tuh kalo ngomong! ucapan adalah do'a." Tegur Hanifah.
"Abis aku esmosi." Jawab Naysila kesal sambil menjatuhkan wajahnya di atas tangannya yang ia lipat di atas meja.
"Emosi Nay." Koreksi Hanifah.
__ADS_1
"Mba," Hanifah mengangkat tangannya, memanggil seorang pelayan.
"Whatever lah, pokoknya aku kesel banget. Pagi ini aja Ibu sama Kak Aisyah udah bikin aku bad mood aja nanyain hal yang sama," kata Naysila, "cuma kamu doank yang ngerti perasaan aku." Naysila menatap Hanifah erat dengan wajah yang sedikit memilukan.
Pelayan datang tepat setelah Naysila bicara.
"Ada yang bisa saya bantu, Kak?" Tanya pelayanan itu sopan.
"Saya pesan gurame bakar, sama sop iganya 2 ya!" Ucap Hanifah pada pelayan itu.
"Baik, Kak. Itu saja?"
Hanifah menatap Naysila. "Nay, kamu mau ada tambahan lagi gak?"
"Nggak usah, Fah. Itu aja!" Jawab Naysila seperlunya.
"Oke," Hanifah kembali pada pelayan, "itu aja Mba, katanya."
"Oke. Silahkan ditunggu kak!" Ucap pelayan itu sopan.
Setelah pelayan itu pergi, Hanifah kembali fokus dengan sahabatnya.
"Ibu sama Kaka kamu ngomong kaya gitu karena mereka sayang sama kamu, Nay. Mereka gak mau kalo kamu jadi parko." Jelas Hanifah.
"Kok kamu ngomongnya gitu sih? kamu aja belum nikah sampe sekarang dan aku lihat orang tua kamu masih santai santai aja, ga kaya keluargaku udah kayak kebakaran jenggot."
Hanifah hanya menarik nafas panjang dan tidak menjawab pertanyaan Naysila
Hanifah mengambil sebuah kertas berbentuk persegi dari dalam tas nya
"Nay,"
"Hmmmmppp" Naysila menatap hanifah yang berubah serius.
"Sebenernya ... "
"Kenapa, Fah? Ko kamu jadi tegang banget sih?"
Hanifah memejamkan matanya sesaat.
"Sebenernya ... Tujuan aku ngajak kamu ketemuan disini, aku mau ngasih ini." Hanifah menyodorkan sebuah surat undangan yang bertuliskan :
Undangan pernikahan
👩❤️👨
__ADS_1
**Agus Bramantyo
&
Hanifah Lestari
💝
Ahad, 10 Oktober 2018**
Naysila mulai membuka dan membaca siap detail tulisan yang ada di kertas itu, setelah selesai di baca Naysila beralih menatap wajah Hanifah yang menunduk sambil menggigit bibir bawahnya.
"Kamu lagi ga ngeprank aku kan?"
Hanifah menggeleng-gelengkan kepalanya.
Naysila meletakkan kembali surat berwarna merah muda itu di atas meja, "Selamat ya, Fah. Semoga semuanya di lancarkan, aku ikut senang."
Hanifah sebenarnya berat mengatakan ini semua, pasalnya hanifah pernah berjanji kalo dia akan menikah setelah Naysila mendapatkan pacar baru supaya dia tidak kesepian. Tapi jodoh berkata lain, kekasih Hanifah ingin pernikahan mereka segera di langsungkan karena calon suaminya tiba-tiba di pindahkan kerjanya ke luar kota.
"Maafin aku ya, Nay. Aku gak bisa nepatin janjiku, sebenernya aku juga udah bilang sama mas Ag..."
"Gpp, Fah. Kamu gak usah minta maaf gitu kali. Aku seneng kok, kalo Agus si muka bantal itu akhirnya nikahin kamu juga." Naysila tertawa tapi garing terdengarnya. Mungkin karena kesan terpaksa.
"Ish masih aja kamu ngeledekin dia, dia calon suami aku tau." Hanifah mencoba mencairkan suasana.
"Hahaha iya sori-sori."
"Nay,"
"Hmppp,"
"Sepertinya ini bakal jadi meet up terakhir kita deh, soalnya setelah nikah nanti aku ikut suami dan palingan pulang setahun sekali itupun kalo dia dapet jatah libur lebaran, kamu tau sendiri kan kerjaan Agus gimana." Hanifah menatap sedih wajah Naysila. Memang seperti ini rasanya ketika harus melepaskan sesuatu hal yang terbiasa kita jalani demi kehidupan yang baru.
"Oh .. Iya gpp, aku ngerti ko. Yaudah aku ga mau sedih-sedihan! ini kan meet up terakhir kita. Aku mau hari ini kita Happy okey." Meminta Hanifah untuk tidak bersedia, tak sadar malah Naysila yang menjatuhkan air matanya yang sontak saja membuat Hanifah merasa bersalah.
"Nay.... Maafin aku!" Ucap Hanifah merasa bersalah.
"Ish astaga ini mata gak tau malu banget." Naysila menyekka air matanya lalu tertawa dan di ikuti dengan tawa dari Hanifah.
*Aku ikhlas demi liat kamu bahagia Fah, meskipun jauh di lubuk hatiku, aku sedih karena harus ngerelain kamu.
Bukankah sejatinya sahabat memang harus seperti itu* :)
Naysila Putri
__ADS_1